Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Menceritakan Rahasia


__ADS_3

Aku melihat pak Yoga dengan ekspresi malu-malu di hadapan ku. Wajahnya lucu sekali, dia itu tampan tapi lucu. Kulitnya yang putih menambahkan aura ketampanan nya lebih terpancar lagi.


Senyuman nya yang teduh, sungguh mampu menenangkan hati. Tapi apa semua ini nyata ya. Kok bisa aku yang kata Panji punya bodi seperti triplek plywood ini sekarang resmi jadi kekasihnya.


Aku mencubit lengan ku sendiri.


"Augh!" pekik ku karena ternyata rasanya sakit.


Pak Yoga terlihat heran dengan apa yang aku lakukan, dia mengusap lengan ku yang tadi aku cubit.


"Kenapa di cubit?" tanya nya dengan raut wajah cemas.


'Uh, so sweet. Jadi gini rasanya di perhatiin sama pacar, ups pacar!' kekeh ku dalam hati.


"Saya cuma mau memastikan kalau ini bukan mimpi!" jawab ku jujur.


Lagi-lagi pak Yoga terkekeh pelan. Dia duduk sambil menggunakan tangan kanannya yang sikunya bertumpu pada sandaran sofa. Sambil memandang ke arah ku dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


"Bukan kah saya yang seharusnya berkata seperti itu, beberapa waktu yang lalu kita masih orang lain, dan sekarang...!"


Pak Yoga menjeda kalimat nya, dan menatap ku dengan tatapan yang sangat lembut. Tangan nya perlahan beralih dari sofa ke arah wajah ku. Mataku mengikuti pergerakan tangan nya itu yang berhenti tepat di pipi ku.


"Kita adalah sepasang kekasih!" ucap nya dengan suara yang begitu terdengar merdu di telinga ku.


Apa yang dia katakan benar, kami sekarang adalah sepasang kekasih. Tapi tunggu!!


Kenapa aku tidak memikirkan hal ini, bagaimana nanti tanggapan ayah dan juga keluarga ku yang lain, lalu bagaimana dengan teman-teman ku. Apa mereka bisa terima kalau aku punya pacar duluan sebelum mereka, itu mungkin saja sih, tapi bagaimana aku bisa lupa dengan bagaimana pendapat seluruh penghuni sekolah.


Aku terlalu senang karena mengetahui pak Yoga tidak akan menikah dan begitu senang karena pengakuan cinta dari pak Yoga tanpa memikirkan akibatnya nanti bagi kami berdua.


Aku langsung memegang tangan pak Yoga yang menyentuh pipi ku. Dia terkesiap, tapi aku memang harus menjelaskan nya.


"Pak, maaf tapi apa bapak tidak melupakan sesuatu?" tanya ku sambil meletakkan tangannya kembali di atas sofa.


Pak Yoga terlihat bingung.


"Memang nya apa yang saya lupakan?" tanya nya padaku.


"Bagaimana kalau orang-orang di sekolah tahu hubungan kita, ini tidak baik kan. Satu orang mungkin punya pikiran tidak perduli dan merasa semua ini bukan urusannya, tapi mungkin saja yang lainnya akan menganggap kalau kita telah membuat sekolah itu, namanya.. maksud saya..!" aku sampai bingung bagaimana menjelaskan nya pada pak Yoga.


Tapi aku yakin dia mengerti, dia kan guru yang cukup pintar. Bahkan dia tidak hanya menguasai satu mata pelajaran saja. Hampir semua dia bisa. Lagipula dia juga bukan hanya S1 tapi sudah S2. Dan aku yakin dia mengerti maksud ku meskipun aku mengatakan nya dengan kalimat yang menurut ku sendiri itu sedikit rancu. Atau mungkin bukan sedikit rancu, tapi sangat rancu.


Pak Yoga kembali mengusap lengan ku.


"Kamu tidak ingin hubungan kita ini di ketahui orang lain?" tanya nya pelan.


