
Author POV
Setelah memutuskan panggilan teleponnya dengan Rasti. Yoga bergegas menuju pintu untuk membukakan pintu. Karena jika tidak ada tamu atau sudah petang, Yoga memang terbiasa mengunci pintu rumahnya. Bukan hanya demi keamanan semata, tapi semua itu di lakukan demi privasinya.
Ceklek
Brukk
Begitu Yoga membuka pintu, seseorang yang berada di luar pintu langsung masuk dan menubruk Yoga. Lebih tepatnya dia memeluk erat Yoga dan langsung menangis sejadi-jadinya di pelukan Yoga.
Yoga yang tidak siap mendapatkan serangan tiba-tiba itu awalnya terdiam karena dia terkejut. Tapi setelah melihat siapa yang memeluknya, Yoga langsung berusaha mendorong orang itu agar menjauh dari dirinya.
Wanita yang tengah membentuk Yoga itu tak mau melepaskan Yoga. Dia bersikeras untuk tetap berada dipelukanmu Yoga.
"Hei, apa yang kamu lakukan? lepaskan aku!" seru Yoga setelah bertanya pada wanita itu apa yang dia lakukan.
Wanita yang saat ini berada di depan Yoga dan memeluknya dengan kencang itu adalah kakak ipar sendiri, Sofie. Setelah dirinya bertengkar dengan ibu mertuanya dan juga suaminya tadi tidak ada pikiran lain dan tidak ada orang lain yang dipikirkan untuk dia temui selain menemui Yoga. Dia hanya ingin bertemu Yoga dan mencurahkan semua kesedihan dan beban di dalam hatinya.
Tapi Yoga berasa kalau apa yang dilakukan oleh Sofie ini adalah sebuah kesalahan dan akan berakibat buruk, bukan hanya itu tapi kalau ada orang yang melihat mereka seperti itu maka akan ada masalah besar karena kesalahpahaman pasti akan terjadi.
"Kakak ipar, sebaiknya kamu melepaskan aku sekarang atau aku akan berbuat kasar padamu!" gertak Yoga yang sudah berusaha mendorong kedua lengan kakak iparnya itu.
Dia tidak ingin menyentuh bagian lain, karena selain dia merasa tidak sopan pada kakak iparnya dia juga malas melakukannya.
"Aku tidak bercanda, aku benar-benar akan mendorong mu hingga kamu terjatuh!" bentak Yoga tidak main-main.
Tapi Sofie malah tidak menghiraukan peringatan dari Yoga. Dia tetap memeluk erat Yoga sambil masih menangis. Hingga kesabaran Yoga pun habis dia menghentakkan tubuh Sofie dan mendorongnya dengan kencang hingga terjatuh di lantai.
__ADS_1
Brukk
"Aughk!" pekik Sofie merasa kesakitan di pinggul dan juga lengan kanannya yang ketika terjatuh kedua bagian tubuhnya itu menghantam dengan keras ke lantai.
Sofie masih tetap menangis tersedu-sedu sambil memegangi lengannya yang terasa sangat sakit.
"Kenapa... hiks hiks... kenapa kalian semua menyakiti ku. Kenapa?" Sofie berteriak histeris.
Dia tak lagi dapat menahan sedih yang begitu mendalam di dalam hatinya dan pikirannya pun sekarang sudah dipenuhi dengan kecewa sedih dan kesal yang menjadi satu. Sofie sudah tidak dapat lagi berpikir secara logis.
"Aku hanya ingin bahagia, kenapa kalian semua tidak biarkan aku mendapatkan kebahagiaan ku. Kenapa?" teriak Sofie lagi disela Isak tangisnya yang terdengar begitu pilu.
Yoga yang awalnya sangat kesal dengan kedatangan kakak iparnya itu kini melihat ke wajah Sofie menjadi sedikit iba. Yoga bisa merasakan kalau tangis yang dikeluarkan oleh Sofie itu benar-benar dari dalam hatinya, kepiluan yang mendalam dan terlihat jelas di wajahnya kalau dia memang sangat putus asa kali ini.
Tapi di sisi lain, Yoga juga tidak ingin mengambil resiko. Jika dia menaruh iba dan membantu Sofie maka akan ada 2 masalah yang dia akan hadapi. Yang pertama dengan kakak kandungnya yang mungkin akan salah paham, kenapa disaat istrinya itu kalut dan sedih dia malah mendatangi Yoga. Lalu yang ke-2 dengan kekasihnya sendiri yaitu Rasti. Jelas jelas Rasti sangat tidak menyukai wanita bernama Sofie itu karena pernah memfitnahnya juga membuat ibu kandung Yoga membenci Rasti.
