
"Bagaimana kondisi nya dokter?" sebuah suara yang sangat aku kenal. Itu adalah suara pertama yang aku dengar saat aku berusaha membuka mataku.
Aku melihat di sekitarku dan aku tahu betul ini seperti ruangan klinik, ranjang yang aku tiduri dan jendela yang terdapat beberapa poster khas dari klinik, poster tentang makanan 4 sehat 5 sempurna, dan poster tentang beberapa kiat menjaga kehamilan, juga beberapa fase dalam kehamilan beserta gambarnya.
Di sebelah kiri ada tembok bercat putih, Denis kecelakaan dengan ada tirai berwarna coklat tua. Meski terhalang oleh tirai aku bisa melihat siluet seseorang yang sangat aku kenali.
"Kak Yoga!" panggil ku dengan suara yang aku yakin volumenya bahkan sangat rendah.
Tapi aku yakin kalau Kak Yoga bisa mendengar suaraku. Aku tidak fokus mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter, tapi kemudian Kak Yoga membuka tirai yang ada di sebelah kananku.
Srekkk
"Rasti sayang, kamu sudah sadar?" tanya Kak Yoga yang terlihat sangat panik.
Dia berjalan mendekatiku dan menggenggam tanganku dengan erat.
"Aku senang kamu baik-baik saja!" lanjutnya lagi dengan senyum penuh kharisma yang terulas di wajahnya.
Aku mencoba untuk mengingat kembali apa yang sudah terjadi beberapa waktu yang lalu. Aku melihat perkelahian dua kubu preman yang entah itu dari mana asalnya. Mereka benar-benar nyaris tidak punya hati, bahkan mereka tidak menaruh kasihan sama sekali saat memukul lawan mereka sampai berdarah dan jatuh ketanah terkulai tak berdaya. Aku bahkan tidak yakin kalau setelah semua pukulan yang mereka terima itu mereka masih hidup.
Aku sangat ketakutan waktu itu hingga kepalaku mendadak rasanya menjadi sangat pusing. Selanjutnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi karena sepertinya aku pingsan.
Tapi aku sangat bersyukur bahwa ketika aku bangun aku aku sedang bersama dengan Kak Yoga. Aku jadi sangat penasaran bagaimana dia bisa menemukan ku.
"Kak Yoga yang menemukan ku?" tanya ku pelan.
Kak Yoga menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya, seseorang memberitahuku kalau ada perkelahian di gang samping sekolah. Aku bergegas ke sana dan aku melihat kamu sudah pingsan. Mereka tidak melakukan hal yang tidak tidak kan padamu?" banyak Yoga begitu mengkhawatirkan ku terlihat jelas bahwa di wajahnya bergambar laut khawatir dan cemas.
Aku pun segera menggelengkan kepalaku perlahan.
__ADS_1
"Sebenarnya aku takut sekali saat mereka berhasil membekap ku dan membawaku pergi, tapi ada yang membuatku heran. Ada kelompok preman lain yang menyelamatkan aku. Entah mereka memang menyelamatkanku atau mereka punya permusuhan pribadi dengan para preman itu. Tapi aku sempat melihat para preman berbadan kurus yang menyelamatkanku itu tadi pagi berdiri di seberang jalan di depan sekolah!" ceritaku pada Kak Yoga.
Kak Yoga terlihat serius memperhatikan apa yang aku katakan, dan dia menyimak setiap kalimat yang aku sampaikan. Lalu dia menghela nafasnya perlahan dan tersenyum kembali.
"Tidak apa-apa, mereka sudah ditangkap oleh polisi. Karena mereka memang terkenal membuat keributan dimana-mana!" ucap kak Yoga.
Dan aku malah sangat terkejut mendengar ucapan kak Yoga tentang polisi.
"Po... polisi?" tanyaku gugup.
Bukan tanpa alasan aku menjadi takut, masalahnya adalah kalau sudah menyangkut polisi pasti akan sangat panjang dan lebar. Urusan ini juga pasti akan berlangsung lama mungkin sampai satu dua tiga hari dan aku sedang memikirkan bagaimana dengan ujianku.
