
Kami masih menunggu mobil di depan lobi, dan ketika kak Tirta sedang mengambil mobil di parkiran, dokter Adrian yang juga sedang menunggu supirnya mendekati ku.
Ayah dan ibu memang sedang berbincang dengan pak Tantowi yang ternyata adalah direktur keuangan di perusahaan dokter Andika.
"Bagaimana dengan ujian mu?" tanya dokter Andika.
Aku hanya menampakan ekspresi yang datar saja.
"Lancar, aku sudah les privat jadi aku yakin aku tidak akan mendapatkan peringkat kedua dari bawah lagi!" ucapku terus terang.
Aku harap dengan mengatakan keburukan ku, dokter Andika jadi ilfil. Beneran ya, aku tuh punya firasat gak bagus tentang ini. Kami bahkan baru bertemu beberapa waktu yang lalu itu pun karena aku masuk rumah sakit. Tapi aku kenapa rasanya nya jadi tidak nyaman sekali pada pandangan dokter Andika padaku ya.
Tapi ternyata semua berjalan diluar ekspektasi ku. Bukannya merasa ilfil Dan menganggap aku remeh. Dokter Andika malah terkekeh pelan, dan sedikit memalingkan wajahnya ke arah orang tuaku, lalu kembali lagi melihatku.
"Serius kamu selama ini mendapat peringkat kedua dari bawah?" tanya nya memastikan.
Dan karena apa yang aku katakan tadi itu benar maka aku menganggukkan kepalaku dengan cepat, membenarkan apa yang ditanyakan oleh dokter Andika.
"Astaga Rasti, siapa yang bisa percaya kalau anak Pak Rudi Mahesa akan menjadi peringkat kedua dari bawah di sekolahnya!" kata dokter Andika yang sepertinya tidak mempercayai apa yang aku katakan.
Dia mengatakan aku peringkat kedua dari bawah satu sekolah, itu sama sekali tidak benar.
"Bukan peringkat kedua dari bawah di satu sekolah dokter, tapi peringkat kedua dari bawah dari satu kelas!" ucapku membenarkan prasangka dokter Andika.
Setelah aku mengatakan kalimat itu wajah dokter Andika sangat terkejut.
"Apa?" dia bertanya seolah-olah telinganya sedang bermasalah dan aku harus mengulangi apa yang aku katakan lagi.
"Kamu, jangan bercanda Rasti?" tanya nya lagi.
__ADS_1
Aku sudah mulai bisa membaca kalau dia sepertinya sangat kecewa padaku. Itu bagus juga sih, kalau dia ilfil kan besok dia tidak akan jadi mengajakku jalan-jalan. Dan aku bisa pergi jalan-jalan dengan Kak Yoga.
Aku sudah merasa sangat senang dalam hatiku, tapi sayangnya kesenangan dalam hatiku itu tidak berlangsung lama.
"Baiklah, mulai sekarang aku juga akan membantu mu belajar!" ucapnya dengan mantap juga dengan penuh percaya diri.
Aku juga tidak percaya dengan apa yang dia katakan, aku langsung mengernyitkan dahiku dan menatap takjub ke arahnya. Apa-apaan orang ini, apa semua profesi mau dia borong sendiri. Sudah dokter, pengusaha muda yang sukses, dan apa dia juga seorang guru.
"Memangnya dokter juga seorang guru?" tanya ku memastikan.
Dia kemudian menggelengkan kepalanya.
"Bukan, tapi paman ku adalah seorang profesor di salah satu universitas terbaik di kota ini!" jawabnya penuh dengan percaya diri.
'Hah, aku rasa keluarganya semuanya memang memborong semua profesi yang ada di dunia ini. Dokter, profesor, pengusaha, apalagi?' tanya ku dalam hati.
"Terimakasih banyak pak Andika, kalau anda mau membantu putri saya ini saya sangat berterima kasih. Sebuah kehormatan bagi kami menerima tawaran dari Pak Andika!" sahut Ayah yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang dokter Andika.
Dan ayah, dia sangat sedang mendengarkan perkataan dari dokter Andika itu dia bahkan tertawa dan menepuk bahu dokter Andika.
"Iya, iya kamu memang masih sangat muda untuk dipanggil Pak. Baiklah saya akan panggil kamu nak Andika saja ya!" kata ayah.
