
"Sekarang kamu tidak boleh panggil saya bapak, kalau kita sedang berdua seperti ini ya!" seru pak Yoga padaku.
"Uhuukk uhuukk!" aku sampai tersedak angin saat pak Yoga mengatakan itu padaku.
"Ih, bapak..eh masa' iya panggil sayang terus. Kan gimana gitu kedengarannya!" protes ku.
"Tapi saya tidak mau kamu panggil bapak, tidak romantis!" keluhnya lagi.
Aku mengerutkan kening ku.
'Sejak kapan orang ini jadi lebay begini?' tanya ku dalam hati.
"Bagaimana kalau Om?" tanya ku dan sepertinya aku membuatnya kesal, karena ekspresi wajahnya berubah dengan cepat dari ekspresi bercanda ke serius.
Aku menggaruk kepala ku yang sebenarnya tidak gatal.
"Tidak bagus ya?" tanya ku sambil nyengir.
"Rasti, apa kamu benar-benar tidak mau merubah panggilan itu?" tanya nya.
Aku jadi heran, apa memang seribet ini ya kalau orang pacaran? aku memang belum pernah pacaran jadi aku tidak tahu, aku juga tidak terlalu menyimak kalau nonton film romantis bersama Yusita, Dewi dan Nina. Karena pasti ada saja yang terjadi di dalam bioskop. Kadang Nina buang angin dan membuat keributan terjadi di dalam bioskop, kadang Dewi yang gemar dengan jalan ceritanya dan mengomel sendiri sampai semua orang yang sedang menonton juga menjadi marah dan meminta petugas mengeluarkan kami dari dalam bioskop.
Kadang juga Yusita yang bahkan tertidur karena lelah dengan tugas sekolah. Dan aku yang tidak bisa melihat adegan sedih, dan memilih untuk keluar dari dalam studio dan berpura-pura ke toilet. Jadi aku tidak tahu bagaimana orang yang baru berpacaran saling memanggil.
"Saya tidak atau pak, eh... maksud saya ini sulit. Kan kamu tahu otak saya ini ukurannya mini. Bagaimana kalau saya panggil nama saja?" tanya ku pada pak Yoga yang kalau dia setuju maka akan ku panggil dengan Yoga saja.
Dia terlihat meletakkan tangannya di dagu, seperti seorang yang pintar sedang berfikir. Dia mang pintar sih, jadi terserah dia saja bagaimana gaya nya dia mau berfikir.
"Boleh juga, tapi sering-sering lah memanggilku sayang ya!" ucap nya lagi sambil menarik ku ke dalam pelukannya lagi.
Sejak tadi aku memintanya membantu ku mengerjakan tugas proposal dari Bu Tari, dia malah terus memeluk ku dan memeluk ku lagi. Sanking seringnya, aku yang awalnya sangat tegang dan gugup saat dia melakukan itu aku jadi terbiasa dan sedikit berdebar saja ketika dia meletakkan kepala ku di dadanya.
"Yoga!" panggil ku pada nya.
"Hem!" jawab nya hanya berdehem dan masih memelukku.
"Kalau begini terus, lalu kapan tugas proposal ku akan selesai?" tanya ku padanya
"Memang kapan akan di kumpulkan?" tanya nya padaku dan masih memelukku, sepertinya dia tidak berniat melepaskan aku dan mengerjakan tugas.
"Lusa!" jawab ku singkat.
__ADS_1
"Kalau begitu besok saja kita kerjakan, hari ini aku ingin memeluk mu saja, tidak ingin hal lain!" ucap nya membuat ku terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
***
Aku membuka mata ku perlahan, sepertinya tadi aku tertidur ketika Yoga memeluk ku. Tapi aku tidak berada di ruang tamu. Aku berada di atas tempat tidur nya lagi. Dan aku tidak melihatnya berada di ruangan ini.
Aku turun perlahan dari tempat tidur dan meregangkan otot-otot tubuh ku. Kaos kaki ku bahkan sudah terbuka.
"Huh, kalau cara ku tidur seperti ini. Bahaya sekali kalau aku ikut camping atau semacamnya, di makan Beruang juga seperti nya aku tidak akan mudah bangun!" gumam ku mengeluh pada diriku sendiri.
Aku mencari keberadaan pak Yoga, sepertinya aku mendengar suara dari arah dapur.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya nya ketika melihat ku keluar dari dalam kamarnya.
"Sedang apa?" tanya ku mendekatinya.
Tapi dia malah menarik kursi dan memintaku untuk duduk saja.
"Silahkan duduk sayang, makanan akan segera siap!" ucapnya kemudian.
Aku duduk, menuruti apa yang dia katakan. Di bahkan membuka piringku dan meletakkan pasta yang baru matang.