"Kamu tidak perlu khawatir, polisi datang saat aku sudah membawamu pergi. Kita tidak akan terlibat dengan masalah preman-preman itu!" jelaskan Yoga membuatku sedikit bernafas lega.
Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya, preman-preman itu ditangkap tanpa tuduhan apapun.
"Tapi atas dasar tuduhan apa mereka ditangkap?" tanya ku memastikan kalau aku akan benar-benar tidak disangkutpautkan dengan para preman itu.
"Seperti yang aku katakan tadi mereka memang suka mengganggu ketentraman umum. Alasan itu cukup untuk membawa mereka masuk ke dalam sel penjara dalam beberapa bulan!" jelas kak Yoga.
"Apa mereka akan dendam padaku karena mereka akan masuk penjara?" tanyaku memastikan pada Kak Yoga.
Aku bertanya pada Kak Yoga karena aku memang tidak mengerti sama sekali masalah hukum dan lainnya.
"Kurasa tidak, mereka dihukum bukan karena kamu tapi karena orang lain. Tidak ada alasan bagi mereka untuk dendam padamu!" jelas kak Yoga dengan wajah yang terlihat serius.
Aku menganggukkan kepalaku perlahan, rasanya aku sudah mulai paham apa yang di sampaikan oleh kak Yoga. Orang dewasa memang pikirannya berbeda. Tapi setelah lama diam aku kembali teringat pada suatu hal.
"Kak Yoga, tadi Kak Tirta menelpon ku dan setelah itu ponselku diambil oleh Friska dan teman-temannya. Mungkin saat ini Kadir teh sedang khawatir dan mencari ku!" ucapku terdengar dengan nada panik.
Tapi Kak Yoga malah bersikap biasa saja, dia membelai lembut kepalaku dia mengelus rambutku perlahan.
__ADS_1
"Aku sudah menghubungi Tirta dan sudah mengirim lokasi klinik ini padanya. Sebentar lagi dia akan kemari kamu jangan cemas!" jelas kak Yoga dan apa yang dia katakan itu kembali membuatku menghela nafas lega.
"Dan untuk ponselmu, apa ada sesuatu yang penting di sana. Apa ada rahasia atau...?" kak Yoga berhenti dari pertanyaannya.
Kurasa dia sedang ingin bertanya tapi malu untuk mengatakannya, atau mungkin sebenarnya bukan malu tapi enggan.
"Maksud nya?" tanyaku terus terang karena aku memang tidak mengerti.
Bicara dengan jelas tanpa basa-basi atau tanpa kiasan saja terkadang otakku yang lemot ini tidak nyambung. Apalagi kalau pakai bahasa kode kode an, mana paham otak imut ku ini.
"Maksud ku, foto pribadi, video pribadi...atau semacamnya!" semakin lama nada suara yang dikeluarkan oleh kak Yoga semakin melemah, semakin pelan.
Hal itu membuatku semakin bingung apa sebenarnya maksud dari Kak Yoga foto pribadi dan video pribadi seperti apa.
"Kalau foto pribadi sih banyak kan aku suka selfie, kalau video pribadi aku tidak ada tapi dengan teman-temanku ada!" jelas ku.
Kak Yoga menggaruk tengkuknya yang sepertinya terasa tidak gatal.
"Maksud ku foto yang hanya untuk koleksi pribadi!" ucapnya dan lagi-lagi dia menggunakan bahasa yang tidak ku mengerti.
"Kak, foto kan memang untuk koleksi pribadi, aku kan bukan artis yang fotoku bisa di koleksi orang banyak?" tanya ku lagi dan kali ini kak Yoga semakin terlihat frustasi di wajahnya.
"Baiklah, aku bukan bermaksud untuk mengatakan hal ini ya!" ucapnya lagi
Dia sebenarnya mau bicara apa sih aku semakin tidak mengerti.
"Kak Yoga, sebenarnya maksud Kak Yoga foto yang seperti apa?" tanyaku semakin penasaran.
Kak Yoga terlihat menghela nafasnya lagi sebelum berbicara.
"Foto dengan gaya dan pakaian minimalis, ada?" tanya nya membuatku langsung refleks membelalakkan mataku.
__ADS_1
***
Bersambung...