
Pak Yoga malah terkekeh pelan saat mendengar aku mengatakan kalimat itu di depannya. Dia lalu menggenggam tangan ku dengan penuh kelembutan, membuatku yang awalnya gugup sebenarnya bertambah gugup saja. Aku tahu niatnya ingin menambah keberanian ku, tapi sepertinya malah sebaliknya. Perut ku juga mendadak mulas, benar-benar tidak bisa di ajak berkompromi.
Pak Yoga mengajak ku melangkah ke dalam butik, di depan pintu kaca besar yang bergeser dan membuka secara otomatis saat kami menginjak list berwarna putih yang jaraknya satu meter dari pintu itu sudah berdiri dua orang wanita berpakaian rapi dan sangat cantik, mereka memakai baju dengan model yang sama, mereka itu pasti adalah pelayan di butik ini. Dengan ramah mempersilahkan kami, aku dan pak Yoga masuk ke dalam.
Salah seorang dari mereka seperti nya sudah mengenal atau pernah bertemu dengan pak Yoga, karena langsung menyapa dengan menyebutkan nama pak Yoga.
"Tuan Yoga Adrian, silahkan. Nyonya Asti sudah menunggu tuan di dalam!" ucap nya ramah sambil mempersilahkan kami mengikuti langkahnya.
Aku masih terpana dengan tempat ini, karena selama ini aku memang tidak pernah pergi ke tempat seperti ini, siapa juga yang akan mengajak ku ke butik kan. Aku hanya membeli pakaian ku dan keperluan lainnya di mall bersama dengan Yusita, Dewi atau Nina. Atau bahkan ke pasar modern atau pasar tradisional bersama dengan bibi.
Kami masuk semakin dalam dan di salah satu ruangan yang terletak di tengah yang sangat besar, seorang wanita paruh baya yang cantik dan elegan terlihat segera berdiri setelah melihat kedatangan kami. Tapi kurasa dia berdiri karena melihat pak Yoga.
"Yoga, kamu akhirnya datang. Ibu sudah cukup lama menunggu mu!" seru wanita itu sambil berjalan menghampiri pak Yoga lalu memeluknya.
"Maaf Bu, sudah membuat mu menunggu. Ini Rasti, kekasih Yoga!" ucap pak Yoga yang langsung mengenalkan aku pada ibunya tanpa basa-basi lagi.
Aku terkesiap, tapi aku langsung berusaha mengembangkan senyum ku dan mengulurkan tanganku pada wanita yang adalah ibunya pak Yoga ini.
"Saya Rasti Tante!" ucap ku pelan dan sedikit tergagap karena aku sungguh sangat gugup.
Ibu pak Yoga langsung menyambut uluran tangan ku dan tersenyum. Dia sedikit memperlihatkan ku dari ujung kepala sampai sepatuku seperti nya. Baru setelah itu dia menyebutkan namanya.
"Asti, panggil saja Tante Asti, ibunya Yoga!" ucapnya yang sepertinya masih sangat menjaga jarak dariku.
Dia langsung melepaskan tangannya dan kembali beralih pada pak Yoga.
__ADS_1
"Kamu sudah makan siang? kita makan siang dulu ya setelah pulang dari sini?" tanya nya pada pak Yoga.
Entah perasaan ku saja, atau memang ibu pak Yoga ini sepertinya tidak menyukai ku ya. Apa karena aku masih pakai seragam saat bertemu dengannya, atau karena aku ini terlihat kurus dan seperti orang yang kekurangan makan. Mungkin Tante Asti mengira aku ini anak orang tidak mampu yang tidak setara dengannya, tapi itu tidak benar. Ayah ku pengusaha sukses kok. Atau apa ya? aku jadi bingung sendiri.
Tapi aku memang sedang di acuhkan, aku bahkan tidak disuruh duduk. Padahal kaki ku sudah pegal berdiri terus dari tadi dan mendengar perbincangan pak Yoga dan Tante Asti yang sepertinya sudah lama tak bertemu.
"Sayang, ayo duduk!" ajak pak Yoga.
