Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Terasa ada yang Hilang


__ADS_3

Author POV


Rasti masih berdiri mematung di depan pintu, dan Yoga juga sedang melakukan hal yang sama. Karena sebagai tamu, jika tuan rumahnya tidak mempersilahkan dirinya untuk masuk, maka dia juga tidak akan masuk terlebih dahulu, itu tidak sopan.


Tapi cukup lama juga mereka hanya diam mematung, membuat Yoga merasa harus mengakhiri kecanggungan ini.


"Rasti, apa kita bisa masuk saja ke dalam?" tanya Yoga dengan suara lembut dan berhati-hati.


Dia tahu Rasti sedang tidak ingin dia mendekatinya, dan tiba-tiba dia datang ke rumahnya. Itu pasti akan membuat nya semakin kesal meskipun kedatangan nya adalah untuk mengajar Rasti les privat, atas permintaan dari kakak nya sendiri yaitu Tirta. Itulah yang di ketahui oleh Yoga, karena Tirta memperkenalkan diri pada Yoga itu sebagai kakaknya Rasti.


Dengan ragu, Rasti memiringkan tubuhnya dan memberikan ruang agar yoga bisa masuk ke dalam rumahnya. Meskipun dia ragu, tapi dia tidak bisa mengusir pak Yoga pergi. Karena ayah nya pasti sudah tahu kalau dirinya akan ujian seminggu lagi, dan meminta Tirta melakukan semua ini.


Sementara itu Yoga langsung masuk ke dalam, dengan perlahan dia melangkah sambil melihat sekeliling rumah Rasti. Dia sudah memutuskan untuk bersikap biasa saja layaknya guru dan muridnya, karena Yoga sudah bertekad untuk memenuhi keinginan Rasti agar menjauhinya.


Yoga berbalik karena Rasti masih belum beranjak juga dari tempatnya berdiri.


"Rasti! dimana kita bisa mulai belajar nya?" tanya Yoga lagi.


Rasti menoleh dan segera menutup pintu rumahnya.


"Disana!" jawab Rasti sambil berjalan mendahului Yoga yang mengikutinya perlahan dari belakang.


'Perasaan ku saja, atau dia memang sangat cuek ya?' tanya Rasti dalam hati sambil melirik sekilas kebelakang, kearah Yoga yang berjalan di belakang nya mengikutinya ke ruang tengah.


Setelah mereka berdua berada di ruang tengah, suasana kembali canggung.


"Em, silahkan duduk pak. Saya akan buatkan minum untuk bapak dulu!" ucap Rasti mencoba untuk bersikap sama seperti Yoga padanya.


Setelah mengatakan itu, Rasti menuju ke dapur. Dan Yoga duduk di sofa yang ada di dekatnya, dia meletakkan tas nya dan melihat buku yang ada di atas meja.

__ADS_1


Yoga meraih buku paket itu dan melihat halaman yang terlipat dan nyaris sobek.


"Gadis ini, apakah dia harus menandai buku paket dengan cara seperti ini?" gumam pak Yoga sedikit terkekeh dengan kelakuan Rasti yang menurutnya sedikit konyol


Yoga memperhatikan halaman yang di tandai, Yoga bisa menebak kalau itu adalah tugas yang harus di kerjakan oleh Rasti. Meskipun awalnya, Yoga ingin mengajarkan mata pelajaran nya pada Rasti. Tapi sepertinya dia lebih baik membantu tugas dari Rasti saja. Dia juga cukup mengerti tentang ekonomi. Jadi dia membaca dengan teliti buku yang ada di tangannya.


Sementara itu di dalam dapur, Rasti sedang memikirkan dia ingin membuat minuman apa untuk Yoga. Dia meletakkan toples gula, teh, kopi, dan juga sebotol sirup rasa jeruk.


"Em, bikinin apa ya?" gumam Rasti sambil mengetuk-ngetuk meja makan jari-jari tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang cangkir.


Rasti kembali mengingat saat berada di rumahnya, pak Yoga sangat menyukai jus. Dia seperti nya tidak pernah membuat kopi atau teh saat dirinya dan Rasti berada di rumahnya.


