Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Antar Jemput Sekolah.


__ADS_3

Tirta POV


Aku masih melirik ke arah gadis yang masih terus menatap ku dengan tatapan kesal. Dia pastinya tidak pernah menyangka sebelum nya jika ketika di membuka pintu kamarnya dan akan kabur lagi seperti kemarin, dia akan lebih dulu melihat ku sebelum bisa melakukan itu.


Tadi malam, aku sempat berdebat kecil dengannya. Karena aku bersikeras mengantarnya dan juga memintanya untuk les tambahan di rumah saja. Dia bahkan tidak menghabiskan makanan nya semalam.


Dan setelah dia masuk ke dalam kamarnya semalam, aku langsung menemui bibi. Aku yakin bibi tahu dia berangkat jam berapa di pagi hari. Sebab saat aku bangun dan mencarinya, kata bibi dia sudah berangkat pagi-pagi sekali.


Aku berinisiatif untuk bertanya jam berapa dia keluar dari dalam kamarnya. Tapi bibi tidak tahu pasti, karena saat itu dia sedang berada di teras belakang menjemur pakaian yang telah dia cuci sebelumnya. Tapi bibi mengatakan, jika Rasti keluar rumah jam enam kurang.


Aku langsung memutuskan untuk bangun lebih awal, dan juga bersiap lebih awal. Tepat setengah enam pagi aku sudah berada di depan pintu kamar Rasti. Dan hasilnya adalah seperti sekarang, dia menatap ku dengan raut wajah kesal.


"Minggir lu, gue mau sarapan!" ketus nya lagi.


Aku memiringkan tubuh ku, memberinya akses untuk dapat melewati ku. Dia berjalan dengan cepat, tapi aku langsung menyusulnya.


Dia berjalan ke arah meja makan, aku pun sama. Saat dia duduk, aku juga melakukan hal yang sama dengan nya. Pagi ini bibi sudah menyiapkan sarapan, karena semalam aku sudah memintanya membuat sarapan agar Rasti tak hanya minum susu coklat saja saat keluar dari rumah.


"Gue mau berangkat sekolah sendiri!" seru Rasti sambil mengunyah nasi goreng buatan bibi.


Aku meliriknya dengan tajam, dan apa yang aku lakukan itu seperti nya membuat nyali nya menciut.


"Bisa gak, lihatin nya biasa aja!" protesnya padaku, seperti nya dia merasa kikuk karena tatapan tajam ku padanya.


Tapi entah kenapa aku suka sekali ketika dia ketus seperti ini, ketus tapi tetap mau bicara padaku. Sebenarnya aku memang sudah menganggap nya seperti adik kandung ku sendiri, aku tahu Rasti ini sebenarnya adalah gadis yang baik. Hanya saja kebencian nya karena salah paham pada ibu ku membuatnya juga salah paham padaku dan juga ikut membenciku.


Padahal ibu ku tak pernah melakukan apapun yang dia pikirkan itu. Ibu tidak pernah merebut ayah Rudi dari ibu kandung nya Rasti. Tapi jika dia mengetahui kenyataan yang sebenarnya maka orang yang paling dia benci adalah ibu kandung nya itu.


Itulah sebabnya Ibu ku tak pernah mengijinkan aku ataupun ayah Rudi mengatakan yang sebenarnya pada Rasti. Ibu hanya tidak ingin Rasti membenci ibu kandungnya, ibu selalu bilang jika surga Rasti tetaplah pada ibunya, meskipun sebenarnya surga nya itulah yang telah meninggalkan nya.


"Emang susah banget ya, cuma jadi anak penurut gitu susah banget ya?" tanya ku mencoba bicara pada Rasti.

__ADS_1


Dan dia malah memalingkan wajahnya, aku harus menghela nafas panjang karena sikapnya yang selalu seperti ini, membuat orang geram saja.


"Bokap bilang kalau lu gak nurut sama gue, dia bakalan potong uang jajan lu 40 persen!" seru ku menggertak nya. Padahal itu tidak ada sama sekali dalam percakapan aku dan ayah Rudi semalam.


