Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Minta Di panggil Sayang


__ADS_3

Melihat ekspresi pak Yoga yang seperti itu, aku jadi kasihan padanya, dia disakiti oleh orang yang merupakan cinta pertama nya, orang yang dia jaga kepercayaan nya selama bertahun-tahun. Tapi dalam sekejap, karena kilauan harta wanita itu meninggal kan dirinya bahkan yang lebih menyakitkan dari itu semua adalah, wanita itu meninggal kan dirinya untuk bersama dengan kakak kandung pak Yoga.


Pasti sulit menjalani semuanya kala itu, mungkin itu yang menyebabkan pak Yoga lebih memilih tinggal sendiri di tempat ini. Di kala aku melihat ada raut kesedihan yang mendalam yang terpancar dari wajah tampan rupawan kekasih ku itu, dia terlihat merasa bersalah setelah menceritakan tentang masa lalunya dengan Sofie.


Tapi menurut ku aku benar-benar rugi kalau harus cemburu dengan wanita itu. Dia jelas jelas sudah berhubungan dengan adik dari calon suaminya selama bertahun-tahun. Dengan mudahnya dia berpura-pura tidak mengenal nya. Bahkan semua anggota keluarga nya ikut melakukan hal yang sama, pura-pura tidak mengenal Pak Yoga. Aku ragu dengan keluarga itu, ragu kalau di dalam keluarga itu ada kasih sayang dan saling menghargai.


Keluargaku juga tidak harmonis, tapi makin kesini aku malah merasa yang membuat keluarga ku tidak harmonis itu orangnya adalah aku. Aku sering mencari gara-gara hanya untuk mendapatkan perhatian ayah, aku rasa aku berlebihan dalam pikiran negatif ku pada gerandong nyebelin itu. Dia tidak senyebelin itu sepertinya.


Kenapa aku malah membahas keluarga ku. Aku masih menatap pak Yoga yang masih terlihat sedih, dia ini sungguh baik. Kalau saja pak Yoga ini adalah orang yang tidak baik. Dia pasti akan membongkar apa yang di lakukan oleh Sofie, tentu saja selama berhubungan bertahun-tahun akan banyak bukti yang bisa dia tunjukkan bukan. Aku jadi penasaran kenapa pak Yoga tidak menceritakan itu pada kakak nya.


"Em, kenapa bapak tidak memberitahu semuanya pada kakak bapak? dia juga perlu tahu kan seperti apa wanita yang dia cintai itu?" tanya ku pelan.


Aku mengatakan kalimat itu sambil melihat ke arah pak Yoga yang masih menatap ku.


"Kak Yoseph sangat mencintai nya, dan wanita itu juga datang padaku, dia bahkan mengatakan kalau aku tak masalah jika jujur pada kak Yoseph, wanita itu mengatakan kalaupun kak Yoseph meninggalkan nya, dengan mudah dirinya akan mendapatkan lelaki lain yang lebih tampan dan kaya. Sejak dia bilang begitu, aku merasa telah menyia-nyiakan waktu ku lebih dari lima tahun untuk tulus menyayangi nya." jelas Pak Yoga.


Tapi yang aku tangkap berbeda, pak Yoga seperti nya terlihat sangat kecewa. Ada sedikit kecemburuan dalam hatiku, bukan karena dia pernah mencintai wanita itu. Tapi dari lamanya hubungan yang pernah mereka jalin. Apa aku dan pak Yoga juga bisa menjaga hubungan kami selama itu.


"Kakak ku benar-benar cinta mati padanya, saat Sofie marah dia bahkan tidak mau menyentuh air minum apalagi makanan, Kak Yoseph itu sangat lembut hatinya. Aku tidak mau dia sakit hati, lebih baik membiarkan semua seperti ini. Dia akan bahagia, dia akan tetap bahagia selama tidak tahu kebenaran nya!" ucap Pak Yoga sambil memegang kepalanya.


