Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Marco Hoax Lagi


__ADS_3

Marco membantu ku untuk berdiri dengan baik, dia lalu maju selangkah dan berdiri di depan ku. Seperti dia sedang memberikan perlindungan untuk ku dari Kiki dan kedua temannya.


Dia bahkan melihat ke arah ku, memastikan aku terluka atau tidak.


"Lu gak papa?" tanyanya terlihat cemas.


Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.


"Gak papa!" jawab ku singkat.


Marco lalu kembali berbalik membelakangi ku dan merubah ekspresi wajahnya.


"Kenapa lu dorong Rasti?" tanya Marco dengan suara yang penuh penekanan. Dan aku yakin kalau saat ini dia sedang marah, sebab aku melihat rahangnya mengeras dari arah belakang aku berdiri.


Aku masih diam dan mencoba memahami situasi ini, siapa suruh juga otak ku agak lemot. Sampai aku masih terus memikirkan ucapan Kiki tadi, yang belum aku pahami.


"Siapa yang lu sebut pelakor?" lanjut Marco bertanya lagi.


Padahal pertanyaan yang pertama saja tadi belum Kiki jawab, gadis itu masih sibuk melihat ke arah dua temannya secara bergantian seperti sedang meminta bantuan dari mereka untuk menjawab pertanyaan dari Marco.


Mereka bertiga masih diam dan saling pandang,


"Jawab, atau gue laporin kalian bertiga ke guru BK!" gertak Marco pada Kiki dan kedua temannya.


Saat Marco sedang mengancam Kiki dan teman-teman nya, aku melihat seorang siswa yang baru masuk ke dalam kelas bersama dua orang yang tadi ada di dalam kelas yang ku tahu dia adalah salah seorang teman Panji yang suka main ke rumahnya, menghampiri kami. Aku ingat namanya Tio.


Tio berdiri di depan Marco, di antara Marco dan Kiki.


"Marco, sorry sorry. Tolong jangan bikin keributan di sini! semua bisa diselesaikan baik-baik kan?" tanya nya mencoba melerai dengan bicara dengan nada yang lebih enak di dengar ketimbang nada bicara Kiki tadi.


Marco menatap tajam ke arah Tio.


"Temen lu ini yang kurang ajar, dia dorong Rasti dan bilang kalau Rasti ini pelakor!" seru Marco.


Aku yang berdiri di belakang Marco hanya bisa mengangguk saat Tio melihat ke arah ku seolah bertanya apakah ucapan Marco itu benar atau tidak.


Setelah mendengar apa yang di katakan oleh Marco dan juga mencari tahu jawaban dari ku. Tio terlihat menghela nafas berat.

__ADS_1


"Ki, lu keterlaluan! mendingan sekarang lu minta maaf sama Rasti deh, biar nih masalah gak jadi panjang!" ucap Tio memberikan nasihat nya pada Kiki.


Tapi sepertinya Kiki tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh Tio.


"Lu belain dia karena dia gebetan temen lu kan?" tanya Kiki dengan nada meremehkan


Aku terkejut, apa katanya tadi. Gebetan? siapa yang gebetan nya siapa?


"Siapa yang gebetan siapa?" tanya Marco dengan suara lantang. Secara tidak langsung sepertinya dia sudah mewakili pertanyaan yang ada di benakku.


"Temen lu itu, cewek yang sok polos sok gak tahu apa-apa, tapi diem-diem dia tuh yang udah bikin Panji mutusin gue, Panji tuh suka sama Rasti!" jelas Kiki dengan suara yang makin meninggi.


Aku malah terkejut bukan main.


'Wah, parah si Panjul. Gue gak tahu apa-apa kenapa gue di bawa-bawa?' batin ku kesal.


