Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Alasan Yoga tidak Mau Pulang


__ADS_3

Aku melihat ke arah garasi, untung saja tidak ada mobil ayah di sana. Kalau saja ayah sudah pulang, aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku berpikir sebentar, aku sempat ingin menghubungi kak Yoga. Karena aku yakin kak Yoga pasti belum jauh.


Tapi setelah aku pikir, kalau aku melakukan itu. Pasti Tante Asti dan kak Yoga akan ribut, dan hubungan mereka pasti akan lebih buruk lagi dari sekarang. Lebih baik aku hadapi sendiri saja Pai shu Chen itu.


Aku langsung berlari masuk ke dalam rumah. Aku juga tidak lihat motor Tirta, pasti dia juga belum pulang. Aku langsung masuk ke dalam rumah dan benar saja, saat aku sudah masuk ke dalam rumah. Aku melihat Tante Asti sedang marah-marah pada ibu Rita.


"Ajari anak kamu itu dengan benar! dia sudah membawa pengaruh buruk untuk putra ku!" teriak Tante Asti di depan ibu Rita.


Aku sampai menepuk jidat ku sendiri, dimana-mana Tante Asti selalu berteriak, apa dia ini masih saudara nya Tri Utami.


'Pengaruh buruk, pengaruh buruk. Pengaruh buruk apa, selain suka makan fast food mana ada gue kasih pengaruh buruk buat kak Tirta!' omel ku dalam hati.


Ibu Rita terlihat hanya menghela nafas dan diam saja, sambil memperhatikan Tante Asti yang terus mengomel dari tadi.


"Ih Tante nih gak bisa di bilangin ya!" ucap ku dari arah belakang Tante Asti lalu berjalan mendekati ibu Rita.


"Ibu gak papa kan?" tanya ku pada ibu Rita.


Ibu Rita langsung merangkul ku dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, kamu jangan bicara begitu pada orang yang lebih tua Rasti, masuk kamar saja ya. Biar ibu yang bicara pada ibunya Yoga!" ucap ibu Rita padaku dengan lembut.


"Tapi ibu... !"


"Rasti, percaya sama ibu kan?" tanya ibu Rita padaku.


Aku akhirnya memilih untuk menuruti ibu Rita. Aku melihat sekilas ke arah Tante Asti yang masih memperlihatkan raut kesal dan marah. Aku memicingkan mataku ke arahnya, aku rasa hubungan kami memang sudah tidak bisa di perbaiki lagi.


Aku lalu berjalan menuju anak tangga, menaiki nya satu demi satu hingga sampai di lantai dua. Aku berjalan perlahan, agar bisa mendengarkan apa yang di bicarakan oleh ibu dan Tante Asti. Aku masuk ke dalam kamar tapi tidak menutup pintu kamar ku dengan rapat agar aku bisa mendengarkan dari jarak ini.


"Nyonya Adrian, seperti nya anda sudah salah paham pada putri saya..."

__ADS_1


Tapi baru ibu akan menjelaskan, Tante Asti sudah menyela dengan bentakan.


"Tidak ada salah paham, putri kamu sudah membuat anak ku melawan ku. Yoga tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sejak dia mengenalkan anak nakal itu...!"


"Cukup nyonya, saya tidak akan mempermasalahkan anda selalu mengatakan saya tidak becus mendidik anak atau yang lainnya, tapi saya tidak suka anda menyebut anak saya, anak nakal. Rasti bukan gadis seperti itu, nyonya bisa tanyakan sendiri pada anak nyonya, dia atau putri saya yang lebih dulu menyatakan perasaannya!" tegas ibu Rita.


Aku rasanya ingin bersorak, ibu keren sekali.


'Bagus ibu, rasakan kamu Pai shu Chen!' seru ku dalam hati.


Aku begitu senang melihat ibu Rita bersikap tegas seperti itu. Aku bahkan belum pernah melihat ibu Rita bicara dengan nada tinggi seperti itu.


