Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Dukungan Pacar


__ADS_3

David sepertinya benar-benar mengerti dengan apa yang aku katakan.


"Wah, kayaknya Marco beneran bakal patah hati ini Ras. Ya udahlah, masih cimon alias cinta monyet juga kan! yuk lah kantin yuk! laper gue!" ucap David sambil mengajak ku.


"Sorry, gue mau ke perpus. Udah janjian ma Yusita, gue duluan ya!" ucap ku lalu berjalan dengan cepat meninggalkan David.


Dengan langkah yang terburu-buru aku pergi ke perpustakaan, lebih tepatnya ke belakang perpustakaan. Aku juga tidak sedang ada janji dengan Yusita, aku mengatakan semua itu hanya untuk membuat alasan pada David.


Karena sebenarnya aku aku sudah ada temu janji dengan kak Yoga di belakang perpustakaan. Dan aku tidak mungkin mengatakan kebenaran itu kepada David ataupun teman-temanku yang lainnya.


Saat aku sudah berada di belakang perpustakaan, lebih tepatnya di belakang gedung perpustakaan. Aku melihat kekanan dan kekiri, aku melihat sekeliling dan tempat ini sangat sepi.


"Kenapa kak Yoga mau ketemuan nya disini sih, biasanya juga di rumah Pak Anteng. Kenapa disini sih?" aku terus menggumam karena aku tidak menyukai tempat ini.


Tempatnya yang berada di tengah-tengah antara taman belakang yang langsung berbatasan dengan pagar yang tinggi juga bangunan perpustakaan yang tinggi membuat tempat ini terkesan gelap dan lembab.


"Rasti!" panggil sebuah suara yang sangat aku kenal.


Aku segera menoleh kearah suara yang memang sedang aku tunggu itu.


"Kak Yoga!" sahabatku dengan suara yang pelan dan aku sudah mulai bisa menghembuskan nafasku dengan sangat lega.


"Kenapa ketemuan nya disini sih kak?" tanya ku dengan sedikit nada memprotes.


Kak Yoga bukannya langsung menjawab Dia malah tersenyum kecil.


"Ini, aku belikan kamu burger. Hari ini aku tidak ada jadwal mengawasi ujian jadi aku baru datang setelah menunggu toko burger itu buka!" jelas kak Yoga.

__ADS_1


Aku menerima 1 buah bungkusan yang berisi 2 buah burger itu dengan cepat. Aku sangat senang karena ini adalah makanan favoritku. Tapi mengesampingkan semua itu aku merasa sangat terharu, karena Kak Yoga sampai rela menunggu toko ikut terbuka dan segera membawa makanan ini kemari.


"Terimakasih banyak ya kak!" ucapku sembari tersenyum.


Aku kemudian terdiam karena berpikir sambil memandangi bungkusan burger yang ada di atas kedua telapak tanganku. Jika Kak Yoga tidak ada jadwal pengawas itu artinya dia tidak seharusnya kan datang ke sekolah. Lalu apakah tidak menimbulkan kecurigaan kepada guru yang lain, apakah mereka tidak akan menanyakan ada urusan apa kak Yoga ke sekolah.


"Tapi kalau kak Yoga tidak ada jadwal mengawasi ujian, apa tidak apa-apa kalau Kak Yoga datang ke sekolah?" tanya ku sedikit mencemaskan pendapat penghuni sekolah ini.


Kak Yoga kembali hanya tersenyum ringan dan mengelus kepalaku dengan lembut.


"Tidak apa-apa, kan aku bisa memberi alasan kepada mereka untuk memeriksa beberapa tugas kalian yang sudah kalian kumpulkan tapi belum aku nilai!" jawab kak Yoga.


Aku mengangguk paham. Lalu Kak Yoga mengajakku duduk di sebuah bangku panjang yang ada di tempat itu. Dia menemaniku makan burger, aku tahu dia tidak suka makanan yang aku sukai ini. Tapi bahkan dia masih membelikannya untukku.


