
Author POV
Setelah Tirta mengusir Sofie dan Asti, Tirta menutup pintu rumah dengan membanting nya. Dia benar-benar tidak tahan lagi dengan dua wanita yang sedari tadi terus menghina Rasti.
Meskipun Rasti yang di hina dan di pojok kan seperti tadi, tapi terus terang saja Tirta yang malah merasa sangat kesal dan tidak terima.
Brukk
Sebuah suara benda jatuh membuat Tirta segera menoleh ke arah sumber suara. Matanya terbelalak ketika melihat Rasti jatuh pingsan di lantai.
"Rasti!!" teriak Tirta dan langsung berlari ke arah Rasti.
Tirta menjatuhkan lututnya di depan Rasti dan mengangkat kepala Rasti lalu meletakkan kepala adiknya itu di atas pangkuan Tirta. Dia terus membelai kepala Rasti dengan lembut dan menepuk-nepuk pelan pipi Rasti agar adiknya itu sadar.
"Rasti, Rasti bangunlah. Rasti ayolah, jangan nakut-nakutin gue Ras, Rasti.... Bibi... bibi!" teriak Tirta pada bibi yang segera keluar sambil berlari dari arah dapur.
Bibi juga terlihat panik ketika melihat Rasti pingsan.
"Bi, panggil taksi. Cari taksi... kita harus bawa Rasti ke rumah sakit, cepet Bi!" seru Tirta dan bibi pun langsung berlari keluar mencari taksi.
Saat bibi mencari taksi untuk membawa Rasti ke rumah sakit, Tirta terus berusaha membangunkan Rasti dari pingsannya. Tirta tahu betul kondisi mental Rasti, dia takut sekali terjadi sesuatu yang buruk pada Rasti. Terakhir kali, meskipun sakit kepala tapi Rasti masih sadar dan belum pingsan. Jadi Tirta bisa memasuki obat ke dalam mulut Rasti agar meminumnya, tapi kali ini Rasti sudah pingsan, tidak ada yang bisa Tirta lakukan selain cepat membawanya ke rumah sakit.
Tirta masih sangat panik, tak lama kemudian bibi masuk ke dalam rumah bersama dengan supir taksi.
"Tuan, taksinya sudah di depan!" ucap bibi dengan suara ngos-ngosan karena dia juga telah berlari dengan cepat sampai ke depan gang untuk menghentikan taksi yang lewat.
Mendengar itu, Tirta segera mengangkat tubuh Rasti dan menggendong nya keluar rumah lalu masuk ke dalam taksi, di bantu oleh supir taksi.
"Bibi tolong ambilkan dompet saya di kamar!" teriak Tirta pada bibi dan bibi segera berlari masuk kedalam rumah untuk mengambilkan dompet milik Tirta.
Setelah bibi keluar membawa dompet Tirta, Tirta segera meminta supir taksi berangkat ke rumah sakit.
Bibi terlihat sangat cemas, dengan nafas yang masih ngos-ngosan dia menautkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya sambil terus mendoakan agar Rasti baik-baik saja.
__ADS_1
"Ya Tuhan, tolonglah... tolonglah non Rasti, dia sangat kasihan ya Tuhan, jangan sampai penyakit lamanya kambuh lagi ya Tuhan, aku mohon!" gumam bibi dengan air mata yang sudah berlinangan di pipinya.
***
Sementara itu Tirta terus berusaha membangunkan Rasti di dalam taksi. Sesekali dia terus meminta agar supir taksi yang mereka tumpangi mempercepat laju kendaraan nya agar cepat sampai di rumah sakit.
"Pak, tolong lebih cepat pak!" seru Tirta sangat panik.
Si supir taksi hanya a bisa mengangguk dan menjawab 'iya' lalu berusaha secepat mungkin melaju ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit, suasana jalan yang memang sudah lumayan larut, membuat jalan raya sepi dan cukup lengang. Hingga mereka bisa tiba di rumah sakit lebih cepat.
Tirta meminta supir taksi membukakan pintu mobil taksi untuknya, karena sejak tadi dia terus memangku dan memeluk Rasti. Tirta tak perduli lagi dengan kakinya yang sudah mulai kebas, dia terus berlari masuk ke dalam rumah sakit dan berteriak meminta bantuan para suster.
