
Pak Yoga duduk di samping ku, dia memegang tangan ku yang yang tidak terpasang selang infus. Meski rasanya sudah membaik setelah sarapan dan minum obat, tapi beberapa tulang ku masih terasa nyeri dan kepala ku masih sedikit pusing. Entahlah, tadi saat pak Yoga belum datang aku merasa lebih baik dari ini.
Tapi ketika pak Yoga datang rasanya jadi tidak nyaman lagi, ketika aku sedih. Mendadak semua tulang di tubuh ku terasa nyeri. Dan itu membuat dadaku sakit dan rasanya sedikit sulit untuk bernafas dengan bebas.
Pak Yoga terus memandangiku tanpa bicara sepatah kata pun. Aku menoleh ke arahnya dan mengerjap pelan.
"Kamu tidak tidur ya? wajah mu terlihat begitu pucat?" tanya ku membuka suara membuat suasana yang sejak tadi hening sedikit bersuara.
Tirta dan dokter Andika juga menoleh ke arah ku saat aku bicara.
"Aku sangat mencemaskan mu Rasti, aku benar-benar minta maaf atas apa yang di lakukan oleh ibu ku, apapun yang dia katakan...!" Pak Yoga menjeda kalimat nya terlihat sangat sedih.
"Rasti percaya lah, mau seburuk apapun masa lalu mu...!" ucap pak Yoga pelan.
"Masa lalu apa yang buruk? masa lalu siapa yang buruk?" tanya Tirta yang langsung berdiri mendekati Pak Yoga dan aku sambil berteriak.
Dokter Andika kembali menyentuh lengan Tirta.
"Tirta, tenanglah!" ucapnya pelan.
Tapi Tirta dengan cepat menggelengkan kepalanya berkali-kali pada dokter Andika bahkan menepis tangan dokter Andika.
"Tidak dokter, aku harus meluruskan sesuatu disini!" ucapnya dan akhirnya dokter Andika membiarkan Tirta melewati nya.
Aku menatap dengan tatapan sendu pada Tirta.
"Kak Tirta!" lirih ku pada Tirta.
Aku tidak mau kalau sampai dia berlaku kurang ajar pada pak Yoga. Selain perbedaan usia mereka yang cukup jauh dan akan sangat tidak pantas kalau Tirta marah pada pak Yoga. Aku juga tidak ingin kedua orang yang aku sayangi bertengkar di hadapan ku.
"Rasti, aku akan bicara dengan guru mu ingin Aku harus jelaskan semuanya padanya. Tidak ada yang buruk darimu, ingat itu Rasti. Kamu adalah adik dan putri terbaik di keluarga kita, tidak ada yang boleh mengatakan hal buruk tentang mu!" seru Tirta.
__ADS_1
Dan ketika Tirta mengatakan semua itu, aku tidak bisa jika tidak menangis. Tapi tiap kali air mata ku keluar, rasanya tulang di wajah ku terasa sakit dan juga seluruh tubuhku nyeri, bahkan sangat nyeri. Seperti habis ikut haiking atau semacamnya. Rasanya sangat berat, pegal dan ngilu. Tulang-tulang ini aku tidak tahu kenapa, tiap hati ku merasa sedih dan nyeri mereka seakan kompak ikut unjuk rasa.
"Ikut saya keluar pak Yoga, saya harus bicara dengan anda!" seru Tirta.
Pak Yoga segera melepaskan tangan ku, tapi aku yang menarik tangannya agar dia tidak pergi.
"Kenapa tidak bicara disini?" tanya ku pada Tirta dengan suara pelan.
"Rasti, ini pembicaraan antara pria!" jawab Tirta dan aku tahu kalau dia hanya beralasan saj mengatakan itu.
"Kakak...!" ucap ku lagi tapi pak Yoga menepuk tangan ku dengan lembut.
"Rasti tidak apa-apa, sebentar ya!" ucap Yoga yang berusaha meyakinkan aku kalau tidak akan terjadi apa-apa antara dirinya dan juga Tirta.
