
Saat tiba di rumah, hari sudah sangat malam. Aku ragu mau menghubungi kak Yoga atau tidak. Karena sejak tadi ternyata kak Yoga juga tidak menghubungi ku. Aku jadi penasaran kemana kak Yoga malam Minggu begini, tidak memberiku kabar, tidak mengirim pesan juga tidak menghubungi ku sama sekali.
Tapi karena sudah sangat lelah, aku memutuskan untuk langsung membanting tubuh ku di atas kasur lalu memejamkan mataku saja. Kasih kabar ke kak Yoga nya besok saja.
Keesokan harinya...
Tok tok tok
"Rasti! Rasti!" sebuah suara panggilan yang berulang membuat ku membuka mataku.
"Ih apa sih, masih malam juga!" gumam ku lalu bangun dan berjalan malas ke arah pintu.
Ceklek
"Ibu, kenapa sih Bu. Masih ngantuk Rasti, ini juga masih malam Bu!" ucap ku dengan gaya khas bangun tidur.
"Masih malam dari mana? ini sudah jam sembilan lewat!" seru ibu.
Aku langsung membelalakkan mataku.
"Jam sembilan Bu? perasaan Rasti baru merem loh tadi!" ucap ku terus terang.
"Astaga, kamu pasti kecapekan banget ya kemarin. Ya sudah cepat mandi dan bersiap. Itu nak Andika sudah nunggu di bawah!" kata ibu
Aku tambah kaget lagi.
"Ngapain dokter Andika Bu?" tanya ku yang masih linglung dan bingung.
"Sayang kamu lupa, dia kesini buat jemput kamu lihat lokasi proyek ayah!" jelas ibu.
Aku langsung menepuk jidat ku sendiri.
"Ya ampun Bu, gimana ini?" tanya ku bingung harus bagaimana.
__ADS_1
Ibu malah terkekeh melihat ku bingung.
"Apa lagi, kamu cepat mandi. Lalu pakai pakaian yang sopan ya. Pakai sepatu, jangan sandal! ibu tunggu di bawah!" ucap ibu lalu pergi dari depan kamar ku.
Aku langsung menutup pintu lalu berlari kearah kamar mandi dan masuk kedalam kamar mandi. Mandi alakadarnya saja sudah cukup, kan aku tidak pergi dengan Kak Yoga aku hanya akan pergi dengan dokter Andika saja, he.. he..
Setelah mandi yang alakadarnya itu, aku lalu berganti pakaian, sebuah kemeja yang agak kebesaran di tubuhku menjadi pilihanku, sebenarnya mencari kemeja yang ukurannya pas dengan tubuh kita sangat sulit kebanyakan memang kebesaran. Tapi bukan yang termasuk besar yang besar sekali tapi masih pantas dilihat lah. Dan aku membeli sebuah celana jeans panjang berwarna senada dengan kemeja yang akan kupakai. Tapi setelah baku padu padankan di depan cermin sepertinya sangat tidak cocok, aku lempar kembali ke meja itu di atas tempat tidur dan mengambil kemeja dengan warna yang berbeda.
Yah dan setelah aku lihat lagi di depan cermin lumayan juga, aku lalu dengan cepat memakai pakaian yang tadi sudah aku pilih lalu beralih ke arah sepatu dan menyisir rambut serta mengikat kuncir kuda saja. Aku mengambil tas selempang yang ada di atas meja, lalu masukkan dompetku ke sana jangan segera berlari turun ke bawah karena Kak Tirta sudah berteriak dari bawah.
"Rasti buruan!" teriak kak Tirta.
Aku segera berlari keluar dari dalam kamar sepertinya aku merasa ada sesuatu yang tertinggal tapi aku tidak bisa mengingat apa itu, dan mendengar teriakan Kak Tirta membuatku tambah susah lagi berkonsentrasi.
Aku langsung saja menuruni anak tangga menuju lantai 1 kemudian berlari ke arah mereka yang sedang berkerumun, maksud ku sedang duduk berbaris menungguku.
