
Author POV
Sementara itu di tempat lain, di bagian belakang sekolah. Lima orang sedang berkumpul dengan wajah yang terlihat cemas dan ketakutan. Mereka adalah Friska, Dino, Gugun, Vita dan juga Dinda.
Mereka adalah orang-orang yang terlibat dalam usaha percobaan penculikan Rasti. Mengetahui rencana mereka gagal dan para preman bayaran Friska babak belur dan di tangkap polisi, mereka berlima panik dan ketakutan.
"Terus gimana dong ini, gue gak mau ya sampai di skors!" ucap Dinda uang seolah menyalahkan teman-temannya.
Dinda juga sebenarnya berasal dari keluarga salah satu guru yang mengajar di sekolah ini. Jika apa yang dia lakukan ini sampai ketahuan oleh pamannya itu maka sepertinya bukan hanya di skors tapi mungkin pamannya juga akan mendapatkan surat peringatan dari sekolah ini. Karena penanggung jawab Dinda di sekolah adalah pamannya itu.
"Bisa-bisa om gue juga kena, lu kan bilang rencana ini di susun rapi dan seratus persen berhasil, gimana sih Friska?" tanya Dinda yang seolah dirinya tidak bersalah sama sekali dan melimpahkan semua kesalahan pada Friska.
Sementara Friska sudah menatap kesal pada Dinda, Dino ikut bicara.
"Iya, gue juga bakalan di masukin pesantren kalau gini ceritanya!" sahut Dino dengan gerakan khasnya.
Mata nya sudah merah dan berkaca-kaca seperti mau menangis. Hal yang sama juga dirasakan oleh Vita.
"Kemarin aja tuh gue dimarahin sama Panji gara-gara Rasti gak ada di toko buku itu. Untung dia diem aja waktu gue bilang gue gak tahu Rasti dimana, sebelum gue tinggal gue bilang dia nunggu di kursi depan toko!" jelas Vita menceritakan kejadian kemarin pada teman-temannya.
Sementara yang lain mulai mengoceh, Gugun dan Friska hanya diam saja.
"Apa lu semua gak mikir, kalau kita ketahuan. Apa kita masih bisa lolos begini sekarang, Rasti pasti gak tahu siapa dalang dibalik semua ini. Asal kita tetap tutup mulut dan bersikap biasa saja, gue rasa kita aman!" seru Gugun sambil memegangi dagunya.
"Tahu kalian itu, bisa bisanya nyalahin gue. Apa kalian pikir setelah nyalahin gue kalian bisa keluar dari gerbang dengan selamat, kalian belum lupa kan siapa bokap gue dan berapa banyak preman yang jadi anak buahnya?" tanya Friska dengan tatapan tajam pada tiga orang temannya yang tadi seperti akan meninggalkannya setelah rencana mereka ini gagal.
Friska mulai kesal, bisa-bisanya mereka malah berkata seperti itu selagi hatinya masih sangat kesal karena kegagalan rencana nya ini.
__ADS_1
Friska menatap tajam Dino, Vita dan Dinda secara bergantian.
"Lu bertiga, gak usah banyak ngomong. Lu pikir gue bakalan diem aja gitu kalau Rasti sampai lapor ke pihak sekolah. Kalian bertiga tuh harusnya sadar diri, ini juga karena kalian kerjanya gak becus gak bener makanya gagal, cuma Gugun doang yang sukses bikin kakaknya si Rasti gak jemput dia kan, dasar orang-orang gak ada guna!" bentak Friska lalu meninggalkan tempat itu sambil menarik tangan Gugun agar mengikutinya.
Setelah kepergian Friska, Dino dan yang lainnya hanya saling pandang dan terlihat sangat menyesal sudah bicara kasar pada Friska.
"Elu sih Din!" ucap Vita menyalahkan di Dinda.
Dinda yang tak terima disalahkan juga langsung mendorong Vita.
"Eh, kenapa lu nyalahin gue. Elu sendiri yang tadi protes cuma gara-gara dimarahin sama Panji. Kenapa malah nyalahin gue?" tanya Dinda setelah memprotes Vita.
