
Author POV
Dia yang masih duduk di atas lantai karena tadi suaminya sendiri yang telah mendorongnya, katanya bertambah hancur dan kesal karena sang mertua juga terkesan menyalahkannya dan tidak peduli padanya. Padahal dia merasa kalau dia sudah banyak membantu ibu mertuanya itu, saat ibu mertuanya itu di jalan silakan orang dia membelanya dengan mempertaruhkan karirnya sebagai seorang model yang terkena lembut dan sopan.
Hal itu dia lakukan tak luput dari keinginannya sendiri juga ingin menjadi kepercayaan dari ibu mertuanya itu. Tapi nampaknya semua usahanya sia-sia.
Setelah mengatakan kalimat yang menyakiti hatinya Ibu mertuanya itu pun langsung keluar dari dalam kamarnya.
Sofie berdiri perlahan lalu melihat ke arah foto pernikahan berukuran besar yang terpajang di dinding, foto pernikahan yang diambil sebelum mereka menikah. Di foto itu tampak dirinya dan juga suaminya Yoseph Adrian terlihat begitu sangat bahagia dengan senyuman mereka yang lepas dan tulus.
Tapi semuanya mendadak berubah karena rencananya menghancurkan hubungan Yoga dan Rasti gagal. Di dalam hatinya dia masih merasa menyesal dan marah, kalau saya jadi ya boleh memilih saat itu maka dia tidak akan memilih menikah dengan Yoseph Adrian. Kalau saja kedua orang tuanya tidak membuat masalah dan harus mendekam di dalam penjara dirinya tidak akan menjadi korban, itulah yang Sofie Almira saat ini sedang rasakan.
Di hatinya pun masih terdapat nama Yoga Adrian, jadi bagaimana mungkin dia bisa sepenuh hati menjadi seorang istri yang baik seperti yang diharapkan oleh Yoseph. Sungguh Sofie ini merasa bahwa kehidupannya sangat dramatis dan ironis. Dia hanya bisa menangis, karena bicara pada kedua orang tuanya maka dirinya pula yang akan disalahkan. Dan dirinya pun saat ini juga tidak memiliki teman. Karena gosip yang beredar tentang dirinya yang sengaja menjebak Yoseph Adrian agar menikahinya membuat semua teman-temannya menjauhinya.
Di tambah lagi dirinya memang sangat arogan dan sombong, hanya segelintir orang yang masih menginginkan bantuannya saja dan untuk keuntungan semata yang masih bertahan di sisinya. Namun orang-orang seperti itu tidak bisa diajak bicara atau diajak bertukar pikiran, mereka hanya bilang iya iya ,oh begitu, kasihan sekali kamu, hanya seperti itu tapi baru keluar pintu mereka akan melupakan semua masalah yang tadi diceritakan oleh Sofie.
"Aku benar-benar kesal! apa yang harus aku lakukan sekarang? rencana aku menghancurkan hubungan Yoga dengan gadis itu malah berakibat buruk padaku! aku juga tidak bisa bertahan di rumah ini hanya diacuhkan saja setiap waktu, hah...!" Sofie terus mengeluh dan menghela nafas.
Tapi tak lama setelah dia mengeluh dia berdiri kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Dia boneka semua bekas-bekas air mata yang menetes di pipinya lalu merias dirinya lagi.
__ADS_1
"Kalian tidak perduli padaku kan? Lalu kenapa aku harus peduli pada kalian?" tanya Sofie sambil melihat dirinya di depan cermin.
Tatapan matanya sangat tajam penuh dengan kebencian penuh dengan amarah. Tapi tanpa disadari sebenarnya dia sangat putus asa dalam hatinya dan itu terlihat jelas di dalam matanya.
Sofie yang memang terbiasa menggunakan pakaian yang sudah rapi lalu mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja. Dia meraih dompet dari dalam laci kemudian ponselnya juga dia masukkan ke dalam tas lalu pergi keluar dari dalam kamarnya.