"Rasti, kamu sudah membuat nak Andika menunggu. Cepat beri salam!" kata ayah ku ketika aku baru saja mengucapkan kakiku ke lantai 1.
Dokter Andika coba langsung berdiri ketika melihat aku menyapanya kemudian dia tersenyum.
"Tidak apa-apa, bisa kita berangkat sekarang?" tanya dokter Andika.
Ayah dan ibu juga langsung berdiri kemudian bersalaman dengan dokter Andika.
Kak Tirta mereka sedikit ke arahku kemudian membisikkan sesuatu di telinga ku.
"Jangan macam-macam ya, gue tahu lu sukanya sama pak Yoga, tapi dokter Andika ini juga baik. Setidaknya biarin semua berjalan biasa dulu. Jangan langsung bikin keributan oke!" ucap kak Tirta.
Dari cara bicara ka Tirta aku tahu semua ini bukan kata-kata yang dipikirkan oleh dia sendiri. Ini pasti adalah kata-kata yang diucapkan Ibu padanya untuk disampaikan padaku. Aku tahu, proyek ini sangat berarti untuk ayah. Dan aku tidak boleh memecahkan segala ini yang bukan, aku akan bersikap baik kepada dokter Andika.
"Iya, gue paham tapi kalau dia langsung nembak gue bakal langsung gua tolak!" bisik ku pada kak Tirta.
"Pede gila lu, mana ada juga orang baru ketemu tiga kali langsung main tembak aja!" ucapnya sambil berbisik juga.
__ADS_1
"Tirta, Rasti. Apa yang sedang kalian bisik-bisikan? tidak sopan berbisik seperti itu ketika ada orang lain sedang bersama kalian!" seru ayah.
Kak Tirta langsung menjauh dariku dan mendekati Ibu Rita. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu seolah lari dari tanggung jawab. Dan aku punya sebuah ide yang cemerlang untuk membalasnya.
"Ini, yah kata kak Tirta. Jangan lupa oleh-oleh nya!" ucap ku yang jelas bukan kebenaran yang aku ucapkan itu.
Kak Tirta melebarkan matanya lalu melambaikan tangannya di depan dada berkali-kali dengan cepat.
"Gak yah, Rasti bohong! Tirta gak pernah ngomong kayak gitu!" elaknya.
Melihat wajah Tirta yang terlihat begitu panjang aku dan semua orang yang berada di dalam ruangan ini terkekeh.
"Baik, nanti pasti Rasti bawa oleh-oleh buat Tirta. Om, Tante saya permisi aja Rasti keluar dulu ya!" ucap Dokter Andika.
'Wuh, sejak kapan dokter Andika manggil bokap nyokap gue Om sama Tante?' tanya ku dalam hati.
Setelah berpamitan kami pun keluar dari dalam rumah dokter Andika membukakan pintu mobil untukku ternyata dia tidak membawa supir. Setelah duduk dan memasang sabuk pengaman, dokter Andika segera melajukan kendaraan nya pembelajaran dan ibukota yang ramai pada hari Minggu. Banyak mobil yang ada lalang mungkin mereka juga akan berlibur dan berjalan-jalan seperti kami.
Aku jadi ingat kalau, dokter Andika bilang kami tidak hanya akan pergi berdua tapi aku tidak melihat siapapun selain kami berdua.
"Dokter, katanya perginya sama asisten dokter?" tanya ku.
"Iya, mereka menunggu di lokasi!" jawab dokter Andika singkat.
Aku langsung menganggukkan kepalaku beberapa kali pertanda kalau aku mengerti. Aku melihat ke sekeliling mobil dokter Andika bagian dalam. Sangat bersih dan wangi juga sama seperti mobil kak Yoga.
Dan mengingat tentang kak Yoga, aku jadi ingat kalau aku seharusnya aku menghubungi Kak Yoga dulu untuk membatalkan janji temu kami. Aku langsung meraih tasku dan membukanya.
"Astaga, hape ketinggalan!" gumam ku kesal pada diriku sendiri.
***
Bersambung...
__ADS_1