Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Yang Lalu Biar Berlalu


__ADS_3

Aku menunggu apa yang akan di katakan oleh Kak Yoseph. Sepertinya hal yang serius.


"Aku minta maaf atas apa yang telah terjadi padamu karena ibu dan istri ku!" ucapnya dengan suara yang terdengar sedih.


Aku hanya diam mendengarkan, aku merasa tidak enak sekali karena justru kak Yoseph yang meminta maaf padaku. Sebenarnya pun aku tidak marah, aku juga sudah memaafkan ibu mereka berdua, sebagai seorang ibu Tante Asti hanya ingin melindungi anaknya. Dan apa yang sudah dia dengar membuatnya salah paham, meskipun sebenarnya di juga salah karena tidak bertanya tentang hal yang sebenarnya dan langsung menuduh dan memaki ku juga menghina dengan kata-kata yang begitu kasar. Tapi jujur saja aku sudah memaafkannya.


"Aku tahu tidak seharusnya mereka bersikap seperti itu padamu, wajar kalau kamu akan marah dan kesal pada mereka, tapi aku harap kamu tidak dendam pada ibu ku, semua ini murni kesalahpahaman nya terhadap mu, Dan kalau ada yang patut disalahkan, itu adalah Sofie!" jelasnya lagi panjang lebar.


Aku masih mendengarkan dan tidak bicara, aku juga setuju pada apa yang dikatakan oleh kak Yoseph. Semua ini terjadi karena hasutan perempuan bernama Sofie itu pada Tante Asti. Tapi dia juga sudah mendapatkan hukumannya, dia si tinggalkan oleh suaminya di malam pernikahan mereka, dan saat dia mengajak suaminya pulang. Suaminya menolak, bukankah tidak ada yang lebih parah dari itu semua.


"Aku akan berusaha membuatnya meminta maaf padamu!" lanjut kak Yoseph terlihat mendengus lega.


Aku baru berani bersuara setelah kurasa dia sudah tak ingin mengatakan hal lainnya lagi.


"Aku tidak dendam pada siapapun kak, sungguh!" jawab ku singkat padat dan jelas.


Kak Yoseph terlihat mengulas senyum di wajah nya.


"Terimakasih Rasti, aku khawatir sejak kemarin. Aku takut terjadi sesuatu padamu, karena jika itu sampai terjadi, mungkin Yoga akan... ck... tapi syukurlah kamu baik-baik saja!" seru kak Yoseph.


Dari apa yang dia katakan dan dari caranya bersikap, aku mulai mengetahui dengan jelas kalau kak Yoseph memang sangat menyayangi kak Yoga. Aku jadi tahu alasan kenapa dulu kak Yoga juga merelakan perempuan yang dia cintai untuk kak Yoseph.


"Ini jus nya, apa yang kalian bicarakan?" tanya kak Yoga yang meletakkan sebuah nampan berisi tiga gelas jus di atas meja.


"Hanya yang harus di bicara kan!" jawab kak Yoseph dan langsung menyambar salah satu gelas sebelum kak Yoga mempersilahkan nya.


Kak Yoga lalu mengambil satu gelas dan memberikan nya padaku.


"Ini sayang, minumlah! apa yang kakak ku katakan padamu?" tanya nya lalu duduk di sebelah ku, sangat dekat. Dia bahkan merangkul pinggang ku.


"Hei...!" seru kak Yoseph saat melihat tangan kak Yoga berada di pinggang ku.


"Singkirkan tangan mu, dia masih SMA!" protes kak Yoga.

__ADS_1


Aku yakin saat ini wajah ku pasti terlihat seperti kepiting rebus, rasanya malu sekali sampai di tegur seperti itu oleh kak Yoseph.


"Kak, jangan seperti ini!" bisik ku pelan pada kak Yoga.


Meski terlihat enggan namun kak Yoga segera menarik tangannya sambil mendengus kesal. Kami pun lanjut mengobrol, kak Yoseph banyak bercerita tentang kehidupan kak Yoga, aku senang sekali mendengarnya. Kak Yoga bahkan sesekali mengajukan protes saat kak Yoseph menceritakan hal buruk yang pernah kak Yoga lakukan di keseharian nya.


Kak Yoseph juga banyak bertanya tentang ku, sekolah ku dan keluarga ku. Tapi aku tidak menceritakan tentang ibu kandung ku, aku hanya bilang pada kak Yoseph kalau...