"Tapi pak, bukankah akan lebih menyakitkan nantinya kalau kakak bapak tahu masa lalu kalian?" tanya ku padanya. Karena memang itu yang ada di dalam pikiran ku.


"Mungkin suatu saat nanti bapak harus pikirkan tentang ini, bapak harus mengatakan semuanya pada kak Yoseph!" lanjut ku lagi.


Aku tahu ini sulit baginya, dia bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab ku. Tapi aku yakin kalau yang aku katakan ini benar, bahkan aku belum pernah merasa seyakin ini. Kak Yoseph akan Sakin sakit kalau tahu masalah ini dari orang lain. Karena mungkin saja orang lain akan menambahkan bumbu-bumbu yang malah membuat ceritanya sedikit melenceng dari cerita yang sebenarnya.


Aku ikut diam, aku tahu pak Yoga bahkan sangat merasa tertekan. Seperti aku yang sangat tertekan kalau ada tugas sekolah yang belum selesai.


Mengingat masalah tugas sekolah, aku jadi ingat kalau aku ada tugas yang harus aku kerjakan dan si kumpulkan lusa.


'Aha, gue punya ide. Sekarang kan gue lagi sama lulusan S2 Jerman nih, gak mungkin dong kalau dia gak bisa ngerjain proposal bisnis, pasti hal kecil kan buat dia!' gumam ku dalam hati.


Aku menusuk-nusuk lengan kekar pak Yoga dengan jari telunjuk kanan ku.


"Pak, sebaiknya jangan terlalu di pikirkan! Kita berharap saja, kalau saat ini Sofie benar-benar tulus mencintai kak Yoseph karena kak Yoseph adalah orang yang sangat baik, dan pantas mendapatkan cinta tulus!" ucap ku berusaha agar pak Yoga melupakan masalah Sofie.


Tapi kurasa apa yang ku katakan ada yang salah, aku melihat ekspresi pak Yoga makin sedih dan kecewa.


'Aduh, gue lupa. Dia kan mantan nya juga ya, kalau gue bilang kayak gitu sama aja kan gue udah bilang dia gak dapet cinta tulus Sofie tuh karena dia kurang baik!' batin ku menyalahkan diriku sendiri.


Ketika dia menatap ku dengan tatapan sendu, aku segera menggenggam erat lengannya.


"Maksud saya bukanya bapak gak baik ya, baik itu baik banget. Tapi mungkin ini... itu..!" ucap ku gelagapan karena aku sulit merangkai kata-kata yang tepat untuk meralat ucapan ku yang sebelumnya tadi.


Pak Yoga malah tersenyum dan membelai pipi ku dengan lembut.

__ADS_1


"Saya tahu kamu mau menghibur saya kan, tapi sayangnya nilai bahasa Indonesia kamu tidak cukup meyakinkan untuk kamu bisa merangkai kata-kata yang tepat. Niat kamu baik, terimakasih ya!" ucap nya sangat lembut.


Mimpi apa aku semalam, rasanya hatiku senang sekali. Ucapan pak Yoga selalu bisa membuat ku melting se melting melting nya. Aku tersipu, tapi karena pak Yoga seperti nya sudah tidak sedih, maka aku tidak boleh melewatkan kesempatan berharga ini.


"Em, begini pak. Saya bisa minta bantuan bapak lagi gak?" tanya ku sambil mengerlingkan mataku beberapa kali pada pak Yoga.


Pak Yoga malah menarik tangannya dari pipiku dan terkekeh, sambil memalingkan wajahnya.


"Kamu jangan seperti itu, seperti ada yang menggelitik saya, saat kamu bertingkah begitu!" jelas nya.


Aku jadi bingung, kok bisa ya begitu. Padahal menyentuh nya pun tidak. Tapi sudahlah, ada yang lebih penting saat ini.


"Bisa ya pak!" desak ku lagi.


Pak Yoga mulai serius melihat ke arah ku.


"Katakan, apa yang saya bisa lakukan untuk mu my Queen?" tanya nya yang berusaha untuk menghentikan kekehan nya.


