
Aku masih berjalan menuju area parkir ketika melihat Bu Tari berdiri di samping mobil pak Yoga sambil membawa sebuah kotak yang sepertinya adalah sebuah kotak kue.
"Ih, apa Bu Tari mau bikin pacar gue diabetes, dikasih kue mulu!" gumam ku lalu berjalan mendekati Bu Tari.
Tapi aku lihat dia sudah membawa tas nya dan sepertinya juga sudah mau pulang. Apa dia janjian ya sama kak Yoga, tapi kalau dia janjian kenapa kak Yoga menyuruh ku menunggu nya di mobil dan bilang akan menelpon kak Tirta dan mengatakan pada kak Tirta kalau tidak perlu menjemputnya.
"Selamat siang Bu!" sapa ku.
Tapi Bu Tari seperti nya tidak fokus padaku, dia lebih fokus ke arah koridor dari ruang panitia pelaksana ujian.
Aku juga melihat ke arah yang sama, tapi tidak ada yang keluar dari sana.
"Bu Tari, selamat siang!" sapa ku sekali lagi pada Bu Tari dan kali ini aku menggunakan nada suara yang sedikit meninggi.
"Eh!" itulah reaksi pertama yang diucapkan oleh Bu Tari dia terlihat sangat terkejut.
"Rasti, kamu sudah pulang. Kok lewat sini?" tanya padaku.
Benar juga, apa yang harus aku jelaskan kalau aku pulang tapi malah lewat dari tempat ini. Ini kan malah jauh sekali dari arah pintu gerbang kenapa juga tadi aku harus berinisiatif untuk menyapa Bu Tari.
Aku langsung menggaruk tengkukku yang terasa sebenarnya tidak gatal.
"Em itu, anu Bu. Kakak saya telat jemput nya, jadi saya pikir nunggu disini aja, sekalian ngadem!" ucapku.
Aku rasa itu alasan yang cukup masuk akal karena di area parkir mobil para guru ini ada atapnya. Dan aku langsung duduk di sebuah pembatas antara taman dan tempat parkir yang terbuat dari semen.
"Ibu nungguin siapa?" tanya ku setelah aku duduk manis.
Bu Tari menoleh dan tersenyum kecil, tapi kalau yang aku lihat senyum manis itu seperti orang menahan buang air. Sepertinya sangat di paksakan dan tidak natural sama sekali.
"Tidak usah Rasti, ibu sedang menunggu pak Yoga!" jawab nya.
Dan aku sama sekali tidak terkejut mendengar jawaban dari Bu Tari karena aku sudah menduga hal itu. Dia saja berdiri di samping mobilnya kak Yoga, memangnya siapa lagi yang sedang dia tunggu. Aku juga hanya berbasa-basi menanyakan hal itu.
__ADS_1
Aku juga diam saja setelah jawaban terakhir dari Bu Tari. Tapi tiba-tiba saja bu Tari menghampiri ku dan duduk di sebelah ku.
"Rasti, kamu sudah punya pacar belum?" tanya Bu Tari yang membuat ku langsung mengernyitkan dahi ku.
"Hah, kok ibu nanya gitu?" tanya ku balik.
Aku tidak mengira bahwa bu Tari akan menanyakan hal itu kepadaku. Aku harus jawab apa, masa' iya aku bilang kalau aku sudah punya pacar dan pacar ku itu adalah orang yang sedang dia kejar. Bisa pingsan mendadak kan dia.
Aku langsung nyengir dan menjawabnya.
"Gak boleh pacaran sama ayah Rasti Bu!" jawab ku.
Bu Tari langsung mengangguk paham.
"Gitu yah, sama dong kayak ibu. Dulu waktu sekolah ibu selalu di larang sama orang tua dekat sama siapapun, sampai lulus kuliah ibu belum punya pacar, karena ayah tuh selalu antar jemput ibu kalau kuliah, akhirnya sampai sekarang ibu gak tahu gimana cara ngungkapin perasaan ibu sendiri!" jelasnya panjang lebar.