Panji benar-benar telah memberikan masalah secara tidak langsung padaku, bisa-bisa nya dia jadikan aku alasan untuk putus dengan Kiki. Wajar saja Kiki ngamuk, di tinggal pas lagi sayang sayangnya. Alasannya suka sama cewek lain pula. Gak habis pikir aku apa yang ada di otak Panjul itu.


Tapi anehnya aku melihat Tio malah terdiam dan menatap ke arah ku sekilas. Apa dia juga tahu tentang hal itu.


"Asal lu tahu, Rasti gak mungkin suka sama Panji!" seru Marco yang membuat ku terkesiap dan langsung memalingkan pandangan ku dari Tio pada Marco.


"Hah, ku bilang apa? mereka tuh udah sering banget jalan bareng, satu sekolah juga dah pada tahu kali!" seru Kiki tak terima dengan pernyataan Marco.


"Dia kan tetangga gue!" aku ikut menyela, karena alasannya memang itu.


Marco terlihat menoleh sekilas, dia lalu menggenggam tangan ku dan mengajak ku berdiri berdampingan sejajar dengannya.


"Dengar kan, Rasti sama Panji sering jalan bareng karena mereka teman dan tetangga, gak lebih dari itu. Lagipula gak mungkin Rasti suka sama Panji, karena dia punya pacar yang jauh lebih pinter, lebih kaya dan lebih ganteng dari Panji!" seru Marco membuat semua yang ada di kerumunan ini menatap penasaran ke arahnya.


Bahkan aku melihat Tio seperti tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Marco.


"Rasti itu pacar gue!" tegas Marco yakin dan mantap.


Aku menelan saliva ku dengan sangat susah.


'Apa lagi ini?' tanya ku dalam hati.

__ADS_1


Aku hanya bisa terdiam, karena Marco mengencangkan genggaman nya pada ku.


"Kalau kalian gak percaya, bisa tanya sama anak-anak IPS lain!" lanjut Marco mencoba meyakinkan semua orang.


Kiki terlihat lebih kesal lagi saat mendengar itu, dia malah pergi terburu-buru dan keluar dari dalam kelas diikuti dua teman nya. Dan salah satu dari mereka mendorong kursi hingga terjatuh ke lantai.


Aku berusaha melepaskan tangan Marco, tapi sepertinya tidak bisa. Dia masih menggenggam nya dengan erat.


"Rasti! apa yang di bilang sama Marco tadi.."


Tio baru saja akan bertanya padaku, tapi Marco dengan cepat menyelanya.


"Lu ngapain sih kesini?" tanyanya sambil memposisikan dirinya berdiri di hadapan ku dan menutupi Tio agar tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Gue mau ambil tas Panji!" jawab ku lemas.


Aku juga tidak tahu kenapa, meski aku dan ketiga teman ku suka cari masalah dan sering berantem. Tapi aku tidak suka kalau aku hanya diam dan tidak ikut berinteraksi. Rasanya seperti tertindas, dan itu sangat tidak menyenangkan.


Marco berbalik melihat Tio.


"Dimana meja Panji?" tanya Marco pada Tio.


"Gue ambilin!" ucapnya.


"Panji di bawa pulang atau di bawa ke rumah sakit Ras? tadi gue ke UKS dia udah gak ada?" tanya Tio terlihat benar-benar mencemaskan temannya itu sambil memberikan tas Panji padaku.


"Panji dibawa pak Yoga ke rumah sakit, kebetulan pak Yoga tadi ke UKS..."


"Rumah sakit mana?" tanya Tio menyela ku. Sepertinya dia benar-benar mencemaskan keadaan Panji.


"Em... apa ya tadi. Permata... permata..!" aku bahkan lupa nama rumah sakitnya padahal pak Yoga baru menelpon beberapa menit yang lalu.


"Permata kasih?" tanya Marco ikut menyela.


"Ah, iya bener. Permata kasih. Kok lu tahu?" tanya ku pada Marco.


"Itu kan yayasan bokap gue!" jawabnya dengan nada yang sedikit menyombongkan diri.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2