Tidak hanya menemaniku makan dia juga memberikan ku beberapa materi tentang ujian selanjutnya yaitu pelajaran ekonomi. Dia menjelaskan sambil melihat layar ponselnya, aku mendengarkan apa yang dia jelaskan sambil memakan burger di tanganku dengan lahap.


Beberapa menit berlalu, aku sudah selesai menghabiskan 2 burger. Dan juga sudah mendengarkan beberapa materi pelajaran ekonomi. Kak Yoga lantas memintaku agar segera kembali ke dalam kelas, karena sebentar lagi pun ujian kedua akan dimulai.


Aku tersenyum senang dan mengangguk kan kepala ku dengan mantap. Beberapa waktu ini nilaiku memang lebih baik, setelah Kak Yoga mengajariku beberapa mata pelajaran.


Aku segera berjalan kembali ke ruang kelasku, tapi saat aku akan masuk ke dalam kelas. Di koridor menuju ke kelasku melaksanakan ujian terdapat kerumunan beberapa orang. Aku juga ikut penasaran, aku mendekati kerumunan itu dan melihat kalau ada seorang siswi yang tengah pingsan. Aku mengenal siswi berkacamata itu, dia adalah Mitha, anak IPA kelas sebelas juga.


Saat aku datang, sudah ada beberapa guru yang juga ikut berkerumun di sana dan meminta agar siswa itu segera dibawa ke UKS. Tapi yang menarik perhatianku adalah saat aku hendak berjalan menuju kelas aku melihat seseorang berlari, dan dia adalah Dino, temannya Friska.


Tapi aku sudah tidak mau ikut campur lagi, masalah aku yang satu itu saja belum selesai. Aku tidak ingin terlibat masalah lagi. Atau ujianku mungkin akan berantakan.


Aku kembali ke kelas dan benar saja, ketika aku masuk bel masuk istirahat juga berbunyi.

__ADS_1


"Eh Rasti, darimana lu. Yusita tadi tuh ada di kantin!" seru David dari kursinya.


"Kan gue udah bilang kau dari perpustakaan!" jawab ku santai.


"Ck... tapi Yusita bilang dia gak janjian sama lu, nah lu janjian sama siapa?" tanya David yang masih saja kepo.


"Sama gue!" celetuk Luthfi lalu duduk di kursinya.


Entah kenapa, beberapa siswa di sekolah ini memang tidak mau terlalu dekat dengan Luthfi. Bahkan David yang terkenal tukang ngebanyol, juga memilih diam ketika Luthfi sudah bicara.


Aku juga ikut duduk karena guru pengawas sudah masuk ke dalam kelas. Aku pun mengerjakan ujian selanjutnya.


Pelajaran ekonomi adalah pelajaran yang cukup sulit. Tapi karena kak Yoga beberapa waktu lalu baru saja membelikan aku materinya maka, aku bisa dengan mudah mengerjakan beberapa soal pilihan ganda. Aku akan terkejut dengan apa yang aku lakukan. Dari dua puluh soal pilihan ganda, aku bahkan sudah mengerjakan 15 soal, dan ini belum sampai 1 jam.


Setelah beberapa waktu, aku akhirnya dapat mengerjakan semua soal sebelum waktunya habis. Aku bahkan sangat bangga dengan diriku sendiri saat ini. Ketika waktu ujian telah habis dan guru pengawas meminta kami untuk keluar dari dalam kelas, ponsel yang aku simpan di dalam tasku berdering.


Aku keluar dari dalam kelas, setelah itu baru aku membuka tasku dan meraih ponsel yang ada di dalamnya. Aku melihat ke arah layar ponsel dan tertera pemanggilnya adalah Kak Tirta.


Dengan cepat aku menggeser icon tombol hijau yang ada di layar ponselku.


"Halo kak!" kata ku.


"Rasti, ban motor kakak tiba-tiba kempes. Dan kayaknya ini bocor deh. Kamu jangan keluar dari sekolahan dulu ya, tungguin kakak!" seru kak Tirta.


Deg


Tiba-tiba saja, aku merasakan firasat buruk. Karena aku melihat empat orang anggota geng Friska sedang berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri dan sedang memandang tajam ke arahku.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2