Aku juga langsung memperhatikan apa yang di katakan oleh Bu Tari. Dari ekspresi wajah yang ditunjukkan sepertinya dia berkata jujur. Aku jadi sedih melihatnya, dia mungkin sudah berusia di atas 25 tahun, tapi sama sekali belum pernah pacaran. Pasti hidupnya sangat hambar.
Tapi kalau yang dia sukai itu adalah pacarku, aku juga tidak akan mengalah padanya. Aku sangat menyukai kak Yoga begitu pula dengan kak Yoga.
Aku makin terkejut, Bu Tari menanyakan itu untuk apa. Kalau dia ingin mencari tahu tentang kak Yoga kenapa bertanya padaku.
"Pak Yoga baik, sepertinya. Dia jarang marah!" jawab ku membuat kesan sangat biasa pada Bu Tari.
"Kamu benar, dia sangat baik. Pasti banyak juga kan yang suka sama dia. Menurut kamu, ibu punya kesempatan tidak ya?" tanya Bu Tari makin menunjukkan kalau dia menyukai kak Yoga.
"Saya tidak tahu Bu, kenapa ibu tidak langsung tanya pada pak Yoga saja!" jawab ku yang mulai tidak suka pada pertanyaan-pertanyaan Bu Tari.
Dan sialnya ketika mengatakan kalimat itu, orang yang sedang kami bicarakan datang mendekati mobilnya.
Aku memilih untuk tetap duduk agar tidak membuat bu Tari curiga kepadaku. Dan benar saja Bu Tari malah justru langsung berdiri dan memanggil kak Yoga.
"Pak Yoga!" panggil Bu Tari.
__ADS_1
Kak Yoga memang sekilas melihat ke arahku tapi kemudian dia memperhatikan Bu Tari lagi. Dan itu membuat aku ingin melempar kunci mobil Kak Yoga ke dalam kolam di dekat tempat parkir mobil para guru.
'Bisa-bisanya dia malah perhatian sama orang lain!' omel ku dalam hati.
Bu Tari menghampiri kak Yoga yang terlihat berusaha membuka pintu mobilnya tapi tidak bisa.
"Pak Yoga, ini saya ada kue buat pak Yoga!" ucap Bu Tari sambil tersenyum manis. Dia bahkan terlihat malu-malu saat menyerahkan kotak kue yang ada di tangan nya pada kak Yoga.
Aku melotot saat kak Yoga melirik ke arah ku. Tangannya yang tadi terulur untuk mengambil kotak kue itu kemudian dia tarik kembali.
'Awas aja kalau di ambil, gue bakalan gak mau ngomong lagi sama dia!' ucap ku dalam hati.
"Pak Yoga, ini buatan saya sendiri!" ucap Bu Tari lagi.
"Maaf Bu Tari, tapi saya akan jujur pada Bu tari. Saya ini punya riwayat diabetes, jadi mohon maaf saya tidak bisa menerima kue yang di berikan oleh Bu Tari!" jelas kak Yoga.
Aku pasti mengernyitkan dahiku dan melihat ke arah Kak Yoga.
'Alasan macam apa itu, langsung to the point aja sih bilang udah punya pacar, ih bikin kesel aja!' keluh ku lagi dalam hati.
"Oh begitu, maaf saya tidak tahu. Kalau begitu lain kali akan saya buatkan yang rendah gula saja!" ucap Bu Tari yang sepertinya belum menyerah.
Kak Yoga kembali melihat ke arah ku. Dan aku mengepalkan tangan ku ke arahnya.
"Maaf Bu Tari, Bu Tari tidak perlu seperti itu, tidak enak sama guru-guru yang lain!" ucap Kak Yoga lagi memberi alasan.
Aku memalingkan wajah ku saat dia kembali melihat ke arahku.
"Saya pulang dulu ya Bu Tari. Bu Tari juga pasti mau pulang kan?" tanya pak Yoga.
'Ih, kenapa malah nanya gitu sih? kalau dia mau pulang bareng gimana coba!' omel ku dalam hati.
***
__ADS_1
Bersambung...