
Setelah bersih-bersih, aku turun ke bawah. Niat awalnya mau makan malam. Tapi aku mendengar kalau ada nama teman ku sedang di sebut oleh gerandong nyasar.
Dia sedang menelpon atau menerima telepon aku tidak tahu, tapi yang jelas dia sedang bicara dengan seseorang di telepon. Karena penasaran mendengar kata Yusita, aku jadi menguping di balik dinding yang membatasi rumah makan dengan teras samping.
"Yusita, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Tirta dengan suara pelan.
'Tuh, bener kan dia menyebut nama Yusita. Kira-kira itu Yusita temen gue bukan ya?' tanya ku dalam hati.
Aku lanjut menguping dan seperti nya aku mendengar Tirta bicara lagi.
"Tidak, tidak merepotkan sama sekali. Aku yang seharusnya minta maaf karena tindakan ceroboh ku, wajah mu jadi memerah!" ucap Tirta lagi.
Dan apa yang di ucapkan oleh Tirta itu membuatku sangat terkejut hingga aku menutup mulut ku dengan tangan.
'Hah, apa katanya apa yang gerandong nyebelin itu lakukan bikin wajah Yusita memerah, apa yang dia lakukan pada Yusita?' tanya ku lagi dalam hati.
Dan sesungguhnya aku jadi sangat penasaran, ada hubungan apa antara kakak tiri ku ini dengan Yusita, sahabat ku.
Mereka bahkan sudah bertukar nomer ponsel, sejak kapan memangnya mereka bertemu dan jadi sedekat ini.
"Baiklah, kamu istirahat ya. Besok aku akan hubungi kami lagi, tidak apa-apa kan?" tanya Tirta lagi
'Aih, seperti nya beneran. Yusita sama Tirta... wah gak bener nih. Kenapa Yusita gak cerita sama gue. Perlu di selidiki ini!' batin ku lagi.
Tapi baru saja aku akan melangkah untuk menghampiri Tirta dan memastikan dugaan ku, aku kembali menghentikan langkah ku.
'Gue mau apa sih? mau protes sama hubungan Yusita dan Tirta, mau protes karena mereka diam-diam dekat di belakang gue? nah emang apa yang gue lakuin udah bener apa? kan gue juga diam-diam berhubungan sama Kak Yoga di belakang mereka semua. Ck... sudahlah!' batin ku lagi.
Aku yang awalnya ingin protes kenapa mereka tidak bercerita padaku malah kembali berbalik dan menjauh dari Tirta. Aku tidak lebih benar daripada mereka berdua, aku sendiri masih belum siap untuk menceritakan kalau aku sebenarnya sudah pacaran dengan guru les ku sendiri.
Aku memutuskan untuk kembali ke meja makan, disana bibi sudah menyiapkan makan malam yang enak-enak. Bibi memang paling tahu kalau aku sangat lapar saat ini. Di rumah kak Yoga tadi siang itu aku hanya di beri burger dan kentang goreng saja, aku mana kenyang kalau belum makan nasi.
Aku duduk di tempat biasanya aku duduk, aku membuka piringku dan mulai menyendok nasi ke atas piring ku.
__ADS_1
"Ini non minumnya, silahkan!" ucap bibi sangat sopan.
"Makasih bi!" jawab ku cepat karena sepertinya ikan goreng sambal itu sudah memanggil-manggil ku agar memakannya.
"Sama-sama non, oh ya tadi siang. Teman non Rasti namanya yang namanya non Yusita itu datang kemari!" seru bibi membuatku berhenti menyendok nasi ke atas piringku.
Aku menoleh ke arah bibi.
"Yusita kemari? ngapain?" tanya ku pada bibi.
'Jadi Yusita uang nyamperin si gerandong nyebelin itu, kenapa Yusita jadi agresif begitu?' pikir ku.
"Non Yusita ngasih tas non Rasti yang ketinggalan di sekolah katanya!" jelas Bu Rasti.
