Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Kak Tirta


__ADS_3

Aku perlahan membuka mataku, kali ini aku bisa melakukan nya tidak seperti sebelumnya. Aku melihat ke segala arah, dan aku tahu ini adalah kamar rawat di rumah sakit. Aku mengedarkan pandangan ku lagi, kali ini pada seseorang yang sedang duduk sambil tertidur sambil memeluk tangan ku.


"Tirta!" lirih ku pelan.


Tanpa kusadari air mataku menetes, aku kini menyadari apa yang sebenarnya terjadi padaku. Semalam dalam ketidaksadaran ku, aku mendengar semuanya.


Semalam Aku mendengar suara dua orang yang bercakap-cakap saat aku masih memejamkan mataku. Yang satu ku yakini adalah suara Tirta, tapi yang satu lagi aku tak tahu suara siapa. Aku ingin membuka mataku, tapi rasanya sangat berat. Aku mencoba untuk menggerakkan tubuh ku, tapi tidak bisa seperti sedang tertimpa beban yang begitu berat.


Aku hanya bisa mendengar mereka berbincang-bincang tanpa bisa membuka mata ataupun menggerakkan tangan dan anggota tubuh ku yang lain.


Aku mendengar apa yang selama ini ingin ku cari tahu, aku mendengar tentang bagaimana ibu bisa berpisah dengan ayah ku. Aku mendengar bagaimana aku bisa bertemu dengan Tirta dan juga tante Rita. Masa lalu yang hilang dari ingatan ku. Aku mendengar semua itu, aku bahkan sangat terkejut dan rasanya aku bahkan tidak sanggup untuk menangis.


Saat itu juga aku merasa sangat menyesal karena selama ini sudah bersikap tidak baik pada ibu Rita dan juga Tirta.


Aku mencoba untuk melepaskan tangan ku dari pelukan Tirta dan mencoba menyentuh tangan Tirta.


"Kak!" panggil ku pelan padanya.


Aku rasa saat ini air mataku benar-benar sudah membanjiri wajahku. Aku mulai terisak, dan seperti menyadari kalau aku menangis. Tirta akhirnya bangun.


Dia membuka matanya dan melihat ke arah ku, namun dengan cepat dia berdiri dan mengusap wajahku.


"Rasti, ada apa? kenapa menangis? apa ada yang sakit? dimana yang sakit?" tanya nya bertubi-tubi dan aku tahu kalau dia sangat panik saat melihat ku menangis.


Aku menggeleng kan kepala ku perlahan. Karena jujur saja aku tidak tahu kenapa tubuh ku rasanya sakit semua.


"Gak ada yang sakit hiks... hiks...!" jawab ku pelan.


"Kenapa lu nangis? lu mimpi buruk? Rasti lu kenapa? gue panggil dokter ya?" tanya nya dan bersiap untuk segera melangkah pergi memanggil dokter.


Tapi tangan ku yang masih memegang tangannya, menariknya sedikit agar dia tidak pergi.


"Kakak.. hiks... boleh gak gue hiks.. hiks... peluk lu?" tanya ku gugup, aku takut sekali mengatakan kalimat itu, tapi aku ingin mengatakan nya.


Tirta malah tertegun, dia bahkan tak berkedip untuk beberapa saat. Tapi kemudian dengan cepat dia mendekati ku dan memelukku dengan erat.


Aku bisa mendengar nafasnya yang begitu tak beraturan, dan aku bisa mendengar dia juga sesekali terisak.

__ADS_1


"Rasti, lu panggil gue apa tadi?" tanya nya masih memelukku dengan erat.


"Kakak, kak Tirta!" ucap ku dengan mantap.


Tirta benar-benar terisak setelah aku mengatakan kata itu, dia bahkan seperti tak mau melepaskan aku dari pelukan nya. Untuk saat yang lama, kami saling mencurahkan perasaan kami sebagai kakak dan adik.


"Selamat pagi!" sebuah suara membuat Tirta melepaskan pelukannya dariku.


"Selamat pagi dokter!" jawab Tirta yang membelakangi dokter itu untuk menghapus air matanya.


Dia juga meraih tissue di atas meja dan menyeka air mata ku.