"Suster, tolong... tolong adik saya. Cepat suster!" teriak Tirta cukup membuat semua yang ada di lobi rumah sakit memperhatikan nya.
Dengan cepat dua orang suster menarik sebuah ranjang strecther yang kosong yang berada di dekat lobi. Lalu mendekatkan nya pada Tirta. Tirta merebahkan Rasti di atas ranjang itu dan segera membantu para suster mendorongnya ke ruangan ICU.
"Maaf tuan, anda harus menunggu di luar!" perintah salah seorang suster.
"Kami akan berusaha yang terbaik!" ucap seorang dokter muda yang lalu masuk ke dalam ruang ICU itu.
Perawat dan dokter sudah masuk ke dalam ruang ICU dan pintunya pun sudah tertutup rapat.
Tirta bersandar di dinding dan terus memandang ke arah pintu ruang ICU. Sampai dia teringat kalau dirinya bahkan belum membayar ongkos taksi. Tirta mengusap rambutnya kasar lalu dia segera berlari ke arah lobi. Dan melihat supir taksi itu duduk menunggu di lobi. Tirta mendekati supir itu
"Pak, terimakasih banyak ya!" ucapnya sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan pada si supir yang sudah separuh baya.
"Ini terlalu banyak tuan, bagaimana keadaan nona yang tadi?" tanya si supir yang belum mengambil uang itu dari tangan Tirta.
"Tidak apa-apa pak, saya minta doa nya untuk adik saya ya!" ucapnya sambil menarik tangan si supir taksi dan menyerahkan uangnya di tangan si supir taksi itu.
"Terimakasih tuan, saya pasti mendoakan nya!" sahutnya.
__ADS_1
Setelah si supir taksi pergi, seorang suster menghampiri Tirta.
"Tuan, maaf silahkan diisi dulu administrasi nya!" ucapnya dengan sopan meminta Tirta mengikuti nya ke meja administrasi.
Tirta mengikuti semua prosedur yang harus dia isi dan lakukan. Setelah selesai dengan semua itu, dia kembali ke ruang ICU. Hampir setengah jam dan lampu ruang ICU masih menyala.
Tirta kembali mengingat kejadian tadi, dimana dia orang wanita yang tak diundang datang ke rumahnya dan membuat keadaan Rasti menjadi seperti ini.
Tirta langsung meraih ponsel dari dalam sakunya dan menghubungi seseorang.
Tut.. Tut..
Terdengar nada suara panggilan terhubung.
"Halo Tirta ada apa...!"
"Gue bakalan bilang buat yang pertama sama yang terakhir kalinya juga seperti yang udah nyokap lu bilang ke Rasti!" ucap Tirta dengan mata yang merah.
"Jangan Ganggu Rasti Lagi!!!" bentak Tirta sekuat tenaga nya sampai semua urat di leher dan pelipis nya terlihat.
"Tirta, maaf tapi apa maksud kamu?" tanya suara di seberang sana. Dan pemilik suara itu adalah Yoga Adrian. Dia terdengar sangat bingung dengan apa yang di katakan oleh Tirta padanya.
"Tanya sama nyokap lu juga perempuan yang ngaku calon menantu nya, gue gak bakalan maafin lu semua kalau sampai terjadi sesuatu sama adek gue! Camkan itu!" teriak Tirta lagi. Dia menutup panggilan teleponnya.
Tirta benar-benar sangat emosi, dia sudah ada pada ambang batas kesabaran nya. Dan dia juga sangat kesal pada dokter Dona, bagaimana dia bisa menceritakan rahasia pasien nya pada orang lain.
Meskipun sebenarnya dokter Dona tidak pernah mengatakan penyakit Rasti pada Asti, Asti lah yang sudah salah tanggap pada perkataan Dona sebelumnya.
Tapi semua sudah semakin parah akibat kesalahpahaman dan juga hasutan Sofie pada Asti.
Tirta sampai terduduk lemas di lantai, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada ibu dan ayah Rudi kalau sampai penyakit lama Rasti kambuh lagi. Meskipun sebenarnya ini bukan salah Tirta, tapi tetap saja dia merasa lalai menjaga dan melindungi Rasti.
***
__ADS_1
Bersambung...