"Oh iya!" ucap ku sambil menepuk dahi ku sendiri.
'Apa yang gue pikirin sih, ya ampun... ternyata gitu. Yusita tuh nganterin tas gue kerumah, bisa-bisa nya gue mikir Yusita ke rumah karena mau nyamperin gerandong nyebelin itu. Haduh, otak gue butuh di refresh kayak nya ini!' batin ku lagi.
Aku terlalu banyak berfikir, bisa-bisa nya aku mengira sesuatu yang tidak mungkin. Lagipula kan tadi pagi si gerandong nyebelin itu bilang dia gak bisa jemput karena mau ekskul.
"Yusita pingsan bi?" tanya ku panik.
"Terus, terus gimana? dia cepet gak sadarnya, dia kenapa bi?" tanya ku lagi.
"Dia gak apa-apa, cuma pusing aja katanya. Mungkin karena perut nya kosong, habis di buatin bubur sama bibi dia udah baikan!" ucap Tirta yang ikut duduk di tempat nya.
Aku melihat ke arahnya dengan tatapan penuh penasaran.
"Lu gak ngapa-ngapain temen gue pas dia pingsan kan?" tanya ku langsung pada intinya.
Tirta terlihat mengangkat tinggi alisnya.
"Maksud lu apa? gue tuh bantuin dia kali. Enak aja lu nuduh gue macem-macem!" protes nya.
__ADS_1
"Terus kenapa lu tadi teleponan sama dia?" tanya ku.
'Ups, keceplosan gue. Bisa ketahuan nih sama gerandong nyebelin kalo tadi gue nguping!' batin ku merutuki kebodohan ku sendiri
Kali ini aku lihat ekspresi nya berubah menjadi memicingkan matanya padaku.
"Lu nguping ya, pas gue lagi nelpon tadi?" tanya nya dengan nada suara penuh selidik.
"Gak sengeja gue denger lu nyebut Yusita, kepo lah gue!" jelas ku beralasan.
"Jadi tadi siang tuh, pas dia pingsan gue ngolesin minyak cengkeh ke sekitar dahi sama pelipisnya Yusita...!"
"Minyak cengkeh?" tanya ku menyela.
Setahu gue Yusita itu alergi sama minyak cengkeh juga minyak sereh, aduh gak tahu deh gimana tuh jidatnya abis di oles minyak cengkeh.
"Yusita itu alergi minyak cengkeh tahu!" keluh ku kesal pada Tirta.
"Kan gue gak tahu, maksud gue kan pengen dia cepet sadar!" jelasnya.
"Terus, terus... gimana dia tadi siang, alerginya gimana?" tanya ku cemas.
"Gue nawarin buat bawa dia ke rumah sakit, tapi dia gak mau. Dia bilang dia punya obat alerginya dirumah. Terus gue anter dia pulang!" jelas nya lagi.
"Lu boncengin pakai motor?" tanya ku.
"Gak, dia sama supirnya naik mobil, gue ikutin dari belakang. Gue cuma mau pastiin dia baik-baik aja!" jelasnya lagi.
Dan apa yang Tirta jelaskan ini makin membuat pikiran ku tentang Tirta perlahan berubah. Apa aku memang tidak menyadari sejak awal ya, atau mungkin sebenarnya dia memang baik tapi karena aku kesal padanya dan juga ibunya dia jadi tidak pernah terlihat baik di mataku. Kebaikan nya tertutup rasa kesal ku dan kebencian ku pada ibunya yang telah merebut ayah ku dari ibu kandung ku.
Tapi setelah beberapa hari ini. Aku rasa Tirta ini bukan orang yang buruk. Dia bahkan mengantarkan Yusita sampai ke rumah hanya dengan mengikuti mobilnya untuk memastikan Yusita baik-baik saja. Aku rasa dia bukan orang yang tidak baik.
***
__ADS_1
Bersambung...