Dan perkataan Ayah itu langsung dibalas dengan sebuah anggukan kepala oleh ayah.
'Fix, ayah suka banget sama nih orang. Terus gimana selanjutnya hubungan gue sama kak Yoga?' aku mengeluh dalam hati.
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh kak Tirta berhenti di depan kami. Dan kami semua pamit kepada Pak Tantowi dan juga dokter Andika. Dan yang lebih membuatku terkejut lagi, dokter Andika bahkan membukakan pintu mobil untukku.
"Terimakasih!" ucapku berbasa-basi lalu masuk ke dalam mobil dan ketika dokter Andika sudah menutup pintunya aku langsung memalingkan wajahku darinya.
__ADS_1
Akhirnya Kak Tirta mengemudikan mobilnya melaju dan meninggalkan kawasan hotel. Aku bernafas dengan lega karena tidak harus berpura-pura ramah dan sopan lagi.
Ayah yang duduk di kursi penumpang bagian depan membalikan sedikit badannya kebelakang dan melihat ke arahku.
"Sepertinya nak Andika menyukaimu nak?" tanya ayah.
"Ih, ayah kok malah ngomong gitu bukannya Ayah yang bilang kalau Lesti nggak boleh pacaran sampai lulus sekolah?" tanya ku balik pada ayah.
"Itu kan kalau sama anak yang nggak jelas, pria yang Ayah nggak kenal. Tapi nak Andika kan berbeda, dia itu dewasa dan keluarganya juga keluarga yang terpandang. Dia jelas adalah pengusaha sukses dan kamu akan senang nanti kalau bisa hidup berdampingan dengan nak Andika!" kata ayah panjang lebar.
"Jadi kalau sama pria dewasa Rasti boleh pacaran gitu?" tanya ku pada ayah.
"Ekhem... !" ibu Rita yang duduk di sebelah aku langsung berdeham ketika aku menanyakan hal itu kepada ayahku.
"Mas, kan Rasti masih sekolah. Gak usah ngomongin masalah yang serius kayak gitu dulu ya! nanti konsentrasinya di sekolah bisa nggak fokus, nilainya kan akhir-akhir ini sudah mulai bagus sudah mulai meningkat, kalau bahas masalah ini nanti takutnya konsentrasi Rasti malah balik lagi kayak dulu!" tutur ibu Rita tak kalah panjang dari apa yang dikatakan oleh ayahku tadi.
Ayah mengangguk-anggukan kepalanya pertanda kalau dia paham apa yang dikatakan oleh Ibu Rita.
"Benar juga, ya sudah kita lihat saja bagaimana nanti!" ucap ayah lalu kembali menghadap ke arah depan.
Aku melirik ke arah ibu Rita yang mengelus kepalaku dengan lembut. Aku tahu kalau Ibu Rita tadi sedang membantuku agar aku tidak salah bicara pada Ayah. Dan memang itu benar, tadi itu aku nyari saja menyebutkan tentang hubunganku dengan Kak Yoga.
Tapi meskipun dia adalah seorang pria dewasa tapi aku yakin kalau ayah tidak akan menyetujui hubunganku dengan Kak Yoga setelah apa yang ibunya dan kakak ipar ia lakukan padaku dan Ibu Rita.
Huh, rasanya sungguh melelahkan sekali memikirkan semua ini. Aku menyandarkan kepala ku di lengan ibu Rita. Aku sungguh tak tahu apa alasan yang harus kukatakan kepada kak Yoga besok. Tidak mungkin kan, kalau aku bilang tidak bisa pergi jalan-jalan dengannya karena aku harus pergi jalan-jalan dengan dokter Andika.
Jika dengan panci dan Markus saja yang notabene adalah anak bau kencur dia sudah cemburu, apalagi kalau yang mengajakku jalan-jalan itu adalah seorang dokter Andika. Dia pasti akan kebakaran jenggot meskipun dia memang tidak punya jenggot di wajahnya.
Aku memejamkan mataku, karena belaian lembut dari tangan Ibu Rita di kepalaku membuatku merasa sangat mengantuk. Aku berharap saat aku bangun nanti otakku berpikir dengan encer, dan bisa memberikan alasan yang tepat untuk kak Yoga. Agar dia tidak marah, dan tidak cemburu.
__ADS_1
***
Bersambung...