
David terus ingin bergerak maju dan mencakar mulut Dino yang meskipun pria tapi le'me's banget kayak rotan rebus. Aku hampir kualahan menahan David.
"Jangan beraninya di kandang ya!" David masih menantang Dino.
"Ngomong apa lu, emang kambing di kandang. Gak mutu banget!" balas Dino dengan melambaikan tangannya yang seperti nya sudah jadi ciri khasnya.
"Ada apa ini!!" teriak Pak Sabar.
Meski namanya adalah pak Sabar, tapi guru fisika yang satu ini tak sesabar itu. Aku langsung melepaskan tangan ku dari David dan segera duduk di kursi ku.
Pak Sabar melotot ke arah David dan juga ke arah rombongan Friska.
"Kenapa masih berdiri, cepat duduk di kursi kalian masing-masing!" bentak oak Sabar lagi.
Semua nya langsung mencari nomer meja mereka.
"Pffttt" aku benar-benar tidak bisa menahan tawa ku ketika melihat David yang begitu kesal karena harus duduk di sebelah Dino.
Aku melihat raut kedua orang itu sangat kesal, bahkan Friska terlihat tidak senang melihat itu. Sekolah ini memang luar biasa, selain mengacak-acak nomer meja, bahkan pengawas saat ujian juga luar biasa, bagaimana seorang guru fisika di tugaskan mengawas di jelas IPS, sangat luar biasa bukan.
Pak Sabar langsung menunjuk Attar, seorang siswa yang berbadan besar yang duduk di bangku paling depan sebagai ketua kelas selam ujian berlangsung. Dia yang membantu pak Sabar membagikan lembar ujian dan menyiapkan kami untuk memberi salam dan berdoa bersama sebelum memulai ujian.
"Waktu kalian 90 menit untuk soal matematika! ingat untuk membaca soal dengan teliti, tidak boleh mengobrol saat ujian, dan ingat untuk mengerjakan soal yang kalian anggap mudah terlebih dahulu. Tidak boleh ada yang ijin ke kamar mandi, jadi sebaiknya yang ingin buang air kecil bisa pergi sekarang!" tegas Paka Sabar.
Beberapa siswa langsung ijin keluar, dan setelah itu pak sabar juga memeriksa saku baju dan celana mereka. Kalau yang siswi pak sabar meminta Irma, salah seorang siswi yang duduk di depan membantu memeriksa.
Hal seperti ini memang sudah biasa saat ujian, peraturan yang tegas selalu di terapkan oleh sekolah ini. Tujuannya hanya satu, menerapkan kedisiplinan pada setiap siswa guna mencetak siswa siswi berbakat dan membanggakan nama sekolah ini juga pribadi mereka masing-masing.
Waktu ujian telah dimulai, aku sangat serius kali ini. Di tambah lagi teman sebangku ku adalah Lutfi jadi semua aman terkendali, karena aku seperti duduk seorang diri. Benar-benar tidak ada suara apapun yang di timbulkan oleh Lutfi, aku bahkan tidak mendengar suara pensil yang bersentuhan dengan kertas jawaban seperti yang aku lakukan. Dia ini benar-benar ajaib, sangat tenang dan gerakkan nya sangat halus.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, aku mulai kesulitan dengan beberapa soal. Dari dua puluh soal pilihan ganda. Aku baru menjawab delapan saja soal yang aku anggap benar, dan itu juga baru anggapan ku saja.
"Baiklah, waktu kalian 30 menit lagi!" seru pak Sabar.
Aku membulatkan mata ku, yang benar saja. Sudah satu jam tapi aku baru mengerjakan delapan soal. Ini mengesalkan. Tapi aku tidak boleh menyerah, selain untuk diriku sendiri aku juga harus membuktikan pada banyak orang kalau aku bisa berhasil dalam ujian ini.
Aku harus membuktikan pada ayah seperti yang ibu katakan, kalau dengan adanya kak Yoga, nilai ku justru semakin bagus. Aku juga harus membuktikan pada Friska dan teman-temannya kalau aku tidak sebodoh yang dia pikirkan. Dan beberapa orang lagi yang selalu meremehkan aku.
Aku mulai mengerjakan pertanyaan essai. Dan benar saja, ternyata hampir mirip dengan yang di contohkan oleh kak Yoga kemarin. Aku sangat bersemangat, ternyata benar matematika itu memang ilmu mutlak yang menggunakan rumus mutlak. Jadi kalau sudah ingat dan tahu rumusnya ternyata sangat menyenangkan untuk menyelesaikan selanjutnya.
Hasilnya kurasa tidak terlalu buruk, dari sepuluh essai aku bisa mengerjakan enam.
"Sisa waktu kalian 5 menit lagi!" seru pak Sabar.
Dan aku pun mulai panik, aku langsung membaca lagi soal pilihan ganda. Aku benar-benar menyerah. Jadi aku putuskan untuk menjawab semua uang tersisa dengan memilih kunci jawaban 'A' aku harap ada yang benar.
Sedangkan untuk essai, aku hanya menjawab sisanya dengan diketahui xxx, lalu ditanya xxx dan di jawab tentu saja masih kosong.
Semuanya mengikuti instruksi pak Sabar, dari bangku yang paling depan hingga bangku paling belakang, tas kami yang tadi sudah dikumpulkan di depan kelas pun kami ambil satu persatu.
Aku menghela nafasku lega saat keluar dari dalam kelas.
"Eh gimana? lu jawab A semua lagi kayak biasanya?" tanya David padaku.
"Gak dong, gue jawab dua belas yang A!" jawab ku sedikit menyombongkan diri.
"Elah, sama aja itu mah. Kantin yuk!" ajak David.
"Duluan aja, gue mau cari Yusita sama yang lain dulu!" jawab ku pada David.
__ADS_1
"Oke! gue duluan ya!" sahutnya dan pergi meninggalkan aku yang sedang mencoba mengirim pesan pada Dewi.
📱Rasti :Lu dimana Wi?
📱Dewi :Di kantin gue, nih sama Yusita sama Nina, buruan kesini!
📱Rasti :Otewe
Setelah menyimpan kembali ponsel ku ke dalam tas. Aku langsung melangkahkan kakiku menuju kantin. Aku langsung berlari mengejar David yang jaraknya belum terlalu jauh dariku. Akan lebih seru kalau saat berjalan ada teman yang di ajak ngobrol kan.
"David!" panggil ku membuat langkah David terhenti.
"Berubah pikiran?" tanya David dengan cepat setelah melihat ke arah ku.
"Gak juga, Nina sama yang lain ada di kantin, yuk!" ajak ku pada David.
Kami pun melanjutkan langkah kami, sambil berjalan ke kantin, David bertanya padamu.
"Lu berempat tuh kok bisa sih sedekat itu?" tanya David.
"Kenapa? bukannya lu juga deket sama Dodo?" tanya ku pada David.
"Dia kan sepupu gue, ya iyalah gue deket sama dia, rumah sebelahan, sekelas lagi!" jawab nya dengan raut kesal dan membuat aku terkekeh.
Tapi aku heran juga, semua teman sekelas tahu kalau Dodo dan David ini sepupuan. Tapi aku heran mereka itu ibarat langit dan bumi, Dodo pendiam, David jangan di tanya lagi nyablak banget. Dodo pinter nya sih gak perlu di ragukan lagi, tapi David malah peringkat terakhir di kelas.
"Gue tuh nyaman aja gitu temenan sama mereka, mereka tuh best banget selalu ada saat gue susah dan seneng!" jawab ku jujur pada David.
***
__ADS_1
Bersambung...