"Rasti, bagaimana perasaan mu sekarang?" tanya dokter tampan dengan kacamata berlensa kotak itu sambil tersenyum.


"Aku sudah baikan dokter, terimakasih!" jawab ku.


"Sangat terlihat, aku senang melihat kakak dan adik yang begitu dekat seperti kalian. Sayang nya aku anak tunggal!" ucap nya sambil tersenyum dan menggenggam tangan ku.


Karena kaget, aku lantas menarik tangan ku dengan cepat.


"Maaf, apa aku mengejutkan mu? aku hanya ingin memeriksa mu!" jelasnya.


"Dia hanya akan memeriksa mu!" ucap nya pelan.


"Maaf dokter, saya terkejut tadi..!"


"Tidak apa-apa, sekarang bolehkah saya menyentuh tangan mu?" tanya dokter itu sangat sopan.


Aku kembali meletakkan tangan ku ke dekat tangan dokter itu. Dia kemudian memeriksa nadiku dan juga detak jantung ku. Dia bahkan meminta ijin lagi ketika akan meletakkan stetoskop yang sudah dia pegang ke dadaku.


"Sudah sangat baik, tunggu sampai laporan medis nya keluar, dan kamu bisa pulang juga kembali ke rumah. Senin ini kamu akan ujian bukan?" tanya dokter itu.


Aku rasa dokter ini sangat ramah dan juga sopan. Tirta terlihat senang mendengar itu, dia langsung mengusap rambut ku dengan lembut.


"Benar kata dokter Andika, lu senin itu ujian. Jangan pikirin yang lain ya, fokus buat kesembuhan lu!" seru Tirta.


Aku tahu Tirta berusaha memberitahukan padaku jika aku harus fokus pada ujian ku dan bukan pada pak Yoga ataupun ibunya yang datang dengan marah-marah dan menghinaku seperti kemarin.

__ADS_1


Aku mengangguk pelan.


"Iya kak!" jawab ku pelan.


Tok tok tok


Suara seseorang mengetuk pintu, membuat kami bertiga melihat ke arah yang sama. Seorang perawat membawa satu bungkus kantong plastik putih susu besar dan menghampiri dokter Andika.


"Dokter ini bubur ayam dan juga milkshake nya!" ucap suster itu sambil memberikan bungkusan itu pada dokter Andika.


"Terimakasih suster!" ucap dokter Andika lalu menerima bungkusan itu.


"Sama-sama dokter, permisi!" ucap suster itu yang pergi keluar setelah dokter Andika mengangguk kan sekali kepalanya.


"Tirta, Rasti ayo kita sarapan bersama!" serunya sambil menghampiri kami.


Aku dan Tirta saling pandang sekilas. Aku tidak tahu kalau dokter ini sudah sangat dekat dengan Tirta, apakah seseorang yang berbincang dengan Tirta semalam adalah dokter Andika.


Belum juga mendengar persetujuan ku dan Tirta, dokter Andika langsung memutar panel yang mengatur posisi tempat tidur ku, dia memposisikan ranjang pasien ku dengan setengah duduk.


"Apa ini cukup?" tanya dokter Andika.


Aku lalu berusaha untuk, duduk. Meskipun masih sedikit nyeri pada tulang-tulang ku tapi aku bisa melakukan nya.


"Hah, jawaban yang bagus. Kalau begitu akan ku kembalikan pada posisi semula!" ujar dokter itu tersenyum.


Dia lalu kembali memutar panel dan tempat tidur pasien ku ini kembali pada posisi semula. Dia membuka bungkusan itu dan memberikan satu bowl pada Tirta.


"Tirta ini untuk mu!" ucap nya pada Tirta dan Tirta pun menerima bowl makanan bubur ayam itu.


"Terimakasih!" ucap Tirta.


"Dan yang ini...!" ucap nya sambil membuka tutup bowl bubur ayam yang kulihat masih mengeluarkan asap. Kurasa bubur ayam itu masih panas.


"Aku akan menyuapi Rasti!" ucap nya tiba-tiba dan membuat ku dan Tirta kembali saling memandang satu sama lain.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2