
Dokter Andika mengajak ku ke sebuah lapangan yang luas, dia bilang dia akan mendirikan sebuah taman hiburan disana, juga sebuah perusahaan jasa lalu akan ada klinik dan perumahan mewah yang aman dan tertata rapi.
Aku berpikir dalam hati, sebuah perusahaan saja pasti dana yang di butuhkan sangat besar. Lalu di tambah dengan perusahaan, lalu klinik. Memangnya dia ini Erick Thohir atau koko yang punya pabrik rokok terbesar di Indonesia itu sih. Kalau dia sudah banyak yang kenapa dia masih bekerja menjadi dokter di sebuah rumah sakit yang ada di kota ini.
Sepanjang jalan dia terus menjelaskan tentang tempat ini, sampai kami tiba di pinggir sebuah danau.
"Disana juga akan ada kampus, intinya aku ingin membangun sebuah kota kecil untukku dan keluarga kecil ku, dengan segala fasilitas yang mudah di jangkau. Bagaimana menurut mu?" tanya nya padaku.
Meski aku tidak pintar, tapi yang aku tahu adalah butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk mewujudkan mimpinya itu.
"Dokter, aku rasa kamu butuh waktu dan biaya yang banyak. Aku tidak tahu kapan impian mu itu akan terlaksana. Tapi aku juga akan mendoakan nya untuk mu!" ucap ku berbasa-basi.
Dia malah tersenyum lalu meraih tangan kanan ku, aku terkejut dan sempat berusaha untuk menarik tangan ku itu. Tapi dokter Andika menggunakan tangannya yang satu lagi untuk menahan tangan ku agar tidak terlepas darinya.
"Dokter, ini...!"
"Kamu memang harus mendoakan aku, karena aku memang akan mewujudkan impian itu bersama mu!" ucapnya lalu mengecup punggung tangan ku.
Aku langsung bergidik ngeri. Dan langsung menarik kembali tangan ku begitu ada kesempatan.
Aku langsung maju ke depan sekedar memberi jarak dengannya.
"Dokter, dimana asisten mu. Hanya ada pekerja sepertinya disini?" tanya ku berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Meski aku tidak menyukai perlakuan dokter Andika, tapi dia juga tidak berlebih-lebihan dan tidak sopan. Dia masih dalam batas kesopanan ku kira. Dan yang lebih penting lagi adalah aku tidak mau merusak kerjasama ayah dengan dokter Andika.
"Kamu tidak mau tahu apa nama proyek ini?" tanya nya kemudian mendekat ke arah ku dan berdiri di depan ku.
Aku sedikit gugup, karena kali ini dokter Andika tersenyum. Dan itu membuatku gugup. Aku juga penasaran sebenarnya, sampai ayah langsung setuju bekerja sama dengan dokter Andika bahkan setuju dengan pertunangan kami.
Tapi aku tidak mau menduga-duga. Aku langsung menggelengkan kepalaku perlahan.
__ADS_1
"Azzura Dream land" jawabnya singkat padat dan jelas.
Mataku membelalak lebar mendengar apa yang dokter Andika katakan. Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Yang dia pakai itu nama belakang ku. Apa dia sedang bercanda.
"Benar Rasti, aku persembahkan Small City ini untuk mu, untuk hadiah pernikahan kita nanti!" lanjutnya.
Kepala ku rasanya berputar, rasanya seperti mendadak aku mengalami tekanan darah yang menurun drastis, anemia lah bahasa keren nya. Aku masih tak percaya dengan apa yang aku dengar. Dan saat aku masih tertegun, dokter Andika kembali berkata.
"Akan aku usahakan dalam waktu 15 bulan, proyek ini selesai. Selain perusahaan ayah mu, aku juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan lain. Akan ada satu bungalo disana, untuk hadiah kelulusan mu!" lanjut dokter Andika lagi.
Aku pasti bermimpi, atau aku pasti sedang di prank. Dan ini sama sekali tidak lucu. Aku langsung nyengir.
