
Aku membuka mataku perlahan, aku melihat ke langit-langit kamar ini. Dan ini bukanlah kamar ku. Aku segera bangkit dan duduk di tepi tempat tidur yang juga bukan tepat tidur ku. Aku mengusap wajah ku dengan pelan. Aku mengingat kembali kejadian tadi, ketika aku menangis dan memeluk pak Yoga.
Aku rasa aku sudah tidak waras karena menyukai pria yang sebentar lagi akan menjadi suami orang. Aku tidak boleh bersikap seperti ini, tapi sikap pak Yoga tadi juga membuat ku salah paham.
Aku menyentuh kening ku, masih sangat jelas terasa ketika pak Yoga mengecupnya dengan begitu lembut tadi. Aku rasanya benar-benar ingin menangis, bagaimana ini. Apa pak Yoga juga menyukai ku, tapi itu tidak mungkin.
Aku menggeleng kan kepala ku berulang kali, mengusir semua pikiran dan ingatan yang terjadi tadi. Aku bahkan langsung melihat ke arah baju yang aku pakai. Rasanya benar-benar ingin menangis.
"Tidak boleh seperti ini, sama sekali tidak boleh. Aku harus menjauhi pak Yoga, aku tidak boleh merusak hubungan orang. Aku selalu marah dan kesal atas apa yang dilakukan oleh Rita Sugianto itu pada ayah dan ibu ku, aku tidak ingin jadi perempuan seperti dia, perusak hubungan orang lain!" gumam ku penuh dengan amarah.
Aku bangkit, dan bergegas berjalan keluar dari dalam kamar. Seperti nya ini sudah malam, aku lihat pintu masih terbuka, dan di luar sudah gelap. Aku tidak perduli lagi dengan seragam ku. Aku langsung meraih tas ransel ku dan bergegas keluar.
"Rasti!" panggil pak Yoga yang baru saja dari luar.
Dia memandang ke tas ransel ku.
"Kamu mau pulang, saya antar ya?" tanya nya menawarkan bantuan.
Aku memandang nya, hati ku sebenarnya sedih sekali. Tapi semakin aku dan dia dekat begini, maka aku takut kalau nantinya aku tidak akan mampu menjauhi nya.
"Gak usah pak, dan mulai sekarang saya minta bapak jangan perduli lagi sama apapun yang saya lakukan, kalau perlu bapak pura-pura saja tidak pernah mengenal...!" ucap ku tanpa menatap ke arah pak Yoga.
Tapi aku tidak dapat melanjutkan kalimat ku karena pak Yoga memegang kedua lengan ku dengan kuat.
"Ada apa Rasti, saya minta maaf karena tadi telah...!"
"Benar! dan apa yang sudah bapak lakukan tadi membuat saya sangat membenci bapak, saya benci!!" seru ku lalu mendorong pak Yoga dan berlari keluar dari pagar.
Aku terus berlari, aku tak kuat lagi membendung tangis ku. Dan aku tak ingin pak Yoga melihat ku menangis. Setelah cukup jauh, barulah aku menumpahkan semua rasa sakit dalam hatiku. Aku sungguh tak ingin bicara kasar seperti tadi pak Yoga, aku pasti telah menyakiti hatinya. Tapi aku juga tidak ingin menyakiti calon istrinya.
'Kenapa harus begini? kenapa pertama kalinya aku menyukai seseorang, dia adalah calon suami orang lain?' tanya ku dalam hati sambil melihat ke arah langit.
Aku butuh waktu lima belas menit untuk menghentikan tangis. Setelah itu aku kembali menuju ke halte, menaiki angkutan umum untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Aku turun dari angkot ketika sampai di depan gang komplek perumahan. Aku berjalan dengan lunglai, rasanya kaki ku ini berat sekali di angkat dan diajak melangkah.