Dan jujur saja, aku memang memikirkan hal itu.


"Apa bisa begitu, maksud saya. Bapak kan tahu saya ini tidak cukup pintar di bidang akademik. Kalau ayah saya sampai tahu saya pacaran maka...!" aku mengehentikan ucapan ku karena melihat raut wajah pak Yoga yang tiba-tiba saja berubah menjadi sedih dan tidak bersemangat.


"Bapak marah ya?" tanya ku pelan. Karena bagaimanapun aku tahu, dia kan awalnya terlihat begitu senang, hingga senyum tak luntur sama sekali dari bibirnya. Tapi setelah aku mengatakan kalimat ku tadi, ekspresi wajah nya mendadak berubah.


Pak Yoga membenarkan posisi duduknya lebih membungkuk ke depan dengan kedua sikunya bertumpu pada paha nya.


"Kamu benar, bahkan saya belum memperkenalkan diri saya pada ayah dan keluarga mu. Dan tentang di sekolah, kamu juga benar, tidak semua orang berfikiran positif. Baiklah kita bisa merahasiakan dulu hubungan kita ini!" jelas Pak Yoga membuatku menghela nafas lega.


Ternyata apa yang dia pikirkan sama dengan apa yang aku pikirkan. Apakah ini berarti aku juga sudah pintar, sama seperti dirinya. Tapi itu tidak mungkin. Itu sungguh tidak mungkin.

__ADS_1


Aku baru saja akan tersenyum dan berterima kasih karena pengertian nya tapi dia kembali membuka suaranya.


"Tapi, saya sudah mengatakan pada ibu dan kakak saya, kalau kamu adalah kekasih saya." ucapnya lagi.


Tentu saja aku terkejut, aku menaikkan kedua alis ku tak mengerti maksudnya. Aku bahkan belum bertemu kakak dan juga ibunya, bagaimana bisa itu terjadi.


"Sewaktu kamu datang kemari terakhir kali itu, kamu ingat tidak, kalau kamu tertidur setelah lelah menangis?" tanya pak Yoga dan aku langsung mengangguk kan kepala ku.


"Saat itu saya yang menggendong kamu ke dalam kamar saya, maksud saya agar tidur kamu lebih nyaman!" jelasnya lagi.


Aku sedikit malu sih, kenapa aku harus terlihat tidur terus olehnya. Rasanya jadi tidak nyaman dan canggung.


"Saat itu kakak saya menelpon, dia terus mendesak agar saya menjemput calon kakak ipar saya dan mengantar kan dia pulang. Tapi saya katakan kalau saya tidak bisa pergi karena ada kamu di rumah saya. Kakak saya tidak percaya, jadi saya video call dengannya dan memperlihatkan kamu yang sedang tertidur di kamar saya!" jelas nya


Aku langsung menutup wajah ku dengan kedua tangan ku.


"Astaga!" pekik ku.


Seingat ku saat itu aku sedang memakai pakaian pak Yoga, dan kakak nya melihat ku tidur di atas tempat tidur pak Yoga.


'Haduh, entah apa yang akan ada di pikiran kakak nya pak Yoga kalau seperti itu ceritanya!' keluh ku dalam hati.


"Saya juga bilang kalau kamu adalah pacar saya!" lanjut nya lagi membuat ku mengusap wajah ku dengan kasar.


'Habis lah sudah, kesan pertama dengan calon kakak ipar sudah ambyar ini mah!' keluh ku lagi dalam hati merutuki kebodohan ku sendiri.


Pak Yoga memegang kedua tangan ku yang aku gunakan untuk menutup wajah ku.


"Maaf kan saya Rasti, sungguh saat itu saya mengatakan itu karena saya tidak ingin dia berfikir macam-macam karena kamu tidur di kamar saya!" jelas pak Yoga sedikit panik.


Aku tahu pak Yoga takut aku marah padanya, dan aku memang tidak marah padanya. Aku hanya malu pada kakak nya. Dan bagaimana aku harus bicara dan menjelaskan perihal kejadian itu seandainya saat bertemu nanti kakak nya bertanya padaku.


