
Author POV
Yoga mengikuti langkah kaki Tirta yang terlihat begitu terburu-buru dan sesekali melirik tajam ke arah Yoga yang mengikuti langkahnya dari belakang. Mereka menuruni anak tangga pintu darurat rumah sakit.
Langkah Tirta berhenti, membuat Yoga yang berjarak lumayan jauh darinya juga ikut berhenti perlahan. Tirta menoleh ke belakang dan langsung menatap Yoga dengan tajam.
"Apa yang kamu mau dengan mendekati Rasti, dia bahkan lebih pantas di sebut sebagai keponakan mu kan?" tanya Tirta langsung pada poin yang paling penting.
Yoga terlihat sangat terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh Tirta.
"Aku rasa kamu sudah salah paham, aku dan Rasti saling menyukai. Aku tidak menginginkan apapun darinya...!"
"Pembual!" pekik Tirta menyela ucapan Yoga.
Tirta benar-benar terlihat sangat kesal. Rasanya dia tidak ingin mendengarkan satu kata pun dari mulut Yoga karena apa yang sudah ibunya lakukan dan katakan pada Rasti hingga kondisi adiknya bisa seperti itu.
Yoga yang mengerti perasaan Tirta juga tidak banyak membantah. Dia tidak ingin berdebat, dia hanya ingin bicara baik-baik pada Tirta.
"Aku tahu kamu pasti masih marah dan kesal atas apa yang ibu ku katakan padamu dan Rasti, tapi percayalah seperti apapun masa lalu Rasti aku akan menerimanya. Aku mencintai Rasti dengan tulus. Sebelum mencintai nya aku pun tidak mengharap apapun darinya, bahkan aku pun tidak berharap dia membalas perasaan ku dan memiliki perasaan yang sama dengan ku!" jelas Yoga berusaha bicara dengan pelan namun terdengar tulus dan juga tegas.
Tirta yang mendengarkan penjelasan Yoga pun berangsur mulai dapat meredam emosinya. Tirta yang awalnya mengepalkan tangannya dengan kuat, mulai membuka kepalan tangan nya itu dan mulai menghela nafasnya panjang.
"Aku yakin Rasti hanya kurang beruntung di masa lalunya, dan di masa depan nanti. Aku yang akan membawa keberuntungan itu pada Rasti!" tegas Yoga.
Dari suaranya dan dari sikap nya saat mengatakan kalimat itu, Yoga seperti sangat yakin akan mampu membahagiakan Rasti.
Tirta malah terkekeh saat mendengar apa yang Yoga katakan.
"Benarkah? bagaimana mungkin adik ku bisa bahagia di tengah orang-orang yang akan terus membuat hidupnya tidak tenang, apa kamu sadar kalau ibu mu bahkan tidak mau mendengar penjelasan Rasti. Dia mengira Rasti itu perempuan tidak baik, tidak bermoral. Bagaimana kamu akan membela Rasti dari ibu kandung mu sendiri?" tanya Tirta dan pertanyaan Tirta ini benar-benar mampu membuat Yoga terbungkam.
Yoga menghela nafasnya sebelum berjalan maju dan mendekati Tirta.
__ADS_1
"Aku bahkan sudah memutuskan untuk tidak menginjakkan kaki ku lagi di rumah ibu ku." lirih Yoga, dia mengatakan kalimat dengan wajah yang tertunduk.
Tirta melihat ke arah Yoga, dia juga terkejut mendengarkan apa yang baru saja Yoga katakan. Tirta mulai merasa kalau Yoga memang benar-benar menyayangi Rasti. Sikap Tirta perlahan melunak.
Mereka terdiam dalam beberapa saat, lalu Yoga yang mulai menyadari kalau Tirta mulai percaya padanya, mengangkat kepalanya dengan tegas.
"Percayalah padaku, tapi apakah aku boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yoga pada Tirta.
Namun pertanyaan Yoga membuat kening Tirta mengernyit. Melihat ekspresi wajah Tirta itu, Yoga langsung menjelaskan maksudnya, dia tidak mau kalau Tirta kembali kesal akibat salah paham pada Yoga.
"Aku harap kamu tidak salah paham, aku ingin tahu hal itu karena aku tak ingin suatu saat aku membahas sesuatu yang salah di depan Rasti, yang akan membuat Rasti ingat pada masa lalu yang dia ingin lupakan!" jelas Yoga.