"Aku tinggal di rumah bersama ayah, ibu, kakak laki-laki ku dan bibi, ada juga tukang kebun yang merangkap sebagai tukang ledeng, tukang service AC bahkan monrir, tapi dia tidak menginap. Dia hanya bekerja kalau di telepon saja!" jelas ku menceritakan situasi di rumah ku pada kak Yoseph.


"Aku bahkan baru tahu itu!" sela kak Yoga dengan raut bingung.


"Sayang, kenapa kamu tidak pernah memberitahukan itu padaku?" tanya nya lagi dan kali ini dengan nada memprotes.


"Kan kak Yoga gak pernah nanya!" jawab ku santai.


Kak Yoseph terkekeh, tapi kak Yoga malah mendengus kesal.


"Maklumi saja dia sudah tua, jadi dia butuh banyak istirahat!" aku terkekeh mendengar kak Yoga bicara seperti itu pada kakaknya.


Kak Yoseph berdiri dan mengangkat sebelah alisnya.


"Harusnya kamu berterimakasih padaku, aku tahu kamu sudah sejak tadi ingin berdua dengan Rasti kan!" sindir kak Yoseph.


Tapi sepertinya yang merasa tersindir bukan kak Yoga malah aku, kak Yoga bersikap acuh dan biasa saja. Malah aku yang merasa wajah ku kembali memanas dan sungguh aku merasa sangat malu.


Ketika kak Yoseph sudah masuk ke dalam kamar, kak Yoga menyandarkan kepalanya lagi di bahu ku.


"Aku mendengarnya tadi!" ucap kak Yoga yang terdengar begitu ambigu di telinga ku.


"Mendengar apa?" tanya ku pada kak Yoga agar dia mengatakan maksud nya lebih spesifik. Bahasa seperti itu aku mana mengerti, seperti tidak tahu saja kalau nilai bahasa Indonesia ku bahkan lebih buruk daripada nilai bahasa Indonesia Dewi yang jelas jelas peringkat akhir di kelas.


"Mendengar kalau kamu sudah memaafkan ibuku!" jawab kak Yoga.

__ADS_1


Aku terdiam, kak Yoga lantas mengangkat kepalanya dan menyentuh lembut pipi kiri ku dengan tangan kanan nya. Membuat ku menatap ke arah nya juga. Pandangan kami bertemu.


"Terimakasih Rasti, aku tahu pasti sangat sulit bagimu, tapi...!


Aku menyentuh tangan kak Yoga yang masih berada di wajahku.


"Sudahlah kak, yang sudah berlalu biarkan saja berlalu. Aku malah merasa tidak enak pada kamu dan juga kak Yoseph, kalian berdua terus merasa bersalah. Percaya lah aku baik-baik saja!" ucap ku menyela ucapan pak Yoga yang terdengar begitu melankolis.


Aku berusaha tersenyum semanis mungkin, meskipun sebenarnya aku memang manis meski tersenyum seadanya. Aku merasa kalau semua ini sebenarnya tidak usah di bahas lagi. Biarlah yang sudah berlalu, dan mari kita sambut masa depan saja.


Dan ngomong-ngomong soal masa depan, aku jadi ingat besok akan ujian matematika dan bahasa Inggris. Astaga kenapa dua ujian sulit itu dihari yang sama, tapi kurasa semua mata pelajaran memang sulit.


"Kak, aku justru ingin bicarakan hal yang lebih serius!" ucap ku sambil menarik tangan kak Yoga dari wajah ku.


Ekspresi wajah kak Yoga terkejut.


"Apa?" tanya nya panik.


"Besok ujian, aku belum belajar!" rengek ku.


Kak Yoga tersenyum dan mengusap kepalaku dengan lembut.


"Matematika dan bahasa Inggris kan?" tanya nya.


"Kok kak Yoga tahu?" tanya ku takjub. Ternyata dia bisa tahu besok mata pelajaran apa yang akan di ujikan.


"Tentu saja, aku sudah buat contoh soalnya, sebentar ya!" kata kak Yoga dan langsung pergi ke kamarnya, kurasa dia akan mengambil contoh soal untuk ku kerjakan.


Aku merasa beruntung sekali, ternyata ada hal yang begitu menguntungkan punya pacar seorang guru.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2