Tapi aku kembali berfikir, kenapa hanya di minta menjemput kakak ipar nya seperti nya Pak Yoga sangat enggan. Apa dia tidak menyukai calon kakak iparnya itu.


"Sudahlah, pak tidak apa-apa sudah terlanjur juga. Tapi pak, apa saya boleh bertanya, apa bapak tidak menyukai calon kakak ipar bapak ya, kenapa hanya menjemput nya saja bapak tidak mau?" tanya ku padanya.


Dan seperti nya aku mengajukan pertanyaan yang salah. Karena raut wajah pak Yoga berubah lagi, dan kali ini aku tidak mengerti ekspresi macam apa itu. Dia terlihat kesal tapi juga sedih, jadi aku bingung untuk mengartikan ekspresi nya.


"Maaf kalau pertanyaan saya mengganggu bapak. Saya tidak akan bertanya tentang itu lagi!" lanjut ku tak mau membuat suasana semakin tidak nyaman.


"Tidak Rasti, seperti nya saya juga harus mengatakan ini pada kamu. Hubungan kita yang sekarang ini, saya tidak ingin merahasiakan apapun lagi dari kamu!" seru pak Yoga.


Dan jujur saja, aku malah semakin takut saat melihat wajah serius nya dan ucapannya yang katanya akan menceritakan hal yang penting. Karena jantung ku tiba-tiba saja berdetak tidak karuan. Aku jadi cemas, tapi jujur saja tidak ada hal negatif dalam pikiran ku. Hanya saja aku seperti akan menunggu hasil remedial, seperti itulah rasanya.


Pak Yoga terlihat mengambil nafas dalam-dalam, sebelum menceritakan apa yang katanya adalah sesuatu yang tidak perlu di rahasiakan. Sungguh aku semakin gugup saja, ketika menunggunya berbicara. Karena meskipun dia bilang akan mengatakannya, cukup lama dia terus diam dan tidak mulai bicara juga.


"Kalau bapak masih belum bisa menceritakan nya pada saya, saya rasa bapak tidak perlu memaksakan diri bapak untuk bercerita. Saya tidak apa-apa...!"


"Rasti!" ucap nya memanggil ku dan menyela pernyataan ku.


Aku menatap nya dengan tatapan biasa, aku bahkan memberikan sedikit senyum sebagai penghias di wajah ku.


"Calon kakak ipar ku itu adalah mantan kekasih ku!" ucap pak Yoga.


Deg


Aku merasa dadaku seperti terhantam sesuatu. Sebuah benda yang terasa sakit dan memenuhi rongga paru-paru ku. Hingga rasanya aku jadi kesulitan untuk bernafas.

__ADS_1


Apa-apaan ini, bagaimana bisa calon kakak ipar dari pak Yoga adalah mantan kekasih nya.


'Oh pantas saja, caption di foto yang di unggah saat feeting gaun pengantin itu wanita itu dan pak Yoga. Apa jangan-jangan dia masih berharap pada pak Yoga?' tanya ku dalam hati.


Aku menghela nafas ku berat, jujur saja selain terkejut aku juga merasa sedikit nyeri di jantung ku. Kami bahkan baru saja resmi jadian hati ini. Apa aku siap mendengarkan kisah cintanya dan juga mantan kekasih nya.


"Rasti, tapi saya benar-benar tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya!" jelas pak Yoga


Aku sih ingin percaya, tapi rasanya aku juga merasa cemburu. Tapi mau bagaimana lagi, di dengar atau tidak sudah kepalang tanggung kan.


"Lalu?" tanya ku dengan suara susah payah aku buat supaya aku terlihat tegar. Padahal sungguh aku ingin menangis saat ini.


Pak Yoga menundukkan wajahnya sekilas lalu kembali memandang ke arah ku.