Yoga akhirnya memutuskan untuk meraih kembali ponselnya kemudian menghubungi kakak kandungnya yaitu Yoseph Adrian.
Nada nya memang tersambung, tapi cukup lama Josep tidak juga mengangkat panggilan telepon dari Yoga.
'Ck... mungkin kakak sedang meeting, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?' tanya Yoga dalam hati.
Tapi tak lama kemudian, ponselnya berdering. Dengan cepat Yoga langsung menggeser icon telepon berwarna hijau yang ada di layar ponselnya karena saat melihat nama pemanggil di sana tertera nama Yoseph Adrian.
"Ada apa Yoga? kakak tadi sedang berada di toilet!" ucap Yoseph terburu-buru.
"Kak, istrimu ada di rumah ku. Dia menangis dan terduduk di lantai. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi kalau kamu tidak sibuk sebaiknya bawa istri mau pulang, aku sudah memintanya pulang tapi dia tidak bergerak 1 senti pun dari tempatnya duduk!" ucap Yoga sengaja mengucapkan itu dengan kalimat yang tegas dan nada suara yang sedikit tinggi agar yang dibicarakan mendengar apa yang dia katakan pada kakaknya itu.
__ADS_1
"Astaga! aku akan ke sana secepatnya!" ucap Yoseph dengan terburu-buru mematikan panggilan teleponnya dengan Yoga.
Sofie yang mendengarkan apa yang dikatakan Yoga dan tahu dengan siapa dia bicara di telepon melihat kearah Yoga dengan tatapan yang begitu dalam.
"Kamu sungguh tega Yoga, aku hanya memiliki kamu saja, aku hanya ingin bicara denganmu. Kenapa kamu kalau menghubungi Yoseph?" tanya Sofie dengan suara lirih dan sesenggukan.
"Dia suami mu! dan kakak ku!" seru Yoga.
"Tapi Yoga kami bahkan baru bertengkar, aku hanya ingin mencari tempat untuk bisa mencurahkan kesedihan dan beban dihatiku!" ucap Sofie dengan mata yang masih basah dan berkaca-kaca dan suara yang bergetar.
"Sudahlah kakak ipar, aku bukanlah orang yang tepat. Aku adalah adik ipar dan seharusnya kamu berpikir sebelum datang kemari dan ingin menyampaikan niat mu itu. Sebuah kesalahan kalau kamu berpikir kamu bisa menceritakan apapun kepadaku. Karena aku sama sekali tidak mau menjadi tempat curahan hati mu!" tegas Yoga.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Yoga itu air mata Sofie kembali mengalir deras.
"Kamu tidak tahu kesulitan apa yang aku alami selama kamu pergi ke luar negeri Yoga. Akun bahkan tidak memiliki pilihan lain selain menikah dengan kakak mu!" jelas Sofie.
Meski dengan nada suara yang bergetar dan terbata-bata juga diselingi dengan isakan tangis Sofie berusaha untuk menjelaskan kepada Yoga sebenarnya apa yang terjadi ketika Yoga sedang mengambil pendidikan pascasarjana nya di luar negeri.
Kesulitan yang Sofie alami hingga membuatnya memilih jalan untuk mengubur dalam-dalam cinta sejatinya. Tapi dia tidak tahu kalau yang dinikahinya itu adalah kakak dari Yoga. Kalau tahu Yoga adalah pewaris perusahaan Adrian juga. Pasti orang tuanya tidak akan memaksa dia untuk menikah dengan Yoseph Adrian, jangan menunggu Yoga saja untuk pulang dari luar negeri.
"Sudahlah, itu semua benar-benar sudah aku lupakan. Itu semua adalah masa lalu yang sudah aku kubur dalam-dalam dan tidak untuk aku ingat lagi. Sekarang kita sudah memilih jalan kita masing-masing. Kamu yang memilih untuk menghianatiku dan menikah dengan kakak kandungku sendiri, dan aku sudah memilih gadis yang baik untukku, yang perlu kamu tahu aku sangat mencintainya bahkan melebihi rasa cintaku dulu kepadamu!" ucap Yoga.
Dan ketika Yoga selesai mengatakan kalimatnya itu Sofie memejamkan matanya dengan air mata yang mengalir deras dari matanya, dia bahkan menekan dadanya karena merasakan rasa sakit yang luar biasa dari dalam sana
***
Bersambung...
__ADS_1