"Ih, udah udah.. jangan berantem. Kenapa kita yang berantem sih, ini lima belas menit lagi ujian mau dimulai, mending kita balik ke kelas yuk. Nanti kita bisa minta maaf aja sama Friska. Gak pada takut apa sama bodyguard bodyguard bokapnya, Dino sih takut ya... bye..!" ucap Dino lalu berlari kecil meninggalkan Dinda dan Vita yang masih saling menatap sengit.
"Vita, Dinda !" panggil seseorang membuat kedua gadis itu menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan.
"Oh ya Dinda saya mendapatkan laporan dari Rasti, kalau kemarin dia kehilangan ponselnya. Dan ada yang melihat ponsel itu ada pada kamu. Bisa kamu berikan ponsel itu pada saya sekarang!" seru Yoga pada Dinda yang sedang ketakutan.
Dinda dan Vita saling pandang, mereka berfikir apakah Rasti juga cerita masalah mereka sempat berkelahi kemarin, kalau iya maka masalahnya akan jadi panjang.
"Dinda, cukup serahkan ponsel Rasti. Dan saya tidak akan bawa masalah ini sampai ke guru BK!" seru Yoga lagi sepertinya sebuah pernyataan padahal itu adalah sebuah gertakan.
Dinda tidak mau ambil pusing lagi, dia tidak mau menambah masalah. Karena dia merasa kalau Yoga hanya ingin ponsel Rasti, maka dia akan memberikan nya supaya masalah ini selesai sampai disini saja.
Dinda segera membuka tasnya dan meraih ponsel Rasti yang berada dalam tasnya lalu memberikan nya pada Yoga.
"Oke, terimakasih. Sekarang kalian cepat ke kelas. Sebentar lagi ujian dimulai!" seru Yoga dengan wajah datar lalu segera pergi meninggalkan mereka berdua yang masih terlihat pucat dan gemetaran.
__ADS_1
Sementara itu, Friska terus menarik Gugun ke taman belakang sekolah yang tak jauh dari tempat mereka berlima tadi bertemu.
"Udah Friska gak usah marah-marah gue yakin kok Rasti gak bakalan tahu siapa yang udah ngerencanain ini semua, anak buah bokap lu juga gak bakalan buka mulut dan sebut nama ku, bisa tinggal nama mereka kan sama bokap lu!" ujar Gugun sambil terus mengikuti Friska.
"Gue kesel Gun, kenapa malah kesannya mereka nyalahin gue. Gue butuh dihibur!" ucap Friska setelah sampai di sebuah pohon yang sangat besar dan membawa Gugun ke balik pohon itu dan mendorong tubuh Gugun hingga bersandar di pohon besar itu.
Dengan tatapan mata yang sudah berkabut, Friska mendekati Gugun dan melahap bibir pemuda berusia 18 tahun itu. Tangan gadis itu menyentuh kepala Gugun dan menekannya semakin kuat ke arahnya.
Gugun juga tidak hanya diam saja, dia juga meraih pinggang Friska agar jarak mereka semakin dekat.
Keduanya memang sudah menjalin hubungan diam-diam tanpa sepengetahuan ketiga teman mereka yang lain selama beberapa bulan ini. Dan hal seperti ini memang sudah biasa mereka lakukan.
Tangan Gugun perlahan turun dan merayap ke bawah dan semakin ke bawah. Hingga tangan pemuda itu masuk ke dalam rok yang dipakai oleh Friska dan membuat Friska segera menghentikan aksinya lalu menepis tangan Gugun.
"Ck... yang butuh di hibur itu gue, kenapa tangan lu kesitu?" tanya Friska memprotes perbuatan Gugun.
"Udah panas sayang, sekalian aja yuk!" ajak Gugun dengan senyuman menyeringai.
"Bentar lagi ujian, ntar malem aja deh di tempat biasa ya!" ujar Friska.
"Sekali aja, ayolah sayang!" bujuk Gugun sambil menarik tangan Friska dan memposisikan nya membelakangi Gugun dan sedikit mendorong punggung Friska agar sedikit membungkuk ke depan.
Author POV end
***
Bersambung...
__ADS_1