Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Satu Kata Pembawa Bahagia


__ADS_3

Saat telah tiba di depan rumah, aku lihat kak Tirta menghentikan motornya di depan gerbang. Dia turun dari atas motor nya dan menghampiri kami dengan cepat, dia bahkan melambaikan tangannya meminta kami agar berhenti.


Pak Yoga segera menepikan mobil, lalu membuka kaca jendela mobilnya.


"Ada apa Tirta?" tanya pak Yoga penasaran. Sebenarnya itu juga mewakili pertanyaan ku yang juga sangat penasaran dengan apa yang di lakukan oleh kak Tirta.


Kenapa dia seperti menghentikan kami dan tidak boleh melanjutkan perjalanan kami, padahal tinggal sedekat itu, bahkan tidak sampai dua rumah lagi.


"Ayah dan ibu sudah pulang!" jawab kak Tirta dan aku sampai melebarkan mulut ku karena kaget.


"Jadi?" tanya oak Yoga.


Kalau mengikuti maunya, maka dia akan memilih untuk menggandeng tangan ku lalu masuk ke dalam rumah dan menjelaskan sejujur-jujurnya pada ayah dan ibu Rita. Tapi aku tidak siap untuk itu.


"Pak Yoga tolong bawa dulu tas Rasti ya, saya akan bilang pada ayah dan ibu habis mengajak Rasti jalan-jalan dan cari sarapan diluar!" jelas kak Tirta.


Aku langsung mengangguk setuju, tapi sepertinya pak Yoga masih belum puas dengan ide dari Tirta itu.


"Jadi, saya harus pergi sekarang?" tanya pak Yoga dengan nada sedih.


"Ck..!" kak Tirta sedikit berdecak.


"Rasti, bujuk pacar mu. Aku akan membuka gerbang!" ucap kak Tirta lalu meninggalkan kami.


"Kak Yoga tolonglah, aku benar-benar belum siap untuk mempublikasikan hubungan ini. Tunggu sampai aku lulus ya!" pinta ku dengan manja pada pak Yoga.


Pak Yoga menghela nafasnya, tapi setelah itu dia mengangguk kan kepalanya. Dia setuju, aku senang dan dengan cepat melepaskan sabuk pengaman ku. Ketika aku memegang handel pintu mobil, pak Yoga menarik lengan ku dan mencium pipi ku.


"Belajar yang rajin ya, kamu harus naik kelas. Kasihanilah kekasih mu yang sudah berumur ini!" seru pak Yoga membuatku terkekeh sebelum meninggalkan nya.


Tanpa lupa melambaikan tangan padanya seperti biasanya pada pak Yoga, aku segera mengikuti Tirta masuk ke dalam rumah.


Aku lihat mobil pak Yoga sudah melewati rumah ku, dan aku bisa menghela nafas lega juga akhirnya.

__ADS_1


Kak Tirta masih memarkirkan motor nya di garasi, dan aku lebih dulu masuk ke dalam rumah. Aku ingat kak Tirta tadi bilang kalau alasan kami adalah sarapan bersama dan jalan-jalan weekend.


"Ayah..!" panggil ku pada ayah ku yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menyesap teh di cangkirnya. Ayah ku memang tidak minum kopi.


Aku berlari menghampiri ayah ku, meskipun kami memang sering bertengkar tapi semua itu karena kesalahan ku. Dan aku sudah menyadari semua itu, mulai sekarang aku akan bersikap lebih baik lagi pada ayah dan juga ibu Rita.


Aku memeluk ayah yang segera berdiri saat melihat ku.


"Rasti rindu sekali!" ucap ku dengan mata berkaca-kaca.


Ayah memeluk ku dengan erat, dan mengusap kepalaku dengan lembut. Sesekali dia juga mencium pucuk kepala ku.


"Ayah juga rindu, dari mana kalian. Kata bibi kamu dan Tirta pergi keluar?" tanya ayah begitu antusias.


