Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Belajar dengan Panji


__ADS_3

Ibu terlihat tidak terkejut, dan malah membelai kepala ku dengan lembut.


"Berjuanglah kalau begitu!" ujar ibu membuat ku menatap bingung padanya.


Aku tidak mengerti maksudnya berjuang bagaimana.


Dan sepertinya ini Rita tahu kalau aku bingung dengan apa yang dia maksudkan.


"Berjuanglah mendapatkan kepercayaan ayah mu, dengan mendapatkan nilai yang bagus. Tunjukkan meskipun kamu punya pacar, nilai mu bukan semakin menurun tapi sebaliknya, itu menjadi penyemangat mu dan nilai mu semakin membaik. Apalagi Yoga itu seorang guru kan?" tanya ibu setelah menjelaskan panjang lebar padaku.


Aku memeluk ibu Rita, aku senang dia tidak marah dan tidak menyalahkan aku tapi malah memberikan nasihat yang menurut ku sangat benar.


"Untuk sekarang, kita bisa menjaga rahasia ini untuk kita berdua, ibu tidak akan mengatakan dulu pada ayah mu sampai kamu sendiri yang mengaku dan membawa pacar mu itu ke rumah ini!" sambung ini Rita lagi.


Aku mengangguk paham, aku senang ibu Rita benar-benar mengerti keinginan dan ketakutan ku.


Setelah bicara pada ibu Rita, aku kembali ke kamar ku. Aku mandi dan kemudian mengeluarkan soal yang diberikan oleh kak Yoga. Tapi tiba-tiba saja ponsel ku berdering. Ketika aku memeriksanya ternyata Panji yang menelpon.


"Halo...!"


"Woi, katanya mau ke rumah? gue nungguin ini. Gue udah beliin bakso mang Udin nih, buruan mumpung masih panas!" ujar Panji di seberang sana dan setelah mengatakan kalimat itu dia langsung menutup panggilan telepon nya.


Aku menatap layar ponsel yang sudah kembali ke menu utama. Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk menolak. Apa yang harus aku lakukan, kaki ku ini lelah sekali pagi tadi baru pulang dari rumah sakit, siang tadi ke rumah pak Yoga, masa' iya malam juga masih harus ke rumah Panji. Siang tadi itu aku hanya bercanda saja akan ke sana, agar dia mengijinkan aku pergi. Kenapa malah dia menganggap serius begitu sih.


Aku menggaruk kepala ku yang rasanya tiba-tiba gatal karena aku bingung.


"Belum juga mikirin alasan apa ke sananya, mana boleh sama ayah!" gumam ku bingung.


Aku melihat sekeliling kamar ku, tapi tiba-tiba mataku tertuju pada lembar soal bahasa Inggris yang tadi di berikan oleh kak Yoga.


"Aha gue punya ide, si Panji kan pinter tuh bahasa Inggris. Gue bisa alesan ke sana belajar bareng kan!" gumam ku lagi lalu membereskan soal ujian dan memasukkannya ke dalam sebuah buku tulis dan membawa sebuah pulpen.


Dengan satu buah buku dan juga satu buah pulpen aku turun dari lantai dua dengan menuruni anak tangga menuju lantai satu. Aku bertemu dengan Tirta di anak tangga yang terakhir.

__ADS_1


"Mau kemana lu?" tanya nya.


"Gue mau belajar bahasa Inggris di rumah Panji, bilangin sama ayah sama ibu ya. Gue gak makan malam soalnya Panji bilang mau traktir gue makan bakso!" ucap ku pada Tirta.


"Mau makan bakso apa mau belajar?" tanya Tirta dengan wajah curiga.


"Belajar kak, nih udah di kasih soal sama kak Yoga tapi gue bingung ngerjainnya, udah ya bye...!" seru ku lalu langsung pergi meninggalkan kak Tirta.


Aku berjalan keluar rumah, dan langsung berjalan ke rumah Panji yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah ku.


"Assalamualaikum!" aku mengucapkan salam sebelum mengetuk pintu rumah Panji.


"Waalaikumsalam!" jawab bi Icih dan langsung tersenyum senang saat melihat ku.