"Rasti bahkan tidak akan pernah ingat masa lalunya!" ucap Tirta dengan suara yang bergetar.
Tirta seperti menahan kesal dan kesedihan yang begitu mendalam dalam hatinya. Dia menunduk sekilas lalu kembali menatap dalam ke arah Yoga.
Dan Yoga yang mendengar pernyataan dari Tirta terkesiap.
"Rasti amnesia?" tanya Yoga karena hanya hal itu yang terpikirkan oleh Yoga.
"Bukan, bukan amnesia!" bantah Tirta.
Yoga menunjukkan wajah yang serius, sepertinya Tirta akan segera menceritakan semua hal tentang masa lalu Rasti padanya. Dan benar saja, setelah terdiam beberapa saat, Tirta mulai bicara.
"Rasti memang sengaja di sugesti untuk melupakan sepenggal ingatan masa lalunya, ingatan dimana hanya ada tangisan dan rasa sakit di sekujur tubuhnya...!" Tirta menjeda apa yang ingin dia katakan pada Yoga.
Mata Tirta mulai berkaca-kaca, hati Tirta kembali pada masa itu, dimana dia juga bisa merasakan segala kesakitan Rasti hanya dari suara tangisan adiknya itu, hanya dari suara rintihan Rasti kala itu.
"Rasa sakit di sekujur tubuh?" tanya Yoga yang makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Rasti.
Tirta mengangguk, dan saat dia melakukan itu. Air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya pun jatuh. Tirta bahkan sampai berjongkok, karena dia begitu tidak bisa menceritakan kembali kisah kelam yang terjadi pada Rasti.
__ADS_1
Yoga begitu penasaran,
'Ini pasti bukan hal yang kecil, sampai seseorang seperti Tirta begitu sedih seperti ini!' batin Yoga.
Yoga yang mulai terpengaruh dan ikut sedih karena melihat ekspresi yang di tunjuk kan oleh Tirta, akhirnya ikut berjongkok di depan Tirta.
"Maafkan aku Tirta, kalau memang terlalu sulit untuk mu menceritakan tentang Rasti, maka aku tidak akan...!"
"Rasti di siksa oleh ibu kandungnya sendiri!" ucap Tirta yang membuat Yoga membelalakkan matanya lebar.
Yoga terdiam, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tirta. Dia tidak percaya di dunia ini ada ibu yang akan tega menyiksa anak kandungnya sendiri.
"Di siksa... ibu kandung?" Yahya Yoga syock.
"Aku bukan lah kakak kandung Rasti, ibu ku, Rita Sugianto itu bukan ibu kandung Rasti!" jelas Tirta.
Tirta terdiam setelah mengatakan itu, Yoga bahkan masih sangat terkejut. Tirta merubah posisi nya menjadi duduk bersandar dinding dengan menekuk lutut kanannya dan meluruskan kaki kirinya.
Yoga ikut duduk di sebelah Tirta, ikut menyandarkan punggungnya di dinding, tapi menekuk kedua lututnya dengan jarak yang cukup jauh.
Tirta mulai menceritakan tentang kejadian dimana Rasti harus di bawa ke rumah sakit lalu ke psikiater.
"Bahkan melihat ayahnya sendiri pun, Rasti akan menjerit ketakutan. Setiap mendengar suara seorang perawat wanita, dia akan menangis dan histeris. Rasti sangat ketakutan, Ibu kandungnya bukan hanya merusak dan menyiksa tubuh Rasti, tapi perempuan jahat itu juga telah merusak jiwa Rasti!" Tirta berusaha untuk tetap bercerita meskipun sambil menahan amarah.
"Rasti harus di rawat beberapa bulan di rumah sakit, hampir setengah tahun. Dan segala macam obat telah di berikan untuk mengurangi depresi dan trauma Rasti yang bahkan belum genap berusia tujuh tahun. Karena itu tubuhnya...!" Tirta tak sanggup lagi melanjutkan ceritanya.
Dia menunduk dengan air mata yang sudah banyak sekali mengalir. Yoga menepuk bahu Tirta untuk menenangkan Tirta. Padahal hatinya juga sedang berkecamuk.
'Bagaimana mungkin seorang ibu kandung melakukan hal seburuk itu pada anak kandungnya sendiri!' batin Yoga benar-benar tak percaya.
Author POV end
__ADS_1
***
Bersambung...