
Pelajaran kedua juga sudah berakhir, aku makin penasaran dengan keadaan Panji. Aku mencoba mengirim chat padanya tapi sepertinya sejak tadi di tidak membacanya. Aku jadi penasaran apa pak Yoga sudah membawanya ke rumah sakit atau belum.
"Eh kantin yuk!" ajak Nina pada ku.
Aku menoleh ke arahnya
"Ajak Dewi sama Yusita aja sana!" jawab ku pada Nina.
Nina yang awalnya hanya duduk sambil menoleh ke belakang kini berdiri dan berjalan mendekati ku.
"Lu marah ya sama gue? seriusan tadi waktu gue bilang mau ngegosip itu gue bercanda doang! gue gak bilang kok ke anak-anak kalau lu udah jadian sama Marco, berani sumpah gue! kalau bukan gue yang nyebar hoax itu, kalau gue bo'ong. Gue mau kok kurus mendadak!" ucap Nina dengan wajah serius dan mata berbinar.
"Ye, itu mah enak semua di elu!" protes Dewi yang mendengar ucapan Nina.
Yusita bahkan ikut beranjak dari kursinya dan bersandar di sandaran kursi ku.
"Iya bener tuh, dua-duanya cuma nguntungin lu dong Nin!" timpal Yusita ikut mendukung perkataan Dewi tadi.
Tapi Nina masih terus memasang ekspresi puppy eyes (biar keren kayak orang-orang ðŸ¤) dan menggenggam tangan ku dengan erat. Aku jadi merasa risih di buatnya. Aku menepis tangan Nina, karena saat ini aku sedang mencemaskan keadaan Panji. Saat aku bertemu dengannya di UKS tadi dia benar-benar pucat.
"Ish, orang gue gak marah kok sama lu! gue tahu biang kerok nya tuh si Marco. Emang dudul tuh orang!" kesal ku.
"Ya udah ke kantin yuk, gue traktir es teh manis deh!" tawar Nina padaku.
Dewi dan Yusita hanya terkekeh pelan.
"Elah, kalau mau traktir yang mahalan dikit napa? burger kek, atau kios batu tuh di samping sekolahan apa itu roti tapi bisa goyang-goyang kayak Inul Daratista gitu!" ucap Dewi yang membuat kami bertiga yang dia ajak bicara mengernyitkan dahi kami bersamaan.
__ADS_1
"Apaan sih Wi? gak jelas lu! mana ada roti bisa ngebor!" protes Yusita.
Aku tidak menyangka orang yang hobinya baca buku pelajaran dan juga main permainan asah otak di ponselnya tahu tentang goyang ngebor nya Inul Daratista penyanyi dangdut yang terkenal baik hati dan dermawan itu.
Aku dan Nina hanya terkekeh mendengar perkataan Yusita.
"Ih, beneran ada. Gue lihat tadi sore pas gue lewat sama Mak gue, itu rame banget roti atau cake gitu banyak topingnya, gue lihat pas di angkat pake spatula sama yang jualnya dia goyang-goyang gitu, mana mahal bener harganya, gue kan nanya tuh sama anak kecil yang baru lewat depan gue kemaren, dek berapa harganya? tahu gak dia jawab apa? ini yang jajan saya satu minggu kak. Kan mahal bener tuh!" jelas Dewi panjang lebar sambil mempraktikkan situasi saat dirinya bertanya pada seorang anak kecil.
Aku, Yusita dan Nina malah makin terbahak. Apa yang dipikirkan oleh Dewi. Tentu saja uang jajan anak SD tidak akan sebanyak anak SMP atau SMA. Yang dijual di kantin mereka juga berbeda kan dengan uang dijual di kantin untuk SMA.
"Ih kok malah ketawa sih!" seru Dewi yang terlihat tidak terima karena kami menertawakan kepolosan nya.
"Yah abisnya lu aneh, anak SD paling jajannya tuh permen atau rambut nenek tuh, gak ada kan yang jajannya bakso dua porsi?" tanya ku pada Dewi.
"Wah, ini sih nyindir gue nih!" sahut Nina yang sepertinya merasa tersindir.
"Ha ha ha, sorry Nina bukan maksud hati loh!" elak ku.
Aku saja bahkan melupakan hal itu, karena aku dan pak Yoga kan sudah berbaikan. Tapi ini bagus juga jika aku jadikan alasan untuk memisahkan diri dari ketiga temanku ini dan memastikan kondisi Panji.
"Yah, elu sih pakai telat segala!" keluh Dewi kemudian.
"Iya, kan kita gak bisa ke kantin bareng deh, gak jadi dong traktir es teh manis!" sahut Nina yang terlihat sedih, padahal aku tahu dia sebenarnya senang aku tidak harus dia traktir.
"Ya udah, gue ke ruang guru dulu ya! kalian duluan aja. Kalau gak lama, ntar gue nyusul!" ucap ku pada Yusita, Dewi dan Nina.
Mereka bertiga mengangguk, mereka lalu keluar dari dalam kelas.
__ADS_1
Aku lalu berfikir kalau aku tidak harus pergi ke ruang guru kan, karena tadi pak Yoga bilang dia akan mengantar Panji dan juga dia memang sudah tidak ada lagi jadwal untuk mengajar.
Aku kembali melihat ke arah ponsel ku, belum ada balasan dari Panji.
"Apa aku kirim pesan pada kak Yoga saja ya? tapi apa tidak terkesan aku begitu mengkhawatirkan keadaan Panji? kalau dia jadi salah paham bagaimana?" gumam ku masih berfikir harus menghubungi pak Yoga atau tidak.
Aku memilih berjalan menuju ke koridor yang menuju ke arah UKS, aku bermaksud untuk mengecek apa pak Yoga sudah membawa Panji ke rumah sakit. Tapi saat di jalan menuju ke ruang UKS, ponsel ku bergetar.
"Wah kak Yoga!" gumam ku senang dan langsung menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas.
"Halo kak!" sapa ku berusaha bersikap sebiasa mungkin.
"Halo sayang!" jawab pak Yoga dari seberang sana.
Dan aku pun jadi malu mendengar dia memanggil ku seperti itu. Padahal hanya di telepon tapi rasanya dia seperti berada di dekat ku.
"Sayang, aku sudah membawa Panji ke klinik Permata Kasih, sekarang dia sedang tidur. Dan kondisinya seperti nya tidak terlalu parah, tapi dokter masih ingin memastikan nya lagi!" jelas pak Yoga.
Tapi dengan penjelasan yang mungkin bagi orang lain cukup jelas itu bagiku malah terdengar sangat membingungkan.
"Maksudnya gimana kak? dia gak parah gitu? tapi kenapa dokter nya mau periksa lagi?" tanya ku mencoba membuat pertanyaan yang jawabannya memang aku butuhkan.
"Jadi gini, dia sedikit trauma. Butuh istirahat, jadi dia di beri obat penghilang rasa sakit dulu. Tapi untuk memastikan kondisinya, dokter ingin memeriksa saat dia sadar lagi nanti!" jelas pak Yoga lagi.
"Sayang, aku tadi minta dia beritahu kabar ini pada orang tua nya tapi belum sempat dia memberitahu orang tua nya dia sudah tertidur. Begini saja! aku akan menjemputmu saat pulang sekolah nanti, kamu bawakan tas Panji dari dalam kelasnya, kita antarkan tas Panji sambil memberi kabar pada orang tuanya, bagaimana?" tanya pak Yoga.
"Ke rumah Panji? kita berdua?" tanya ku sedikit ragu.
__ADS_1
***
Bersambung...