"Non Rasti, masuk non! tuan Panji udah uring-uringan tuh sejak tadi nungguin non Rasti, sampai nyuruh bibi lima menit sekali nengokin ke depan ngelihatin non Rasti udah dateng apa belom, mangga atuh non masuk ke dalam!" ucap bi Icih panjang lebar di campur perpaduan berbagai bahasa di dalam kalimatnya.


Bi Icih mengajak ku masuk dan langsung ke ruang makan. Di sana aku sudah melihat Panji yang duduk di sebuah kursi sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan matanya.


"Eh Panjul, kenapa lu? masih pusing?" tanya ku sambil mendekati Panji dan duduk di sebelahnya.


"Astaga Rasti, kenapa baru dateng? tahu gak gue hampir pingsan kelaperan!" keluhnya sambil mengusap kasar wajahnya.


Aku memandang Panji dengan sedikit aneh. Kenapa aku merasa akhir-akhir ini tuh sikap Panji terkesan aneh.


"Apaan sih, ni bakso juga masih ngebul asap nya. Gak usah ngibul lu!" ucap ku sesuai dengan fakta.


Kalau tadi dia bilang sudah lama menungguku dan kelaparan tidak mungkin kan bakso dalam mangkuk ini ngebul begini asapnya. Aku melihat reaksinya setelah aku mengatakan kalimat itu, dan benar saja dia malah nyengir kuda. Itu sudah cukup meyakinkan aku kalau dia hanya bersikap berlebihan alias lebay.


Aku langsung mendekatkan mangkuk yang ada di depan ku. Dan mengaduknya perlahan, aku mulai menyendok sedikit kuah bakso itu dan mencicipi nya.


"Em, enak banget! bakso mang Udin emang gak pernah salah deh!" ucap ku.


"Makan yang banyak, biar gak kayak triplek lagi tuh badan!" serunya menyindir.

__ADS_1


"Gue tuh makannya banyak tahu, tapi emang gak bisa lagi nambah kayaknya berat badan gue!" sahut ku.


Aku bicara yang sebenarnya, aku juga dulu sempat heran kenapa tubuh ku seperti ini. Untuk tinggi 160 centimeter berat badan ku hanya 37 kilogram. Sampai dulu teman-teman mengejek ku kalau sedang berada di luar sangat angin kencang, kata mereka aku bisa terbang terbawa angin.


Tapi setelah mendengar tentang apa yang terjadi padaku di rumah sakit selama enam bulan itu, aku yakin tubuh ku seperti ini karena pengaruh obat seperti yang dikatakan oleh Tirta pada kak Yoga.


"Eh, bokap nyokap lu mana? sepi bener?" tanya ku pada Panji.


"Biasa, mereka kan mau nyaleg jadi sibuk banget tuh kampanye, puyeng gue!" keluh Panji setelah menjawab pertanyaan ku.


"Bokap nyokap lu dah balik?" tanya Panji gantian.


Dan aku mengangguk.


"Nah kok bisa lu keluar?" tanya nya memasang ekspresi terkejut.


Panji juga paham betul kalau ayah ku itu sangat tegas. Dan dia tidak pernah mengijinkan aku terlalu akrab dengan teman laki-laki, meskipun itu Panji, tetangga dan juga teman ku sejak kecil.


"Gue bilang mau belajar bareng sama lu!" jawab ku.


"Eh, seneng banget gue. Lu sampe bela-belain bohong buat nemuin gue!" ucapnya yang sepertinya sudah salah paham dan merasa ke ge'eran.


"Bohong gimana!" sela ku membuat senyum di wajah Panji menghilang.


Aku segera memperlihatkan buku tulis yang aku bawa dan membukanya, hingga terlihatlah contoh soal bahasa Inggris yang tadi di berikan kak Yoga.


"Nih, ntar abis makan bantuin gue ya?" tanya ku pada Panji.


Panji terlihat mengusap kepalanya gusar.


"Astaga Rasti, baru juga pengen beduaan sama lu, ck... ini malah di suruh belajar bareng!" keluh Panji dan aku hanya terkekeh pelan melihat Panji kesal.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2