'Wah, gue di panggil My Queen, cakep bener tuh panggilan!' batin ku senang.


"Bapak bisa gak bantuin saya bikin proposal bisnis?" tanya ku padanya dengan senyuman paling manis di wajah ku.


Pak Yoga menangkup kan kedua telapak tangan nya di pipiku.


"Apapun bisa untuk mu my Queen!" jawab nya dan aku sungguh merasa senang.


"Em, kalau boleh tahu apa panggilan bapak untuk Sofie dulu?" tanya ku sangat berhati-hati.


Pak Yoga mengernyitkan dahi nya dan memicingkan matanya.


"Kenapa?" tanya nya jutek.


'Ih, kok malah kesan nya jadi jutek gitu sih dia? tinggal di jawab aja!' kesal ku dalam hati.


Kenapa jadinya aku menyesal ya, bertanya tentang pertanyaan itu pada pak Yoga.


Aku jadi malas menatap nya, aku memilih memalingkan wajah ku, tapi sedetik kemudian. Pak Yoga malah menangkup pipi ku lagi dan mengarahkan ku agar melihat ke arahnya.


"Jangan marah My Queen, saya belum pernah memanggil wanita lain dengan sebutan manis seperti ini. Hanya kamu seorang!"


Blush


Aku yakin wajah ku saat ini memerah, aku juga yakin kalau pak Yoga bisa merasakan suhu tubuh ku yang mendadak meningkat.


"Lalu, kamu akan memanggil ku apa?" tanya nya dan membuat ku mematung.

__ADS_1


Aku mengerjap pelan, tangannya masih berada di pipi ku.


"Tidak tahu!" jawab ku jujur.


Aku memang tidak kepikiran apapun saat ini. Dia melepaskan tangannya dari pipi ku.


"Hem, begitu ya. Baiklah, tidak apa-apa! bagaimana kalau kamu panggil saya dengan sebutan sayang!" katanya padaku.


Aku langsung membulatkan mata ku dengan sempurna. Aku bahkan merasa saat aku menenggak saliva ku rasanya begitu sulit. Aku belum pernah mengucapkan kata itu untuk seseorang. Belum pernah sama sekali, selama aku hidup hingga usia ku 17 tahun ini


"Coba katakan!" desak pak Yoga.


Aku sebenarnya ingin mengatakan kata itu, tapi rasanya sulit sekali untuk kata itu keluar dari dalam mulut ku. Sudah ada di ujung lidah, tapi benar-benar sulit di katakan.


"Ayo katakan!" ucap Pak Yoga lagi.


Bukannya aku tidak mau mengatakannya, aku sungguh telah berusaha.


"Baiklah, kalau begitu. Sebelum kamu memanggil saya sayang, saya juga tidak akan membantu membuatkan proposal bisnis itu!" ucap pak Yoga kemudian.


Aku terkesiap.


'Heh, kenapa dia jadi perhitungan begini?' tanya ku dalam hati.


Aku mencoba menarik nafas ku dalam-dalam. Aku menghembuskan nafas ku perlahan.


'Ayo Rasti, lu bisa lu pasti bisa, cuma bilang sayang doang kan!' batin ku menyemangati diriku sendiri.


Pak Yoga menatap ku dengan serius. Aku pun sedang berusaha mengatakan kat itu.


"Sa... sa..!"


'Aduh, susah amat sih tinggal bilang sayang doang!' keluh ku lagi dalam hati.


Aku masih berusaha, aku menatap wajah teduh pak Yoga dan menghela nafas lagi.


"Sa..sa..sayang!" ucap ku yang terdengar tidak bagus dan sumbang.


Pak Yoga terkekeh, aku jadi bingung.


"My Queen, sesulit itukah?" tanya nya sambil terkekeh.


Dan yang dia katakan itu benar, sebenarnya ini kata mudah kalau aku bersama dengan ke tiga sahabat ku. Tapi kenapa jadi susah sekali saat harus di ucapkan untuk pak Yoga.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2