Semalam ayah Rudi menelpon dan menanyakan kondisi kami. Aku mengatakan semuanya, dia yang berangkat subuh demi menghindari ku mengantarnya ke sekolah. Lalu dia yang pulang terlambat karena ikut les tambahan. Ayah Rudi bilang jika aku harus bisa meyakinkan Rasti untuk bersedia di antar jemput, demi keselamatan nya dan juga demi mendekat kan hubungan kami.


Ayah Rudi juga meminta agar aku membantu Rasti untuk les dirumah saja, artinya membawa guru les itu ke rumah. Ayah Rudi bilang berapa pun biaya nya dia tidak masalah. Asal Rasti berkembang dalam akademiknya.


"Mana bisa gitu!!" protes nya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Lu pasti ngadu yang gak gak ya sama ayah?" tuduh nya padaku.


Aku sudah tidak terkejut lagi dengan kata-kata nya yang selalu tajam dan segala tuduhan nya padaku. Aku hanya menanggapinya dengan senyum sinis padanya.


"Gak perlu ngadu, ayah juga tahu kelakuan lu itu kayak gimana! udah lah tinggal nurut aja kenapa. Gue anter jemput sekolah, gue bakal ambil kuliah sore, abis jemput lu pulang sekolah. Dan hari ini gue juga bakal nemuin guru les lu itu, buat minta dia..."


"Hari ini dia gak masuk!" sela Rasti.


"Besok juga gak ada dia.."


"Lu bo'ong ya sama gue, atau emang lu gak ada les tambahan!" terka ku hingga membuat Rasti tersedak.


"Uhuukk uhuukk!" dia lalu meraih gelas yang ada di sisi kanannya.


Aku masih menatap nya dengan tajam, aku jadi curiga apakah sebenarnya dia memang tidak ikut les tambahan dan hanya main-main saja di luar sana setelah pulang sekolah.


"Jangan sembarang ngomong ya, gue gak bo'ong. Gue emang les, guru gue tuh mau merid jadi sibuk. Dah ah, kepo banget sih lu, ntar gue yang bilang sendiri ke guru les gue itu!" lanjutnya.


Dan aku terdiam, tumben sekali dia bicara panjang lebar bahkan menjelaskan tentang les nya itu padaku. Kurasa dia memang tidak berbohong. Mungkin saja memang benar kan gurunya itu tidak masuk hari ini. Baiklah aku akan menemuinya besok dan membicarakan les tambahan untuk Rasti.


Kami sudah selesai sarapan, dan meskipun dengan tampang yang tidak enak di lihat karena Rasti terus merengut. Dia tetap saja memakai helm yang aku berikan padanya dan duduk di jok belakang motor ku.

__ADS_1


"Bisa gak sih, beli helm tuh yang gambarnya enak di lihat. Gambar Mickey mouse gitu, atau volkadot gitu yang normal, ini helm gambarnya kuyang. Dasar aneh lu!" protes nya lagi, tapi meskipun begitu dia tetap memakainya di kepalanya.


"Pegangan!" seru ku setelah menghidupkan mesin motor ku.


"Ih, ogah gue...agkkhh!" pekik nya karena aku segera menarik gas kuat membuatnya mau tak mau memeluk pinggang ku.


Setelah keluar dari gerbang rumah, dia memukul punggung ku.


Plakkk


"Lu sengaja ya?" tanya nya kesal.


Aku hanya diam dan mengantarkan nya ke sekolah nya, sepanjang perjalanan menuju ke sekolah dia hanya diam dan aku juga tidak ingin bicara, agar tak terjadi perselisihan di antara kami ketika di perjalanan.


Sesampainya di depan gerbang sekolah, aku berhenti. Rasti turun dan melepaskan helm dari kepala nya.


"Nih, helm kuyang lu!" seru nya sambil mendorong helm itu ke arah ku.


"Jam berapa pulang?" tanya ku.


Dia yang sudah berjalan beberapa langkah pun kembali berbalik.


"Setengah dua!" jawab nya lalu segera berjalan menjauh.


Aku cukup senang, setidaknya dia tidak menolak ku yang akan menjemputnya. Aku bisa mengatakan ini pada ibu, dan aku yakin dia pasti senang mendengar nya.


Tirta POV end


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2