
Aku dan kak Tirta pulang ke rumah, sungguh beruntung sekarang hubunganku dengan kak Tirta sudah membaik, jika tidak aku tidak tahu akan menceritakan pada siapa masalah demi masalah yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Karena kak Tirta tidak hanya membantu, tapi dia juga adalah seseorang yang memberikan aku kepercayaan serta dukungan.
Awalnya pak Yoga bersikeras mengantar ku pulang. Tapi tiba-tiba dia mendapat telepon dan harus segera pergi. Jadi aku pulang bersama dengan kak Tirta.
Sampai di rumah, hari sudah semakin petang, saat kami tiba di rumah ibu Rita terlihat mondar-mandir di teras.
Saat motor yang di kendarai kak Tirta dan aku masuk ke dalam, dia langsung menghampiri kami.
"Tirta, Rasti, kenapa baru pulang? darimana kalian. Ibu cemas sekali tadi Panji kesini nyari kamu, tapi kamu belum pulang Rasti!" ucap ibu Rita yang kecemasan nya tidak hanya ada pada pernyataan nya tapi juga pada raut wajahnya.
Aku turun dari motor kak Tirta dan melepaskan helm yang kupakai di kepala ku. Kemudian, menghampiri ibu Rita. Aku cukup heran dengan kedatangan Panji ke rumah.
"Maaf Bu, tadi itu...!"
"Ban motor Tirta pecah Bu. Jadi nungguin di tambal dulu!" seru kak Tirta menyela apa yang ingin aku katakan.
Aku nyaris saja bicara jujur pada ibu. Untung saja kak Tirta menyela apa yang akan aku katakan, kalau tidak aku khawatir aku akan membuat masalah ini semakin besar dan membuat ayah dan ibu cemas juga terlibat di dalamnya
Ibu langsung mengelus tangan ku lembut.
"Kenapa kamu menunggu Tirta? kan kamu bisa pulang naik taksi, kamu pasti lapar kan Rasti?" tanya ibu dan aku pun langsung mengangguk.
"Ayo masuk, kita makan dulu!" ucap ibu lalu menggandeng lengan ku.
"Tirta juga lapar Bu, gak di ajak masuk juga buat makan?" tanya kak Tirta yang sepertinya sedang merajuk karena sejak tadi ibu hanya bicara padaku dan mengajak ku.
Ibu langsung berhenti dan berbalik melihat ke arah kak Tirta.
__ADS_1
"Ibu kan tadi bilang kita nak, artinya kamu juga! ayo masuk kita makan dulu!" ujar ibu lagi lalu kembali berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku, ibu dan kak Tirta makan bersama. Karena di klinik tadi kak Yoga memang hanya membelikan aku cemilan dan roti isi coklat jadi aku sangat lapar saat ini.
Kak Tirta juga makan dengan sangat lahap, aku senang semuanya telah baik-baik saja.
Selesai makan aku kembali kamar ku, lalu mandi. Beberapa menit kemudian, aku selesai mandi, berpakaian dan menyisir rambut ku.
Tok tok tok
"Rasti, ini gue Tirta!" seru kak Tirta setelah mengetuk pintu kamar ku.
Aku langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Apa kak?" tanya ku langsung saja.
"Itu pacar lu, ngirim tugas di kamar gue... eh maksud gue dia ngirim fax, tugas buat lu. Ambil di kamar gue, gue mau kebawah dulu ambil minum!" ujar Tirta dan segera berjalan menuruni anak tangga yang memang letaknya tidak jauh dari kamar ku.
"Ck... aku pernah dengar ada dokter umum, tapi apa ada guru mata pelajaran umum, seperti nya semua pelajaran kak Yoga menguasai nya!" gumam ku sambil merapikan beberapa lembar kertas yang sudah keluar dari mesin fax.
Lembar-lembar soal ini adalah soal mata pelajaran Geografi dan juga Pendidikan Agama. Ini luar biasa sekali kan kalau kak Yoga menguasai nya.
"Sudah?" tanya kak Tirta yang masuk ke dalam kamar nya dengan botol air mineral besar di tangannya.
Aku terkesiap, karena aku terkejut ketika kak Tirta datang dan langsung bertanya seperti itu, masalahnya aku tidak mendengar suara langkah kaki, dan setelah aku lihat ke arah kaki kak Tirta, ternyata dia sedang tidak memakai alas kaki alias nyeker.
"Belum nih dikit lagi!" jawab ku setelah tersadar dari keterkejutan ku.
__ADS_1
"Kata pak Yoga hape lu di ambil sama anak-anak itu, gue penasaran! mereka tuh kaya' gimana sih, penampilan nya emang kaya' preman gitu ya?" tanya kak Tirta.
"Gak juga sih, Friska itu malah penampilan nya mirip Yusita, cantik, anggun, pakai barang-barang branded gitu, dia lumayan kaya sih kata anak-anak yang lain. Gue gak tahu kelas karena gue emang gak pernah tuh ngobrol atau saling sapa sama tuh anak, kucluk-kucluk gue kelibet masalah aja sama tuh orang!" keluh ku setelah menjelaskan seperti apa Friska itu.
"Sayang gue lagi skripsi, kalau gak gue ajak ribut tuh anak-anak bar bar!" seru kak Tirta yabg sepertinya emosi pada Friska dan teman-temannya.
"Udahlah kak, udah kelar juga kan. Besok kak Yoga yang bakalan ngambilin hape gue sama Friska. Udah ah, makasih ya soalnya. Gue kerjain dulu!" ucap ku lalu keluar dari kamar kak Tirta dan kembali ke kamar ku untuk mengerjakan contoh soal ujian yang telah di kirim oleh kak Tirta.
***
Keesokan harinya, setelah sarapan pagi bersama dengan ayah, ibu dan kak Tirta. Aku dan kak Tirta berangkat bersama lagi.
"Gue usahain jemput lu lebih cepat dari yang kemarin. Sukses buat ujiannya ya!" ucap kak Tirta sebelum berlalu meninggalkan aku menuju ke kampusnya.
"Eh, Rasti!" panggil Panji yang masih berada di atas motornya dan sekarang sudah ada di depan ku.
"Eh Panjul, tumben lu pagi bener!" sahut ku.
"Eh, kemaren tuh lu kenapa katanya nyariin gue, gue sama Si Vita udah nyamperin ke toko buku tapi lu gak ada, gue cariin ke rumah lu, kata nyokap lu, lu belum pulang! gue semalem sampai gak bisa tidur tahu gak mikirin lu!" ucap Panji panjang lebar.
Aku masih berusaha mencerna apa yang dia ucapkan.
"Gue nyariin lu dan minta lu ke toko buku?" tanya ku bingung. Aku mulai menangkap apa yang dikatakan oleh Panji meskipun masih agak bingung.
"Iya, Vita ke kelas gue. Dia bilang elu lagi nungguin gue di toko buku, gue nelpon elu tapi gak aktif. Kata Vita ponsel lu lowbat. Gue sama dia buru-buru ke toko buku kemarin. Elu nya gak ada pas gue udah sampai sana!" jelas Panji lagi dengan raut wajah kecewa.
Nah, sekarang aku tahu. Pasti yang kemarin aku lihat Panji boncengan sama Vita itu karena hal ini. Ini adalah rencana dari Friska dan teman-temannya. Mereka sungguh licik, tapi menurut ku cukup pintar juga. Kalau seandainya kemarin itu tidak ada para preman baik yang menolongku, mungkin rencana sempurna Friska dan teman-temannya itu tidak akan gagal.
__ADS_1
***
Bersambung...