Jadi Rasti memutuskan untuk membuatkan pak Yoga jus, dia mencari buah-buahan di dalam kulkas, namun yang ada disana hanya jeruk dan juga mangga. Awalnya dia tidak ingin merepotkan bibi yang sepertinya sedang menyetrika di rumah binatu. Tapi dia tidak tahu dimana bibi meletakkan pemeras jeruk nya. Dia sudah berusaha mencari di sekitar dapur, di rak yang ada disana, tapi dia sama sekali tidak bisa menemukan nya.


"Tidak ketemu, sudahlah. Buatkan sirup saja!" gumam Rasti yang akhirnya membuatkan sirup untuk Yoga.


"Pake es atau tidak ya?" gumam nya lagi karena dia ragu untuk meletakkan es batu di dalam minuman yang sudah dia buat di hadapan nya itu.


Rasti menghentikan langkahnya ketika melihat Yoga sedang serius membaca buku paket miliknya.


'Dia kan guru PPKN, memangnya dia paham apa pelajaran ekonomi?' tanya Rasti dalam hati.


"Ini pak minumnya!" seru Rasti sambil meletakkan gelas berisi minuman yang dia buat di atas meja.


Yoga segera menoleh ke arah Rasti lalu meletakkan buku paket Rasti di atas meja.


"Terimakasih, baik sekarang kita bisa mulai saja ya belajar nya. Seperti nya tugas ekonomi kamu cukup banyak, untuk permulaan saya akan membantu kamu mengerjakan tugas itu!" ucap Yoga panjang lebar.


Dan Rasti pun memperhatikan dengan seksama apa yang Yoga ucapkan, tapi bukan pada apa yang dia ucapkan, tapi pada bagaimana cara Yoga mengucapkan semua itu.

__ADS_1


'Kenapa rasanya asing banget ya, ih ya udahlah bagus juga kalau dia bersikap biasa begini, gue kan jadi gak baper!' batinnya kemudian.


Rasti kembali memerhatikan Yoga yang sedari tadi memang sedang menjelaskan materi yang berhubungan dengan tugas ekonomi nya.


Materi yang menjadi tugas Rasti, adalah Siklus akuntansi perusahaan jasa. Jadi setelah yoga merasa Rasti memerhatikan nya, Yoga segera menerangkan apa yang dia ketahui.


"Perusahaan jasa adalah sebuah usaha yang bergerak dibidang penyediaan pelayanan kepada pelanggan atau perusahaan lainnya. Contohnya, sebuah firma akuntansi yang menyediakan jasa akuntansi untuk perorangan ataupun usaha lainnya. Sementara, sebuah salon menawarkan potong rambut, styling, dan perawatan lainnya untuk pelanggannya." terang Yoga yang sudah sangat paham bahkan hanya membaca buku paket milik Rasti itu beberapa menit saja.


Rasti terus memperhatikan apa yang di terangkan oleh Yoga, dia terpana, dia bahkan tidak memegang pena dan juga buku, hal itu membuat Yoga berhenti bicara dan menegur Rasti.


"Kamu mengerti apa yang saya jelaskan?" tanya Yoga memastikan.


Rasti terkesiap. Sebenarnya dia sama sekali tidak mengerti. Jadi Rasti hanya menggelengkan kepalanya perlahan.


Melihat reaksi Rasti, Yoga hanya menghela nafasnya berat.


"Oke, sekarang kamu mulai kerjakan tugas kamu. Jika ada kesulitan kamu boleh tanyakan pada saya!" seru Yoga.


Rasti mulai meraih buku PR nya, tapi dia sangat tidak bersemangat. Dia merasa ada yang hilang ketika dulu dirinya belajar bersama dengan pak Yoga dengan sekarang.


Rasti bisa merasakan sikap pak Yoga berubah jadi cuek dan hanya membahas masalah pelajaran saja.


'Ih, gue mikirin apaan sih? ya kan emang lagi belajar! yang di bahas pasti pelajaran dong!' batin Rasti


Rasti sesekali melirik ke arah Yoga, namun tak seperti biasanya mata mereka akan saling bertemu pandang. Kali ini, yoga benar-benar hanya fokus pada buku paket. Dan itu membuat Rasti merasa ada sesuatu yang hilang.


Author POV end


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2