Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Makan Malam


__ADS_3

Malam ini ayah mengajak kami makan malam dengan rekan bisnisnya. Kata ayah, rekan bisnisnya ini ingin mengenal keluarga kami lebih dekat lagi, karena rekan bisnis Ayah yang baru ini ternyata satu kota dengan kami. Aku jadi penasaran siapa orang itu.


Saat ini kami masih dalam perjalanan, aku dan ibu Rita duduk di jok belakang, sementara itu Kak Tirta yang mengemudikan mobil dan ayah duduk di kursi penumpang bagian depan di sebelah Kak Tirta.


"Ibu, kenapa kita juga harus ikut?" tanya ku pada ibu Rita.


Karena tadinya aku ingin tidur dan bermalas-malasan saja di rumah. Setelah 1 minggu ujian kenaikan kelas dan mengikuti latihan drama badanku rasanya pegal-pegal. Dan aku ingin sekali langsung merebahkan diri di kasur sambil mendengarkan musik favoritku.


"Ini permintaan dari rekan kerja ayah, tidak ada salahnya kan? lagipula rekan kerja ayah yang satu ini bahkan mau menggelontorkan banyak sekali dana untuk proyek baru ayah. Kalau kerjasama ini sukses mungkin saja ayahmu akan seperti dulu lagi!" ucap Bu Rita sangat antusias.


Aku mengangguk paham, aku juga ikut senang kalau sampai perusahaan Ayah maju seperti dulu. Ayah memang adalah pemilik perusahaan yang terbesar salah satunya di kota ini, itu ada pada masa aku masih kecil. Kata nenek Irma, saat ayah masih lajang dia dikenal sebagai seorang pengusaha muda yang sangat sukses, bahkan perusahaannya yang paling besar di kota ini. Tapi setelah menikah, beberapa tahun kemudian perusahaan Ayah bangkrut dan dia harus mulai lagi dari nol.


Dan kalau sampai nanti ayah berhasil lagi mencapai posisinya seperti dulu, Ayah pasti akan sangat senang. Dan aku juga pasti akan mendukung nya.


Beberapa menit kemudian kami sampai di area parkir sebuah hotel yang sangat besar, dan kalau tidak salah ini adalah hotel terbaik dan termegah di kota ini. Aku dan ibu turun dari dalam mobil bersama dengan ayah dan kak Tirta.


"Ayo kita masuk, mereka sudah menunggu!" ucap ayah setelah memeriksa ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jasnya.


Kami lalu masuk ke dalam hotel, masuk ke dalam lift dan sampailah kami di lantai 10. Saat keluar dari lift Ayah mengajak kami berjalan menuju ke arah kanan dan di sana terdapat sebuah restoran yang sangat mewah dengan nuansa warna gold dan coklat.


"Wah, ini keren banget. Boleh foto-foto gak yah?" tanya ku pada ayah.


"Jangan di keliatin banget alay nya dong Ras!" sahut kak Tirta.


Aku langsung mencibirkan bibir ku dan ayah dan ibu malah terkekeh melihat aku dan kak Tirta seperti itu.


Saat kami sudah mulai berjalan ke arah pintu masuk ada 2 orang pelayan wanita yang cantik-cantik menyambut kedatangan kami.


"Silahkan tuan Rudi Mahesa dan keluarga, silahkan masuk!" ucap salah seorang pelayan yang berpakaian berwarna hitam gold menyapa kami dengan senyum ramah dan kata-kata yang sangat sopan.


Salah seorang lagi menunjukkan dimana meja kami. Dan ternyata di antara puluhan meja yang ada di ruangan itu tidak ada satupun meja kami. Pelayan itu malah membawa kami ke sebuah ruangan khusus, di depan pintu berdiri dua orang yang langsung mencoba tangan ayah.


"Pak Rudi, silahkan masuk. Bos sudah menunggu anda!" kata seorang pria yang masih terlihat agak muda.


"Loh, pak Gunawan dan pak Tantowi tidak ikut masuk juga?" tanya ayah.

__ADS_1


"Oh, tentu saja tidak. Kami akan menunggu di ruangan lain!" jawab salah seorang pria yang sudah berusia seperti ayah ku.


Aku merasa sedikit takjub bukan sedikit lagi sih sebenarnya sudah sangat sangat takjub. Ruangan khusus, bahkan dua orang yang sepertinya sangat saya hormati ini juga akan berada di ruangan lain bukan bersama dengan kami. Sebenarnya siapa sih pengusaha yang ada di dalam ruangan itu, aku benar-benar merasa sangat penasaran.


Dan saat pelayan tadi membukakan pintu lalu kami satu-persatu masuk dimulai dari Ayah, Ibu, kak Tirta dan yang terakhir adalah aku.


"Selamat datang pak Rudi dan keluarga, silahkan duduk!" ucap seseorang yang sepertinya suaranya sedikit familiar.


