Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Diantar Pulang


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, pak Yoga masih saja menjelaskan beberapa hal tentang tugas proposal ku yang belum selesai dia jelaskan tadi. Bagaimana mau selesai, bukannya membantu ku dia malah menganggu ku. Aku tidak menyangka kalau dia juga punya sisi manja dan kekanak-kanakan seperti itu.


"Besok kamu tinggal katakan saja pada Marco untuk memilih yang mana dari dua tadi yang mau kalian kerjakan, kalau menurut ku lebih baik kamu pakai yang perusahaan jasa saja, kalau barang kamu kan harus berikan contoh produk nya!" jelas nya lagi sambil fokus mengemudi tapi tetap saja sesekali melihat ke arah ku.


"Hah, sampai seperti itu. Beneran harus di kasih contoh produk nya. Ribet amat, emang iya?" tanya ku yang sedikit tak percaya.


Masa' iya sih bikin proposal bisnis saja harus di kasih contoh produknya. Nah kalau bisnisnya jual beli mobil atau motor, ribet kan kalau di kasih contoh produk nya.


"Kamu mau nilai kamu bagus atau tidak?" tanya pak Yoga dengan nada menyindir.


"Ya maulah nilai bagus, tapi jangan yang ribet-ribet gitu dong pak, eh...salah!" ucap ku keceplosan.


Pak Yoga melirik ku dengan tajam, kenapa dia seperti itu sih. Kan cuma keceplosan.


"Panggil aja kakek sekalian!" ucap nya ketus.


"Pffftt... ha ha ha!" aku tertawa karena dia marah seperti itu.


Tapi kalau aku perhatikan, sejak tadi itu dia terus sibuk dengan nama panggilan. Apa sebegitu penting nya nama panggilan untuk nya. Ketika aku tertawa di malah tersenyum dan bukannya marah.


"Kamu senang?" tanya nya.


Dan aku langsung menghentikan tawaku, aku takut kalau aku telah menyinggungnya.


"Maaf baiklah, akan aku ralat. Aku akan panggil Oppa saja bagaimana?" tanya ku padanya.


"Kamu beneran mau panggil aku kakek?" tanya nya lagi sambil mengerutkan keningnya.


"Bukan Opa yang berarti kakek, tapi Oppa dalam bahasa Korea yang artinya kakak. Ih, itu kan lagi nge-trend tahu panggil pacar pakai bahasa Korea gitu!" jelas ku padanya.


Pak Yoga terlihat diam dan kembali menoleh sekilas ke arah ku.


"Kenapa tidak panggil kakak saja?" tanya nya lagi.


Aku sungguh tidak tahu apa yang ada dipikiran nya, ya ampun... ini cuma masalah panggilan loh. Ribet banget kayak nya.

__ADS_1


"Oke, oke... aku ambil jalan tengahnya aja ya. Gimana kalau aku panggil Alauya, dalam bahasa kami itu artinya juga kakak!" jelas ku


Dia dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak, terdengar horor!" sahutnya acuh.


Astaga, sekarang aku malah yang mengerutkan kening ku. Darimana horornya, itu benar-benar berarti kakak. Jadi sekarang aku harus bagaimana? kenapa sepertinya aku ini sedang bicara dengan si Amir saja, tetanggaku yang masih SMP itu, bukan dengan Guru yang usianya sudah tiga puluh tahun.


"Baiklah kak Yoga, apa sekarang kamu sudah puas?" tanya ku.


Dan dia langsung tersenyum, sangat manis. Aku tidak menyangka jika menyenangkan hatinya bisa semudah ini.


"Tapi kenapa Marco bisa satu kelompok dengan mu? Bu Tari yang membaginya, bagaimana caranya?" ucap nya tiba-tiba bertanya padaku dan pertanyaan nya yang bertubi-tubi itu membuat kesan dirinya yang cool dan pendiam berubah drastis.


Ternyata kalau sudah dekat seperti ini, kak Yoga ini sangat cerewet dan kepo orang nya.


Aku menghela nafas panjang.