Akhirnya aku duduk juga, kaki ku sudah pegal. Pak Yoga mengajak ku duduk di sebelahnya, dia terlihat tidak mau jauh-jauh dariku. Tapi ibunya terus mengajaknya bicara, aku jadi merasa seperti guci antik saja disini.
"Ini nyonya gaunnya!" ucap pelayan butik yang membawaku dan pak Yoga masuk kemari sambil membawa gaun berwarna merah pastel yang menurutku sangat cantik sekali.
Aku sampai terpana melihat gaun itu. Aku tidak punya yang seperti itu.
Tante Asti lalu melirik ke arahku.
Pelayan bernama Prita itu mengangguk paham dan tersenyum, lalu memintaku mengikuti nya.
"Nona, silahkan ikuti saya!" ucapnya.
Aku menoleh ke arah pak Yoga dan dia pun menganggukan kepalanya. Aku lalu mengikuti Prita dan menerima gaun yang sudah dia berikan. Aku masuk ke dalam kamar pas. Bajunya sangat cantik, tapi setelah aku pakai, ternyata kebesaran, aku rasa ku ini memang terlalu kurus. Entah kenapa aku jadi sekurus ini, padahal aku lihat saat aku bayi, aku ini gemoy.
Entah apa yang terjadi padaku sebenarnya, kalau orang lain dan juga ketiga sahabat ku sering bercerita tentang masa kecil mereka dan kenangan-kenangan tentang masa lalu mereka dengan bahagia. Aku tidak bisa melakukan semua itu, karena aku tidak mengingat apapun tentang masa kecil ku. Awalnya aku merasa karena aku ini memang pelupa alias pikun. Tapi makin kesini, makin aku dewasa aku merasa sepertinya ingatanku itu terpotong. Aku tidak mengerti, tapi sepertinya tidak berurutan. Tapi sudahlah, makin di pikirkan malah makin membuat kepala ku sakit.
Aku melihat ke arah cermin yang ada di dalam kamar pas itu.
__ADS_1
"Ck... gak ada body banget deh. Ha ha ha bener ini mah kata si Panjul, udah kayak triplek alias plywood. Gini amat ya body gue!" gumam ku menilai diriku sendiri di depan cermin.
Aku mencoba memperbaiki pose ku, mungkin saja angle ku memang bukan di sebelah kanan. Aku lalu mengganti pose ku miring ke kiri, dan aku memperhatikannya lagi. Ternyata hasilnya masih sama saja, benar-benar lurus seperti pohon sengon, seperti angka satu.
"Ih, gak keren banget sih!" gumam ku lagi tapi aku terkekeh sendiri.
"Nona, apa semua baik-baik saja?" tanya Prita dari luar.
Mungkin karena mendengar aku terkekeh, dia jadi khawatir dengan keadaan ku di dalam sini. Aku kembali melihat ke arah cermin, rasanya ragu sekali ingin keluar dan menunjukkan ini pada Pak Yoga dan ibunya.
Aku membuka pintu kamar pas, dan benar saja baru melangkah keluar, aku sudah ke serimpet dengan gaun panjang ini. Aku nyaris jatuh kalau saja Prita tidak menahan ku dengan cepat.
"Nona, hati-hati!" ucap nya begitu ramah dan perhatian.
Aku langsung berdiri, dan aku sangat yakin. Aku tidak akan mampu berjalan sampai ke tempat pak Yoga dan juga ibunya. Hasilnya aku meminta agar Prita memanggil pak Yoga datang kemari.
"Em maaf mbak Prita, boleh minta tolong gak?" tanya ku pada Prita.
Dia terlihat langsung mengangguk kan kepala nya.
"Panggilan pak Yoga kemari ya, pak Yoga nya aja, jangan sama ibunya! Please!" pintaku sambil melipat kedua telapak tangan ku di depan wajah ku.
Prita tersenyum.
"Baiklah, sebentar ya!" ucap nya sopan lalu keluar dari ruangan kamar pas.
__ADS_1
***
Bersambung...