
Aku berlari masuk ke dalam, menaiki anak tangga dengan begitu cepat. Aku melirik sekilas dan melihat si gerandong nyasar itu tidak mengejar ku dan hanya menutup pintu rumah. Aku masuk ke dalam kamar ku dan langsung mengunci pintu kamar ku.
Aku membanting ransel ku di atas meja belajar dan membanting tubuhku di atas kasur.
"Capek banget, capek badan, capek pikiran gara-gara pak Yoga plus capek ati gue sama gerandong nyasar tuh! sebel.. sebel.. sebel.." keluh ku sambil memukul-mukul bantal yang berada di sampingku.
Aku bangun, duduk dengan melipat kakiku seperti orang yang akan bersemedi. Aku memangku bantal yang tadi aku pukul dan kembali menyentuh dahi ku.
"Ih, kenapa juga pak Yoga pakek cium jidat gue. Kan gue jadi makin baper!" keluh ku lagi.
"Tapi gue gak boleh baper, gue harus ngilangin rasa suka gue sama pak Yoga! Harus!" gumam ku bertekad.
Tok tok tok
Aku menoleh ke arah pintu karena mendengar pintu kamar ku di ketuk oleh seseorang.
"Non, ini bibi. Ayo makan malam dulu non!" seru bibi dari depan pintu.
Aku menghela nafas lega, aku kira tadi itu gerandong nyasar tapi ternyata bibi.
"Iya, bi. Rasti mau mandi dulu!" jawab ku dan aku segera beranjak dari atas tempat tidur menuju ke kamar mandi.
Aku melemparkan kaos pak Yoga yang kupakai di keranjang pakaian kotor, menoleh ke arah pakaian itu.
"Nanti kalau udah di cuci sama di setrika sama bibi, bakalan gue balikin tuh baju!" gumam ku.
Beberapa menit kemudian, setelah mandi dan berganti pakaian juga merapikan rambut ku. Aku segera turun ke lantai satu menuju ke ruang makan. Disana aku sudah melihat Tirta sedang duduk di kursi yang biasanya memang dia duduki.
"Silahkan non, bibi sudah siapkan tumis bunga pepaya kesukaan non Rasti!" seru bibi langsung membalikkan piring ku dari posisi nya semula yang telungkup.
Aku duduk di tempat yang telah bibi siapkan.
"Mau bibi ambilkan nasinya, non?" tanya bibi ramah.
__ADS_1
"Gak usah bi, makasih. Bibi ikut makan yuk!" ajak ku pada bibi.
Bibi terlihat kaget dia menoleh sekilas ke arah Tirta yang sibuk makan tanpa memperdulikan kami dan kembali menoleh ke arah ku lagi.
"Tidak usah non, nanti saja bibi makan di belakang!" serunya dan dia langsung ke belakang ke arah dapur.
Aku mengambil nasi dan lauk pauk ke atas piring ku. Aku makan dengan lahap, karena tumis bunga pepaya memang adalah makanan kesukaan ku.
"Besok jangan kabur lagi. Bokap lu tuh udah nitipin lu sama gue. Jadi gue bertanggung jawab atas keselamatan lu sampai bokap lu pulang dari luar kota! Dan masalah les tambahan lu itu, gue tadi udah telpon bokap. Dia minta guru les lu ngajar di rumah aja!" seru Tirta pada ku sambil meletakkan sendok dan garpu nya, sepertinya dia sudah selesai makan.
"Gue gak sanggup bayar kalau harus bawa gurunya ke rumah!" sahut ku pada Tirta.
Lagipula hubungan ku dengan pak Yoga kan tidak seperti dulu. Aku tadi sudah membentaknya dan bicara kasar padanya. Aku juga les di rumah nya itu gratis. Tapi setelah apa yang terjadi hari ini, aku rasa aku juga tidak ingin lagi mengikuti les tambahan dengan pak Yoga.
Tirta terlihat mendengus serius, dia menyatukan jemarinya lalu meletakkan kedua sikunya di atas meja. Aku sedikit mengernyit melihatnya, karena itu sama seperti yang sering di lakukan ayah ku saat selesai makan bersama di meja ini.
"Gak usah mikirin biaya, ayah bilang asal itu untuk les. Ayah dengan senang hati ngebayarin itu semua buat lu!" serunya.
"Gak usah lah, gue mau berhenti aja les tambahan..."
Brak
Aku terkesiap, nyaris sendok di tangan ku terjatuh karena aku terkejut saat Tirta menggebrak meja. Meskipun tidak terlalu keras tapi kan aku sedang dalam kondisi tidak siap, jadi aku merasa kaget sekali.
"Gak boleh berhenti, ujian kenaikan kelas sebentar lagi. Nanti gue yang bakal ngomong sama guru les lu itu. Siapa namanya?" bentak Tirta membuatku spontan menyebutkan nama...
"Pak Yoga! ups..!" aku langsung menutup mulut ku sendiri. Karena tekanan dari Tirta aku bahkan menyebutkan namanya. Memang sejak kapan pak Yoga mengajar les, dia kan hanya mengajari ku.
Aku jadi tidak berselera makan lagi, menyebutkan nama pak Yoga membuat ku kembali dalam mode mellow.
Aku meletakkan sendok ku di atas piring dan menggeser kursi ku kebelakang.
"Mau kemana?" tanya Tirta dengan nada yang belum dia turunkan.
__ADS_1
"Mendadak kenyang gue, udahlah gak usah ngusrusin hidup gue! urusin aja hidup lu sendiri! gue gak mau les lagi. Capek!" keluh ku lalu berjalan menuju ke arah tangga.
Aku menaiki anak tangga menuju lantai dua, tadinya aku bersemangat untuk makan malam. Tapi percakapan dengan Tirta membuat selera makan ku lenyap entah kemana. Aku membuka pintu kamar, masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamar dan menguncinya.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Aku masih memikirkan kejadian tadi siang. Rasanya benar-benar merusak suasana hatiku.
"Setelah ini, gimana gue ngadepin pak Yoga pas ketemu di sekolah nanti?" gumam ku bertanya pada diriku sendiri.
Setelah lama diam dan berfikir, aku menemukan cara agar aku dan pak Yoga benar-benar melupakan apa yang terjadi kemarin dan sebelum-sebelumnya. Aku menemukan cara agar pak Yoga tidak perduli lagi padaku.
"Gue tahu, gue harus jadi pembangkang aja sama dia. Biar dia benci sama gue, terus gak perduli lagi sama gue!" gumam ku.
Aku sudah mendapatkan caranya, dan kini saat nya aku memejamkan mata dan mengistirahatkan pikiran dan tubuh ku dari semua kepenatan yang ada.
***
Keesokan harinya ...
Aku kembali menyetel alarm jam 5 pagi. Dan berniat untuk menghindari Tirta, menghindari agar tak harus berangkat sekolah di antarkan oleh gerandong nyasar itu.
Tapi ketika aku selesai mandi dan bersiap-siap. Aku terkejut bukan main saat membuka pintu kamar ku ternyata si gerandong nyebelin ini sudah ada di depan pintu kamar ku.
"Pagi!" sapa nya dengan suara padaku.
Aku terkesiap, benar-benar tak percaya. Dia menyapa ku dengan suara yang lembut seperti itu.
"Lu ngapain di depan kamar gue?" tanya ku ketus.
"Gue nungguin lu lah, jadi beneran mau berangkat jam segini?" tanya nya sambil melihat ke arah jam tangan yang ada pergelangan tangan kanan nya.
***
Bersambung...
__ADS_1