"Tahu tidak, kalau sebenarnya bukan Bu Tari yang membagi kelompok. Saat itu Bu Tari memberikan pertanyaan, dan barang siapa yang berhasil menjawab pertanyaan darinya itu, yang akan menentukan kelompok kami. Dan saat itu Marco yang berhasil, dia benar-benar mengacak-acak aku dan juga teman-teman ku yang lain!" jelas ku panjang lebar.


Sesekali aku menoleh ke arah kak Yoga yang masih fokus menyetir dan mendengarkan cerita ku.


"Aku berharap bisa satu kelompok dengan Yusita, atau paling tidak Nina. Dan paling buruknya boleh lah dengan Dewi. Setidaknya mereka adalah teman-teman ku. Tapi aku harus satu kelompok dengan nya, dia membuat Dewi satu kelompok dengan David, kamu tahu kan David itu seperti alien yang nyasar ke bumi, mana nyambung sama Dewi. Terus Yusita di bikin satu kelompok sama Dodo, aku yakin bukan proposal yang akan jadi, tapi perjanjian perang. Mereka berdua itu katak tikus sama kucing! berdebat mulu!" ucap ku panjang lebar.


Kak Yoga tersenyum.


"Kamu sangat mengenal teman-teman kamu ya, apa aku juga boleh mengenal Meraka?" tanya nya padaku.


Aku terkesiap, bukannya tadi baru di bahas kalau kami sepakat untuk backstreet dulu. Kenapa dia malah mendadak ingin mengenal teman-teman ku.


"Bukannya kamu juga sudah mengenal mereka?" tanya ku berpura-pura tidak mengerti maksud nya.


"Iya, tapi...!"


"Eh, sudah sampai! baiklah terimakasih ya, sudah mengantarkan aku pulang!" ucap ku menyela karena kebetulan kami memang sudah tiba di depan rumah.

__ADS_1


Dia tidak protes karena aku menyelanya. Dia hanya mengangguk dan melihat ke arah ku yang sedang membuka sabuk pengaman.


"Besok aku jemput ya?" tanya nya lagi.


Aku langsung menggelengkan kepala ku dengan cepat berkali-kali.


"Jangan, besok aku di antar geran... eh maksud ku kak Tirta, dia akan antar jemput aku. Kita kan masih bisa ketemu di sekolah!" sahut ku.


"Nanti malam aku telepon ya?" tanya nya lagi.


"Ini kan sudah malam, sudah ya kamu lebih baik pulang, lalu istirahat. Besok kan kita bisa ketemu di sekolah. Dan siangnya juga bisa ketemu di rumah, kan kamu ngajarin les aku!" jelas ku panjang lebar berusaha membuatnya tidak berkata yang membuat ku berpikir berlebihan lagi.


"Baiklah, kamu juga istirahat. Sampai jumpa besok!" ucap nya.


Aku tersenyum dan mengangguk kan kepala ku perlahan. Aku membuka handel pintu mobil, tapi sebelum aku melakukan nya, dia menarik tangan ku membuat aku menoleh ke arahnya.


"Aku menyayangimu!" ucap nya lembut.


Astaga, mimpi apa aku punya pacar yang begitu perhatian dan lembut begini. Benar-benar melting rasanya mendengar dia bicara begitu.


"Aku juga!" ucap ku tersipu dan langsung keluar dari dalam mobil Yoga.


Aku berlari masuk ke dalam rumah. Tapi aku masih mengintip dari jendela, apakah tiga sudah pergi atau belum. Dan dia masih disana dengan mobilnya. Beberapa detik kemudian mobil itu baru berlalu.


Aku tersipu, aku memegang kedua pipiku yang terasa memanas. Hari ini aku punya pacar, aku tidak pernah menduga hal ini akan terjadi.


"Mengintip siapa??" teriak seseorang yang membuatku terkejut dan menjingkat karena kagetnya.


Aku mengusap dadaku dan menoleh ke arah sumber suara.


"Ih ngagetin aja!" protes ku pada Tirta.


"Lu diantar pak Yoga, gimana dia? udah sembuh?" tanya Tirta.


"Kepo lu!" sahut ku dan langsung berlari meninggalkan Tirta dan masuk ke dalam kamar ku.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2