
Sementara itu, saat Tirta menghubungi nya. Yoga baru saja selesai mandi dan masih memakai celana pendek juga kaos oblong. Masih dengan handuk yang melingkar di lehernya yang awalnya dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Yoga meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Dia masih berfikir, kenapa Tirta sangat marah, apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga menyebutkan ibunya dan juga calon menantunya.
"Apa jangan-jangan ibu dan Sofie...!"
Yoga belum menyelesaikan ucapannya, bahkan dia belum menyisir rambutnya. Saat ini yang di pikirkan adalah bagaimana keadaan Rasti dan apa yang sudah ibunya lakukan pada Rasti sehingga Tirta begitu emosi padanya.
Yoga segera keluar dari kamarnya dan meraih kunci mobil di atas meja. Dia membuka pintu dan dengan cepat menguncinya lagi. Dengan hanya menggunakan sandal dia langsung membuka pintu gerbang, masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju rumah Rasti. Dia sungguh ingin tahu apa yang telah terjadi sebenarnya.
***
Sementara itu di rumah sakit, setelah setengah jam mendapatkan penanganan di dalam ruang ICU. Rasti akhirnya di pindahkan di kamar rawat. Tapi dia masih pingsan.
Di dalam ruang rawat Rasti.
"Untung saja pembuluh darah di kepalanya tidak sampai pecah, jika tidak kemungkinan nya pasti sangat buruk! usahakan agar pasien tidak mengalami tekanan di batinnya maupun di pikiran nya, akan sangat berbahaya!" jelas Dokter muda yang bernama Andika itu.
Tirta terlihat mengusap wajahnya lega, dia bersyukur Rasti tidak sampai kembali ke kondisi nya beberapa tahun yang lalu. Jika tidak dia pasti akan membuat perhitungan dengan keluarga dari Yoga Adrian itu.
"Terimakasih dokter, terimakasih banyak. Dokter telah menyelamatkan adik saya, terimakasih...!" ucap Tirta tak henti hentinya mengatakan terimakasih pada dokter Andika.
Dokter Andika yang melihat kasih sayang Tirta pada Rasti itu menepuk bahu Tirta.
"Kamu sangat menyayangi adik kamu ya? beruntung sekali dia punya kakak seperti kamu!" ucap dokter Andika dengan tulus.
"Iya dokter, lalu kapan dia akan sadar Dokter?" tanya Tirta lagi.
"Beberapa jam lagi, dia harus istirahat. Apa kamu hanya tinggal berdua dengan adik mu?" tanya dokter Andika yang sangat penasaran karena sejak tadi hanya Tirta yang menemani Rasti.
"Tidak dokter, kami tinggal bersama orang tua kami. Tapi saat ini mereka sedang berada di luar kota. Nenek saya juga sedang sakit!" jelas Tirta.
"Jadi begitu, sebaiknya kamu juga istirahat. Ini sudah sangat larut. Adik mu akan baik-baik saja. Dan besok pagi dia pasti akan segera sadarkan diri!" ucap dokter Andika yang perduli pada Tirta.
"Dokter Andika, anda masih disini? bukannya seharusnya anda sudah pulang? maafkan saya, saya datang terlambat!" ucap seorang dokter yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan rawat Rasti dengan perawat yang sejak tadi menemani dokter Andika.
Tirta hanya diam melihat kedua dokter itu,
__ADS_1
"Ada kasus darurat, aku juga akan disini menunggu sampai aku pastikan keadaan nya baik-baik saja!" ucap dokter Andika.
"Tapi dokter...!" sela dokter yang ber-name tag Lukman.
"Tidak apa-apa dokter Lukman, pasien ini mempunyai masalah khusus. Biar aku yang menanganinya. Tidak apa-apa kan?" tanya dokter Andika.
Dokter Lukman hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi!" ucap dokter Lukman sopan dan segera di balas anggukan oleh dokter Andika.
Tirta tidak terlalu memperdulikan percakapan mereka, dia hanya fokus melihat Rasti yang masih tertidur di atas ranjang pasien. Tirta menarik kursi dan memilih duduk di sisi Rasti
Dokter Andika mendekati Rasti dan kembali memeriksa nadi dan denyut jantung nya.