"Saat kuliah kami sudah dekat, dan saat mendekati kelulusan kami berpacaran. Tapi dia kurang suka dengan keputusan ku menjadi seorang guru. Meskipun begitu, dia terlihat tetap bersikap baik dan seperti biasanya." cerita pak Yoga yang terlihat kesal.


"Lalu?" tanya ku lagi. Sungguh ya, rasanya seperti berada di dalam sinetron ikan terbang saja galau ku sudah level maksimal ini.


"Aku memutuskan untuk, mengambil pendidikan paska sarjana di luar negri. Dan saat itu pun hubungan kami masih baik-baik saja. Sampai saat aku kembali dari luar negeri. Ternyata yang ku kira di rumah ku ada penyambutan kedatangan ku, tapi ternyata itu adalah pesta pertunangan kakak ku Yoseph dengan kekasih ku sendiri Sofie!" jelasnya.


Dan aku bisa mendengar dengan jelas suara Pak Yoga terdengar parau. Aku tahu dia masih merasakan rasa sakit itu.


"Bagaimana bisa dia, lalu kakak mu apa dia tidak tahu...?" aku sungguh bingung mau bicara apa. Aku mau bertanya bagaimana mungkin kakak nya tega bertunangan dengan kekasih adiknya, tapi yang keluar malah kata-kata yang lagi-lagi terdengar rancu oleh nya.


"Maksud ku, kakak kandung tidak akan setega itu kan?" tanya ku yang akhirnya tersusun dengan benar.


"Iya, kamu benar. Kakak kandung tidak akan setega itu, tapi itu kalau dia tahu Sofie itu kekasih ku. Sementara tidak ada satu pun dari keluarga ku mengetahui hal itu!" jelasnya dan aku bertambah bingung.


"Ini bagaimana sih? kalian pacaran bertahun-tahun. Dan keluarga mu tidak ada yang tahu? itu mustahil kan?" tanya ku pada pak Yoga yang dari mata nya aku bisa melihat kesedihan yang begitu dalam.


"Dia tidak pernah mau aku perkenalkan dengan keluarga ku. Aku tidak tahu kalau ternyata dia dan keluarganya...!"


"Keluarganya juga ikut bersandiwara?" tanya ku menyela apa yang ingin di katakan pak Yoga


Aku tahu itu tidak sopan, tapi aku gemas sekali. Bagaimana bisa perempuan itu dan juga keluarga nya, seharusnya tidak seperti itu kan keluarga itu. Hah, meskipun keluarga ku juga terlalu harmonis tapi kami tidak akan melakukan hal itu.


Pak Yoga mengangguk, aku jadi sedih melihat ekspresi wajah nya yang tersakiti itu.


"Bahkan mereka bisa bersikap seolah tak mengenal ku, padahal aku sudah mengenal mereka lebih dari lima tahun!" jelas pak Yoga.


Aku bisa mendengar suara lirih, dan nada kecewa yang tersirat dalam setiap kata yang pak Yoga ucapkan.


Aku menggeser duduk ku dan mengelus punggung pak Yoga.


"Sabar ya pak, mungkin semua yang terjadi memang yang terbaik untuk bapak. Jika tidak bagaimana mungkin bapak tidak tahu kalau Kakak bapak berhubungan dengan perempuan itu. Sabar ya!" ucap ku sok dewasa. Aku bahkan geli sendiri mendengar aku menasehati pak Yoga.


Pak Yoga menatap ku dengan dalam.


"Kamu tidak marah?" tanya nya.


Aku malah bingung kenapa dia bertanya begitu padaku.


"Untuk apa saya marah?" tanya ku terus terang.


"Saya menceritakan kisah saya dengan perempuan lain!" jawabnya singkat padat dan jelas.


Aku berusaha untuk tersenyum, padahal aku tadi juga sempat merasa kesal saat pertama kali dia bilang mantan kekasih. Tapi setelah mendengar keseluruhan dari cerita nya, aku rasa aku tidak pantas, sama sekali tidak pantas cemburu pada perempuan seperti itu.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2