Aku mulai celingak-celinguk penasaran sekali ingin melihat wajah dari orang itu. Dan ketika ayah dan ibu duduk, aku bisa melihat dengan jelas siapa orang itu.


"Dokter Andika!" ucapku begitu saja.


"Ups!" aku langsung menutup mulutku dengan telapak tangan kananku sendiri dan melihat ke arah Ayah, Ibu dan Kak Tirta yang sedang melihat kearahku secara bersamaan.


"Oh maaf pak Andika, ini anak saya Rasti!" ucap ayah.


Ayah lalu kembali berdiri dan menyuruhku untuk duduk.


"Rasti, duduk nak!" kata ayah.


Aku langsung duduk di satu-satunya kursi yang memang masih kosong dan itu berada diantara Pak Andika dengan ibu Rita.


Aku tidak tahu kalau ternyata selain menjadi seorang dokter, pria nama Andika ini juga adalah seorang pengusaha. Wah, luar biasa. Kesuksesan yang didapat selagi dia masih muda sama seperti ayah dulu.


Tapi kak Tirta terlihat cemas ketika aku melihatnya dan kami tidak sengaja bertemu pandang. Aku masih berpikir menggunakan otak imut dan lemot ku ini, kenapa kak Tirta begitu cemas. Dan ketika aku mengingat kalau kami bertemu dengan dokter Andika di rumah sakit saat aku pingsan dulu, dan ayah juga ibu tidak tahu kalau aku masuk rumah sakit. Aku jadi ikutan cemas dan panik.


"Iya pak Andika, apakah pak Andika mengenal putri saya?" tanya ayah sopan.


Aku bertambah gugup saja, kalau sampai Ayah tahu aku pernah masuk rumah sakit dan tidak bilang kepadanya aku takut ayah akan marah.


"Oh, itu yah. Dokter Andika ini juga dokter di UKS sekolah!" jawab ku menyela dokter Andika ketika dia ingin membuka mulutnya dan bersuara.


Aku langsung melihat kearah dokter Andika yang sepertinya tidak terima aku bilang seperti itu. Tapi aku langsung menunjukkan wajah memelas ke arahnya.


Dokter Andika terdiam sebentar, kemudian mengangguk paham.

__ADS_1


"Iya, pak Rudi. Saya memang pernah menjadi dokter yang menangani Rasti...!"


Aku langsung melirik ke arah dokter Andika lagi dan mengeringkan mataku. Aku tidak peduli apa yang dia pikirkan tentang aku tapi aku hanya ingin supaya Ayah tidak tahu kalau aku pernah pingsan dan dibawa ke rumah sakit selama beberapa hari.


"Di UKS sekolah!" lanjutnya.


Dan aku langsung menghela nafas lega, dan sepertinya tidak hanya aku saja. Aku juga melihat kak Tirta melakukan hal yang sama.


Ayah kemudian tersenyum dan mengangguk kan kepala paham.


"Iya, aku sampai lupa kalau selain pengusaha, pak Andika ini juga adalah seorang dokter ya, benar-benar seorang pemuda yang multitalenta!" ucap ayah memuji dokter Andika.


Aku juga mengangguk setuju kalau soal pernyataan Ayah yang satu itu. Dokter Andika ini selain tampan, baik hati, pintar dia juga luar biasa karena selain menjadi dokter dia juga adalah pengusaha muda yang sangat sukses.


Kami pun mulai makan malam bersama, dokter Andika banyak mengajukan pertanyaan tentang diriku pada ayah. Tapi justru hal itu membuat ku merasa tidak nyaman. Kenapa dari tadi dia menatap ku terus ya? Bukannya ke ge-eran. Tapi sepertinya tatapannya itu lain, tidak seperti saat dia menatap ke Tirta atau kepada ibu.


Setelah makan malam selesai, aku malah di buat sangat terkejut ketika dokter Andika berkata.


"Besok kan adalah hari Minggu, apa pak Rudi mengijinkan kalau saya mengajak Rasti berjalan-jalan sambil meninjau lokasi proyek resort kita?" tanya dokter Andika yang membuat ku membelalakkan mataku lebar.


'Heh, main ajak jalan aja. Gue kan udah ada janji sama kak Yoga. Aduh gimana ini? mudah-mudahan ayah nolak!' gumam ku dalam hati.


Ayah juga terlihat terkejut, tapi kemudian dia malah mengangguk.


"Tentu saja pak Andika, Rasti juga sudah selesai ujian. Dia pasti juga butuh jalan-jalan!" jawab ayah.


'Nah, ayah setuju lagi!' gerutu ku dalam hati.


"Ayah, maksudnya ayah kasih ijin. Tapi kan kata ayah Rasti gak boleh pergi berdua...!"


"Akan ada asisten ku juga Rasti, bagaimana?" sela dokter Andika.


Aku tidak bisa berkata-kata lagi, karena tatapan ayah seperti sedang meminta ku menyetujui nya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan jemput kamu jam sembilan pagi ya!" seru dokter Andika.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2