Yoga Adrian POV
Aku masih berdiri mematung di tempat, dimana tadi Rasti mendorong ku dan meninggalkan aku. Hatiku rasanya tak menerima apa yang dia katakan. Dia mengatakan agar aku menjauhinya, dia mengatakan kalau dia sangat membenciku atas apa yang aku lakukan tadi.
Aku mengusap kepala ku kasar. Aku menyesal karena tak bisa mengendalikan perasaan ku tadi. Dia sekarang pasti takut padaku, dia bahkan mengatakan kalau belum pernah berpacaran. Aku malah melakukan hal itu.
"Bodoh nya aku!" gumam ku merutuki kebodohan ku.
Aku menghela nafas sangat berat, aku ingin menyusulnya. Tapi pasti dia akan makin marah lagi. Dan dalam kondisinya yang seperti ini pasti dia tidak akan mau bicara padaku.
"Aku akan bicara padanya besok!" gumam ku lagi dan masuk ke dalam rumah.
Yoga Adrian POV end
Aku membuka pintu kabar, karena sedari tadi aku menunduk maka aku tidak memperhatikan sekeliling ku, dan tiba-tiba..
"Darimana aja lu, jam segini baru balik?" bentak seseorang yang aku hafal betul suaranya.
'Huh, gerandong nyasar. Ih males banget sih berdebat sama dia. Bodok amat lah!' batin ku.
Aku tidak menghiraukan nya dan langsung masuk ke dalam, tapi sebelum kakiku masuk sepenuhnya, dia malah menarik lengan ku dengan kasar.
"Aduh, lu tu apaan sih? Sakit tahu!" pekik ku dan mencoba melepaskan tangannya dari lengan ku dengan tangan ku yang satu lagi yang masih bebas.
"Lepasin, kalo gak gue bakal teriak ya. Biar orang-orang komplek pada ngumpul!" gertak ku pada Tirta.
Dia malah tak bergeming sama sekali.
"Gue gak perduli, biar mereka juga tahu. Pas gak ada bokap, lu malah keluyuran gak jelas. Dan pulang malem kayak gini!" balas nya menggertak ku balik.
Aku mendengus kesal.
__ADS_1
"Bukan urusan lu!" pekik ku lagi bahkan memasang wajah yang tidak bersahabat sama sekali.
Dia malah melihat ku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Baju siapa yang lu pakai?" tanya nya curiga.
"Gue udah bilang bukan urusan lu!" bentak ku
Aku sudah berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan nya dari lengan ku tapi tetap tidak berhasil.
"Gue bakal telpon bokap dan kasih tahu semua ini kalo lu gak ngomong lu dari mana!" gertak Tirta lagi.
Aku yang sekarang malah sedikit gugup, bagaimana kalau ayah marah. Lalu memangkas habis uang jajan ku.
"Ya udah gue jawab, tapi lepas dulu. Tangan gue sakit!" seru ku.
Dia tidak langsung melakukan apa yang aku katakan, dia menilik tajam ke arah ku. Sepertinya dia sedang memastikan kalau aku tidak akan kabur setelah dia melepaskan lengan ku.
"Gue lepas, lu jawab jujur lu darimana?" tanya nya dan aku segera mengangguk. Aku juga tak mau lama-lama berurusan dengannya disini.
Dia melepaskan tangannya tapi dia pindah posisi ke depan pintu, menghalangi jalan ku masuk ke dalam.
"Gue tadi dari sekolah, terus les tambahan. Tapi pas mau ke tempat les gue kehujanan. Gue gak mungkin belajar dengan baju basah kuyup, ini baju guru les gue!" jelas ku pada Tirta.
"Les tambahan? dimana?" tanya nya sambil memegang dan mengusap-usap dagunya.
"Ih kepo banget sih lu, udah ah gue laper mau makan! Minggir lu!" seru ku kesal.
"Sama siapa les nya?" tanya nya lagi.
"Kepo lu!" seru ku lalu mendorong nya ketika dia sedang tidak siap. Dan aku berlari masuk ke dalam rumah.
***
__ADS_1
Bersambung...