Aku tahu ayah pasti terkejut sekaligus senang karena sejak dulu dia selalu menginginkan agar aku dekat dengan kak Tirta, hanya saja karena kesalahpahaman ku dulu membuat ku selalu enggan dekat dengan kakak tiriku yang sebenarnya sangat baik itu.


"Dari luar cari sarapan!" ucap ku berbohong.


"Benarkah? ayah senang sekali mendengarnya!" ucap ayah.


"Selamat pagi Rasti!" sapa ibu Rita yang baru keluar dari arah dapur.


Ayah ku sedikit memudarkan senyum nya, dia pasti takut aku tidak akan menjawab sapaan ibu Rita. Tapi itu memang akan terjadi jika itu dulu, tapi sekarang aku sudah tahu kalau sebenarnya ibu Rita adalah perempuan yang sangat baik, dan dia bukanlah seperti yang selam ini aku pikir kan. Dia tidak pernah merebut ayah dari ibu kandung ku.


Aku berlari mendekati ibu Rita dan memeluknya, aku lihat ibu Rita sangat terkejut dia bahkan mematung di tempatnya. Aku rasa ayah ku juga sama.


"Rasti juga rindu ibu!" ucap ku pelan dengan mata ku yang sudah berkaca-kaca.


Aku merasa sangat bersalah pada ibu Rita, karena selama ini aku sudah bersikap sangat buruk padanya. Aku bahkan tidak pernah memanggilnya ibu. Padahal dia sudah merawat dan menjaga ku seperti anak kandungnya sendiri.


Beberapa detik kemudian, ibu Rita membalas pelukan ku dengan sangat erat. Aku bahkan mendengarnya terisak.


"Rasti sayang, kamu tadi panggil apa nak?" tanya ibu Rita di sela tangisannya.

__ADS_1


Aku melepaskan pelukan ku pada ibu Rita, menarik tubuh ku sedikit agar aku bisa melihat ke arah ibu Rita.


"Ibu!" panggil ku lagi padanya sambil tersenyum.


Ibu Rita yang masih berderaian air mata langsung tersenyum sangat senang dan kembali membawaku ke pelukan nya.


"Ibu senang sekali Rasti, terimakasih!" ucapnya yang bahkan sampai mengucapkan terima kasih hanya karena aku memanggilnya ibu.


Selama ini aku benar-benar keterlaluan, aku sudah membuat wanita sebaik ibu Rita sedih selama bertahun-tahun karena sikap kurang ajar ku padanya. Tapi setelah aku tahu cerita yang sebenarnya tentang masa lalu ku, aku menyesali semua itu, dan aku berjanji kalau mulai sekarang aku juga akan menyayangi ibu Rita seperti aku menyayangi ayah ku.


Ayah perlahan mendekati kami dan mengelus kepalaku dengan lembut. Dia terlihat sangat senang.


"Ayah, ibu...!" seru kak Tirta yang bau masuk ke dalam rumah.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya nya sambil tersenyum.


***


Siang harinya setelah aku mandi dan ganti pakaian. Aku menuruni anak tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan dua. Aku melihat sekitar dan suasana sangat sepi, tapi aku mendengar ada bunyi sesuatu yang baru saja masuk ke dalam minyak panas penggorengan dari arah dapur.


Aku melangkahkan kaki ku perlahan ke sana. Dan aku lihat ibu dan juga bibi sedang sibuk memasak.


"Rasti, nak! sejak kapan kamu berdiri disitu?" tanya ibu yang menyadari keberadaan ku di depan pintu dapur.


"Baru saja, ibu masak apa?" tanya ku sambil mendekati ibu dan juga bibi.


"Ibu masak kentang goreng kesukaan kamu, kamu suka sekali kentang goreng kan? oh ya kamu mau makan siang pakai lauk apa?" tanya ibu sambil membolak-balik kentang yang sudah masuk ke dalam minyak panas.


Dia bahkan tahu apa yang aku sukai, aku tidak yakin kalau bahkan ibu kandungku sendiri akan tahu makanan yang aku suka, atau mungkin dia sudah benar-benar melupakan aku.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2