Aku melepaskan tangan pak Yoga, aku sungguh berharap kesalahpahaman antara aku dan ibunya pak Yoga tidak menyebabkan kesalahpahaman antara Tirta dan juga pak Yoga.
Tirta keluar dengan langkah yang cepat dari ruangan ini. Dan pak Yoga mengikuti nya dengan perlahan. Dokter Andika terlihat diam saja, dia malah menghampiri ku.
"Apa kamu ingin aku keluar dan memastikan kalau kekasih mu itu baik-baik saja?" tanya nya seolah Tirta akan melakukan sesuatu pada pak Yoga.
"Tidak dokter, aku yakin Tirta tahu apa yang harus dia lakukan!" jawab ku yakin pada dokter Andika.
"Aku senang kamu mengenal betul kakak mu itu, semalam dia banyak bercerita padaku. Aku akan memberitahu mu satu hal, dia itu sangat menyayangi mu!" jelas dokter Andika.
Aku hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Andika.
"Aku tahu!" jawab ku cepat.
"Apa ada keluhan lain, apa tubuh mu terasa sakit atau nyeri?" tanya dokter Andika padaku. Dan apa yang dia tanyakan itu memang sedang aku pikirkan sejak tadi.
"Benar dokter, rasanya seluruh tulang ku nyeri. Ketika aku merasa sedih bahkan rasa nyerinya bertambah, sebenarnya ada apa dengan ku dokter?" tanya ku pada dokter Andika.
__ADS_1
"Sebenarnya kondisi mu sudah membaik, hanya saja secara psikologis pikiran mu membuat seluruh tubuh mu terpengaruh, bisa di bilang jika kamu terlalu emosional maka seluruh tubuh mu akan ikut sakit!" jelas dokter Andika dengan ekspresi wajah serius.
"Apakah itu akan berbahaya dokter?" tanya ku pada dokter Andika.
"Tidak juga, kita hanya harus pulihkan dulu kondisi psikologis kamu. Dan aku yakin, aku bisa melakukan nya. Kamu percaya pada ku kan?" tanya nya dengan tatapan yang tidak aku mengerti.
Aku memilih untuk dia sejenak dan mengangguk perlahan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Dan aku jadi sadar, kalau seperti nya dokter Andika terus bersama kami dari pagi tadi. Dan dia juga bilang kalau semalam Tirta bicara pada dokter Andika. Artinya sejak semalam dan sekarang dia masih disini, memang nya berapa lama jam kerja seorang dokter di rumah sakit ini. Aku malah semakin penasaran dengan hal itu.
"Dokter, memang nya jam kerja di rumah sakit ini dua puluh empat jam, apa tidak ada dokter spesialis lain?" tanya ku penasaran dengan raut wajah yang biasa.
Dokter Andika malah terkekeh pelan mendengarkan pertanyaan dariku.
"Kenapa dokter?" tanya ku heran.
"Kamu benar Rasti, aku bahkan tidak menyadarinya kalau aku sudah dia hari disini. Sebenarnya jam kerjaku sudah hampir dimulai lagi dalam beberapa jam lagi!" jelasnya.
Tapi mendengar penjelasan nya aku malah semakin bingung saja.
"Bingung?" tanya nya sambil menganggukkan kepalanya sekali.
Dan aku menjawab pertanyaan nya itu dengan menganggukan kepala ku berulang kali.
"Jam kerjaku sudah berakhir pukul sebelas malam, dan saat aku akan pulang, kakak mu Tirta menggendong mu masuk ke dalam rumah sakit. Aku keluar dari dalam mobilku dan kembali menangani pasien ku, kamu!" jelasnya padaku.
"Dan dokter tidak pulang sampai sekarang?" tanya ku lagi.
Dokter Andika hanya mengangguk sekali.
"Iya, dan yang harus kamu tahu adalah aku belum mandi!" ucap nya sambil terkekeh.
__ADS_1
***
Bersambung...