"Pasien sedang tidur, kamu juga harus istirahat!" seru dokter Andika pada Tirta yang terlihat sangat lelah.
Tirta menggelengkan kepalanya.
"Tidak dokter, saya tidak ingin lalai lagi. Saya tidak akan membiarkannya tidak dalam pengawasan saya lagi!" ucapnya lirih sambil terus memandang ke arah Rasti.
Dokter Andika yang merasa tertarik dengan kasus Rasti ini menarik kursi dan ikut duduk di sisi sebelah Rasti.
Tirta awalnya ragu untuk mengatakan kepada dokter Andika mengingat prasangka nya terhadap dokter Dona. Tapi setelah dokter Andika menjelaskan kalau cara penanganan pasien juga bergantung pada rekam mediknya maka Tirta menceritakan tentang penyakit lama Rasti pada Dokter Andika.
Setelah mendengar cerita Tirta, dokter Andika menghela nafasnya sangat berat.
"Seorang ibu kandung.... huh, aku tidak menyangka Rasti pernah mengalami hal yang menyakitkan seperti itu. Lalu apa yang membuatnya merasa tertekan, apa kalian bertengkar?" tanya dokter Andika karena Tirta tidak menceritakan penyebab Rasti bisa pingsan.
Menurut Tirta ini adalah masalah pribadi, jadi dia tidak ingin mengatakan nya pada dokter Andika.
"Tidak dokter, meski saya dan dia sering berdebat tapi saya juga tidak akan membuat nya tertekan!" jelas Tirta.
Dokter Andika cukup paham kalau Tirta tidak ingin menceritakan hal itu. Dan dia pun tidak ingin memaksa untuk tahu.
"Baiklah, tapi sebaiknya kamu istirahat. Dua jam sekali saya akan memeriksa kondisinya. Saya juga akan mempelajari rekam mediknya. Selamat malam Tirta!" ucap dokter Andika.
"Selamat malam dok!" sahut Tirta.
__ADS_1
***
Yoga Adrian sudah berada di depan gerbang rumah Rasti. Dia segera turun dari dalam mobil dan membuka gerbang uang tidak terkunci.
Tok tok tok
Yoga terus mengetuk pintu Rasti berulang kali dengan keras.
Ceklek
"Tuan Yoga!" sapa Bibi yang baru keluar setelah membuka pintu.
"Bibi, saya mau ketemu sama Rasti bi, apa dia baik-baik saja?" tanya Yoga cepat.
"Non Rasti pingsan tuan, sudah di bawa ke rumah sakit sama tuan Tirta!" jelas bibi.
"Rasti pingsan?" tanya Yoga terkejut.
"Kenapa Rasti pingsan bi?" tanya Yoga lagi.
"Tadi ada tamu tuan, dua orang wanita. Bibi sedang bikin minuman di dapur, tapi tamunya itu kedengaran marah-marah sama non Rasti, terus gak lama Tian Tirta teriak kalau non Rasti pingsan, terus bibi disuruh panggil taksi!" jelas bibi yang juga kembali sedih karena mengingat situasi tadi.
Yoga Adrian mengepalkan tangannya dengan kuat, dia yakin kalau ibunya dan juga Sofie telah mengatakan hal buruk pada Rasti.
"Bibi tahu gak, Rasti di bawa ke rumah sakit mana?" tanya Yoga kemudian.
Bibi menggelengkan kepalanya, membuat Yoga menghela nafas berat.
"Ya sudah bi, maaf saya sudah mengganggu!" ucap Yoga lalu berbalik dan bibi pun kembali menutup pintu.
Saat Yoga akan berjalan keluar, dia tersandung sesuatu. Dia melihat ke arah bawah, dan dia melihat sebuah amplop berwarna coklat yang sangat tebal dan cukup besar.
Yoga menunduk dan meraih benda itu, ada logo perusahaan ayahnya di pojok amplop itu. Dan betapa terkejutnya ketika Yoga membuka amplop itu dan melihat isinya.
"Ibu, aku tidak pernah mengharapkan ini dari ibu!" geram Yoga lalu membawa amplop itu bersamanya masuk ke dalam mobil.
***
__ADS_1
Bersambung...