"Itu pintu keluar nya, silahkan keluar. Sebelum kesabaran saya habis!" tegas ibu Rita lagi.


Aku mengintip dari pintu kamar ku di lantai dua, wajah Tante Asti merah padam. Dia benar-benar sangat kesal.


"Aku yakin suami mu tidak tahu kan hubungan anak ku dengan anak mu, lihat saja apa yang akan aku lakukan, kalian berdua akan menerima akibat perlakuan kalian padaku ini!" gertak Tante Asti sebelum keluar dari rumah ku.


Ditambah masalah pribadi kak Yoga dengan kakak iparnya itu yang membuat kak Yoga bersikeras untuk tidak mau pulang ke rumahnya. Aku jadi pusing sekali, akhirnya aku yang di salahkan. Padahal alasan kak Yoga tidak mau tinggal di rumah ayah nya kan karena perempuan bernama Sofie itu tinggal di sana, bukan karena aku.


"Rasti, ibu tahu kamu berdiri di pintu. Cepat ganti baju. Ibu tunggu di meja makan!" ucap ibuku.


Aku menyembulkan kepala ku.


"Siap komandan!" ucap ku sambil menunjuk kan sikap hormat pada ibu Rita seperti saat menghormat pada bendera yang akan di kibarkan.


Setelah melihat reaksi ibu Rita yang tersenyum. Aku langsung masuk ke dalam kamar, mandi dan langsung ganti baju. Setelah merapikan penampilan ku, aku langsung turun dari lantai dua, menuruni anak tangga satu demi satu hingga akhirnya tiba di lantai satu, aku langsung menuju ruang makan.


"Bu, ayah sama kak Tirta belum pulang ya?" tanya ku sambil duduk di kursi ku dan membalikkan piring ku dari posisi telungkup ke posisi terbuka.


Ibu Rita berdiri dari duduknya lalu mengambilkan nasi dan lauk pauk untukku.

__ADS_1


"Sudah, mereka sedang menghadiri undangan salah satu teman ayah mu. Makan dulu, setelah itu ibu ingin dengar semua cerita tentang calon ibu mertua mu itu!" ucap Bu Rita yang membuat ku tersedak padahal aku belum memasukkan makanan ke dalam mulutku.


"Uhukk uhukk!" aku tersedak angin sepertinya.


"Ibu bilang apa tadi, calon ibu mertua?" tanya ku tak percaya.


'Ibu pasti bercanda, mana mungkin Pai shu Chen itu jadi ibu mertua ku, tapi kalau tidak begitu, artinya aku tidak akan menikah dengan kak Yoga dong. Ih, tuh kan nikah lagi yang kepikiran!' gumam ku dalam hati.


"Sebenarnya kak Yoga itu gak mau pulang bukannya karena Rasti Bu!" jelas ku pada ibu Rita.


Ibu Rita yang kembali duduk di kursinya dan mulai makan malam, terlihat menunjukkan raut heran dan bingung.


"Maksud nya gimana?" tanya ibu Rita.


"Rasti cerita sama ibu, tapi ibu janji ya jangan cerita ke siapa-siapa!" ucap ku dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


Ibu Rita tersenyum.


"Baiklah, ibu tidak akan cerita pada orang lain!" sahut ibu Rita.


"Jadi alasan kak Yoga hak mau tinggal di kediaman Adrian itu karena kakak iparnya tinggal di sana!" jelas ku pada Ibu Rita.


"Kenapa? dia gak suka sama kakak iparnya itu?" tanya ibu Rita penasaran.


Aku langsung menggelengkan kepala ku dengan cepat.


"Bukan Bu, tapi karena kakak iparnya kak Yoga itu dulunya adalah mantan kekasih kak Yoga!"


"Apa?" tanya ibu Rita yang terkejut mendengar apa yang aku katakan.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2