"Mau kemana kamu?" tanya Asti yang masih berada tidak jauh dari kamar Sofie.
Sofie yang mendengar suara Ibu mertuanya bertanya langsung menolehkan kepalanya kearah Ibu mertuanya tanpa merubah posisi tubuhnya yang sudah menghadap ke pintu keluar kediaman Adrian.
"Ada sedikit urusan ibu mertua! aku pergi dulu!" jawab Sofie dengan nada datar dan raut wajah dingin.
Dia bahkan tidak menunggu Ibu mertuanya menjawab dan langsung melenggang pergi.
Terlebih lagi dia juga sama sekali tidak menyukai cara Sofie yang terkesan tidak sopan saat menjawab pertanyaan darinya, naluri seorang ibu mertua sepertinya telah terluka karena menantunya sendiri berbicara tanpa menghadap ke arah dirinya, sangat menunjukkan kesan tidak peduli dan tidak menghargai sama sekali.
Sofie yang mendengar ucapan dari ibu mertuanya itu menghentikan langkahnya. Dia lalu berbalik menghadap ke arah Ibu mertuanya yang sedang duduk dengan mengangkat sebelah kakinya ada di tumpukan ke kaki yang satunya lagi.
"Aku masih ingat kalau saat itu yang membuat kekacauan dan membuat keributan adalah ibu mertua sendiri, aku tidak pernah memulai semuanya masalah dengan Rasti dan keluarganya. Ibu yang datang ke sana ke rumahnya dan marah-marah, aku hanya membantu ibu mertua dan itulah yang aku lakukan semenjak dulu. Aku selalu membantu dan mendukung apapun yang ibu mertua lakukan. Tapi aku kecewa saat aku membutuhkan dukungan dari ibu mertua, ibu mertua seolah-olah tidak peduli dan malah ikut menyalahkanku atas semua yang terjadi di keluarga ini!"
__ADS_1
"Jaga mulut mu!!" bentak Asti yang langsung bangkit berdiri dari posisi duduknya dan berkacak pinggang dan menghampiri menantunya yang matanya sudah berkaca-kaca ketika mengatakan semua yang dirasakan keluh kesah dalam hatinya.
"Siap dirimu berani mengatakan itu padaku?" tanya Asti terdengar begitu arogan dan sangat sombong seperti biasanya.
"Aku mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, kalau ibu mertua merasa tersinggung artinya itu benar!" Sofie seakan tak mau kalah dan tak mau disalahkan. Dia masih terus berusaha membela dirinya sendiri ketika tidak ada yang membelanya di rumah ini.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Sofie. Tamparan yang berasal dari ibu mertuanya, mata Sofie terbelalak lebar. Dia bahkan menggerakan kan giginya dan mengeraskan rahangnya dia juga mengepalkan tangannya saking kesalnya.
Meskipun ibu kandungnya tidak terlalu peduli padanya dan selalu memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan apapun yang ibu kandungnya dan ayahnya inginkan. Tetapi tidak sekalipun mereka pernah menampakkan atau menyakiti Sofie secara fisik.
"Lancang sekali kamu! masih bagus putraku itu mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi, aku bahkan meragukan kalau dia benar-benar melakukannya saat itu. Aku seharusnya tahu wanita sepertimu pasti hanya ingin numpang nama saja kan di keluarga kami!" Asti terus memojokkan Sofie.
Sofie yang mendengar semua penghinaan yang dikeluarkan dari mulut Ibu mertuanya itu sudah tidak sanggup lagi mendengarnya. Dia memilih untuk melangkah pergi dari kediaman Adrian. Karena kalau dia masih berada di depan Ibu mertuanya itu dia takut dia bahkan tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Hei, tidak sopan sama sekali. Orang tua bicara, dan dia pergi begitu saja sungguh tidak sopan!" kesal Asti menatap tajam kepergian Sofie.
Author POV end
__ADS_1
***
Bersambung...