"He he he dokter, sudahlah. Tidak kah ini semua berlebihan? bagaimana kalau sebaiknya kita main itu saja... lihat itu dokter!" ucapku sambil menunjuk ke arah sebuah lapangan futsal kecil.
Aku rasa permainan itu sengaja di buat oleh para pekerja untuk mengusir rasa bosan mereka.
"Bermain bola?" tanya dokter Andika.
"Iya, bagaimana? tidak mungkin kan kalau dokter tidak bisa main bola?" tanya ku yang langsung berjalan menuju ke lapangan itu dan mengambil bola yang ada di tepi gawang.
Dokter Andika mengikuti ku dari arah belakang, dia melepaskan jaketnya dan di letakkan di atas sandaran kursi kayu yang ada disana. Lalu menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Dia juga melepas dua kancing kemeja paling atas. Dan berjalan ke arahku.
"Hanya bermain atau kita bisa bertanding?" tanya dokter Andika membuat ku terkekeh.
"Ayolah, aku tidak mungkin menang!" jawab ku dan itu memang benar.
Aku hanya ingin mengalihkan topik pembicaraan nya yang sejak tadi terus saja membicarakan hubungan kami, pernikahan dan hadiah. Aku bukan tipe perempuan seperti itu, yang di bilang di kasih hadiah, langsung tertarik dan berpindah haluan.
Aku mulai menendang bola ke arah gawang, tapi bola sepak itu terlalu berat. Sampai aku terjatuh karena kaki ku tak kuat menendangnya.
Brukk
__ADS_1
Aku terjatuh dengan posisi yang sangat tidak indah, nyaris terjengkang dengan kepala hampir menghantam tanah. Untung aku ini cukup terampil dalam senam lantai. Jadi aku bisa menahan kepala ku.
Saat dokter Andika melihat ku jatuh, dia malah terkekeh dan berjongkok di depan ku yang sudah dalam posisi duduk sambil membersihkan siku dan pakaian ku yang kotor karena terjatuh.
"Ha ha ha, kenapa kalau sudah tahu tidak bisa bermain sepak bola, masih mengajak ku main. Lain kali kamu harus menyeimbangkan antara kemampuan dan nyali mu Rasti!" ejek nya.
Aku tidak marah pada apa yang dia katakan, karena semua yang dia ucapkan itu memang benar. Sudah tahu tidak bisa main bola, bahkan menendangnya saja tidak kuat, aku malah mengajaknya bermain.
"Sudahlah dokter, aku tidak tahu kalau ternyata bola ini sangat berat!" ucap ku memberi alasan agar dokter Andika berhenti tertawa.
"Di sekolah bolanya tidak seberat itu!" lanjut ku lagi masih beralasan.
"Itu karena di sekolah hanya untuk pelajaran olahraga, aku yakin kalau siswa lelaki juga akan menggunakan bola asli seperti ini saat bermain!" sahutnya.
"Iya iya!" sahut ku tak mau memperpanjang perdebatan kami.
Kami lalu beralih ke sebuah perahu kecil di dekat danau dan mengitari danau itu, ternyata itu juga adalah danau buatan, tidak terlalu luas tapi lumayan lebar juga. Dia menceritakan tentang berapa luas tempat ini lalu apa saja yang akan di bangun di sekitar danau.
Setelah bermain perahu, dokter Andika kembali mengajak ku makan siang. Sebelumnya dia mengajakku untuk membeli pakaian ganti, karena pakaian ku kotor saat jatuh tadi. Setelah berganti baju dia mengajak ku ke sebuah restoran di dalam sebuah mall. Kami makan bersama lalu setelah selesai makan, aku kira kami akan pulang. Tapi ternyata aku salah, dia mengajak ku menonton film.
"Kamu serius?" tanya ku.
Dia mengangguk sekali.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya nya.
Aku menghela nafas panjang, kalau menurut tebakan ku pasti dia akan menonton film dewasa. Hadeh...
***
Bersambung...
__ADS_1