"Em, kelihatan nya sangat lezat!" ucap ku melihat betapa menggoda nya penampilan pasta berselimut krim saus itu. Dengan potongan sosis dan juga bakso.
"Kamu tidak makan?" tanyaku padanya.
"Setelah kamu, aku ingin tahu bagaimana pendapat mu tentang masakan ku?" tanya nya. Dan tanpa sadar kami sejak tadi bahkan sudah memakai bahasa lain dalam memanggil satu sama lain, dan aku suka karena ini lebih nyaman di ucapkan dan juga di dengarkan.
"Aku coba ya!" ucap ku sambil memutar garpu untuk melilitkan pasta itu di garpu.
Aku memasukkan satu suapan besar ke dalam mulut ku.
"Um, Yummy. Ini enak sekali!" ucap ku memuji masakan Yoga dengan mulut penuh dengan pasta.
Yoga tersenyum, dia menatap ku dan melihat ke arah bibir ku.
"Ada apa?" tanyaku canggung.
"Kamu makannya belepotan!" jawab nya.
Aku tersenyum, dan tiba-tiba saja dia menyentuh pinggir bibir ku dengan jari jempolnya. Aku terkesiap, aku meletakkan garpu di atas piring dan berniat mengambil tissue yang ada di atas meja.
__ADS_1
Tapi lagi-lagi aku terkejut, karena setelah mengusap saus krim yang ada di sudut bibir ku, Yoga memasukkan jari jempol yang ada saus krim nya itu kemulutnya.
Deg deg
Jantung ku kembali berdegup kencang, tak karuan dan secara refleks nafas ku ikut tak karuan.
Yoga masih menatap ku dan dia semakin mendekat, semakin mendekat hingga aku yakin debaran jantung ku dapat terdengar olehnya.
Namun ketika jaraka kami semakin dekat, dan aku bisa merasakan hembusan nafasnya di wajah ku. Tiba-tiba saja ponsel yoga berdering.
"Pffftt!" aku tidak bisa menahan tawa ketika dia berdecak kesal dan meraih ponsel yang ada di saku kemejanya.
Dia melihat ke arah layar ponsel itu lalu melihat ke arah ku.
"Kakak mu!" ucap nya lalu menggeser icon telepon berwarna hijau di ponselnya. Dia juga menyapa speaker.
"Selamat sore!" ucap Yoga.
"Selamat sore pak, saya Tirta kakaknya Rasti. Apa Rasti bersama dengan anda?" tanya Tirta.
"Iya, dia bersama dengan saya!" jawab Yoga.
"Apa keadaan anda sudah membaik pak Yoga? maaf kalau boleh tahu, anda di rawat di rumah sakit mana ya? saya mau menjemput Rasti?" tanya Tirta lagi.
"Saya sudah baikan, ini sedang mengantarkan Rasti pulang! maaf karena sudah membuat mu cemas, dan merepotkan Rasti!" ucap Yoga.
Saat Yoga mengatakan itu aku sampai terkekeh geli mendengarnya. Dia kan guru, guru PPKN pula tapi kenapa dia begitu piawai dalam berkata-kata mengarang bebas begitu.
"Tidak apa-apa pak, saya hanya mencemaskan Rasti. Kalau begitu saya sudah tenang kalau anda sudah akan mengantarkan nya pulang!" ucap Tirta.
'Kenapa gue ngerasa kalau Tirta bilang itu semua tulis dari dalam hatinya ya? apa emang selama ini gue aja yang selalu negatif thinking sama dia?' tanya ku dalam hati.
Aku berfikir, apa selama ini memang aku yang sudah keterlaluan pada Tirta, beberapa hari ini saat ayah tidak ada dia yang mengutus ku, mengantar jemput aku, memastikan aku tidak terlambat ke sekolah. Dan begitu perduli tentang ujian ku. Kalau dia mau cari perhatian, tentu dia akan melakukan itu di depan ayah kan, bukan ketika ayah tidak ada.
"Sayang, ayo dimakan! aku harus cepat mengantarkan mu pulang. Atau kakak ipar ku akan marah!" ucap Yoga dan lagi-lagi membuat ku tersedak.
"Uhukk uhuukk!"
Yoga mengambilkan gelas dan menuangkan air ke dalamnya, kemudian memberikan nya padaku.
Aku meminum minuman itu, dia terlihat panik Padahal ucapannya itu yang membuat aku tersedak. Bagaimana dia bisa bilang Tirta itu kaka iparnya, bahkan usianya dan Tirta saja beda sepuluh tahun, lebih tua pak Yoga, ada-ada saja orang ini.
__ADS_1
***
Bersambung...