Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Dewi Jatuh Cinta?


__ADS_3

Aku masih mengerjakan soal ujian mata pelajaran geografi dan semua soalnya ternyata sama seperti yang di contohkan oleh kak Yoga. Bagus sekali, kali ini aku benar-benar bisa mengerjakan semuanya dalam waktu kurang dari sembilan puluh menit. Menurut ku ini rekor yang luar biasa selama dua tahun aku sekolah disini.


Tapi seperti yang kak Yoga selalu katakan agar aku tidak boleh langsung puas dengan pencapaian ku. Jadi aku putuskan untuk membaca ulang soal dari soal nomor 1 sampai selanjutnya, aku juga memastikan jawaban diletakkan di nomor yang benar. Ketika aku baru membaca ulang sampai soal nomor 12, guru pengawas yang kebetulan adalah guru mata pelajaran olahraga Pak Sudrajat, bersuara.


"Baiklah, semuanya waktu telah habis. Silahkan silakan keluar tinggalkan lembar soal dan lembar jawaban kalian di atas meja!" seperti itulah yang dikatakan oleh pak Sudrajat.


Dan kami pun akhirnya satu persatu keluar dari dalam kelas setelah mengambil tas kami masing-masing. Aku langsung berjalan keluar sebelum seseorang yang matanya sejak tadi memicing padaku mendekat. Bukan karena takut padanya, tapi aku memang tak mau lagi berurusan dengan mereka.


"Rasti! we miss you !" teriak Dewi yang langsung memelukku dengan erat.


"Rasti lu kemana aja, kemarin tuh kita tungguin di kantin gak nongol. Lu tahu gak, dua hari gak ketemu lu tuh berasa kayak 48 jam loh! kangen banget gue!" lanjut Nina yang juga langsung memeluk ku dari sisi lain.


"Lu baik-baik aja kan Rasti! kita semua cemas gak lihat lu dari kemaren!" ucap Yusita yang sudah berada di depan ku sambil tersenyum dengan tulus.


Aku senang melihat mereka bertiga, akhirnya aku tidak merasa sendirian lagi. Dan hal yang terbaik adalah, mereka begitu memperdulikan aku. Tak melihat ku kemarin dan mereka begitu cemas.


"Kenapa nomer lu gak bisa di hubungin Ras? gue telepon berkali-kali gak bisa?" tanya Dewi yang sudah melepaskan pelukannya dariku dan berdiri di samping ku.


"Iya bener, gue juga nelpon lu tapi nomer lu gak aktif?" sahut Nina yang juga sudah berdiri tegap di samping ku.


"Hape gue ilang, gue lupa terakhir kali ada dimana! tapi makasih ya, lu semua so sweet banget sih!" ucap ku setelah menjelaskan pada mereka berempat kenapa nomer ku tidak bisa di hubungi.


Setelah mendengar alasan ku, mereka terlihat mengangguk paham.


"Eh iya, kita kesini karena tadi di kelas tuh Bu Davina wali kelas kita ngasih tahu kalau pulang sekolah kita di suruh kumpul di kelas. Mau ada pengumuman. Ntar lu kasih tahu David juga ya!" ucap Yusita yang kelihatan dari kami semua memang hanya dia yang bisa serius.

__ADS_1


"Ada apaan? pengumuman apa? lu dapet bocoran gak?" tanyaku penasaran pada Yusita.


Yusita sih menunjukkan sikap kalau dia sepertinya sudah dapat bocoran tentang pengumuman apa yang akan disampaikan oleh Bu Davina. Tapi sepertinya dia akan memilih untuk tidak mengatakannya kepada kami.


"Sorry, tapi gue cuma dengar sekilas doang jadi gue takut apa yang gue denger itu salah. Jadi, lebih baik nanti kita dengerin aja langsung apa kata bu Davina. Lebih akurat gitu!" jelasnya panjang lebar dan kami bertiga yang berada di depannya hanya menganggukan kepala seolah-olah paham.


Entah kenapa aku juga heran siswi sepintar Yusita mau bergabung dengan geng cewek-cewek aneh seperti kami ini. Tapi kami cukup bersyukur, karena Yusita benar-benar tulus berteman dengan kami.


"Okelah, kantin yuk. Gue kangen nih sama pisang goreng crispy Bang Madun!" rengek Dewi yang membuat sala ekspresi wajahnya imut, padahal wajah garang yaitu jauh dari kata imut.


"Elah, Lu kangen sama pisang goreng crispy Bang Madun apa kangen sama Bang Madun nya?" tanya ku menggoda Dewi.


Dewi langsung berubah ekspresi wajahnya menjadi serius.


"Idih, ya kali gue demen sama laki orang!" jawabnya jelas tidak menyukai apa yang aku katakan.


Aku cukup terkesiap ketika Dewi seolah-olah benar-benar tidak senang dengan apa yang aku katakan, aku tahu memang sedikit keterlaluan kalau mengatakan dia menyukai seorang pria yang sudah memiliki istri bahkan seorang anak berumur 6 tahun. Tapi jujur saja aku mengatakan itu hanya untuk bercanda hanya untuk menggodanya.


Suasana menjadi sedikit tegang setelah Dewi menjawab candaanku dengan ketus. Tapi sedetik kemudian...


"Gue juga becanda keles!" seru Dewi sambil merangkul denganku dan langsung nyengir seperti kuda.


"Ih, gue kira lu marah beneran Dewi! bisa enggak kalau elu ngomong itu nggak usah pakai gaspol, aki lu lagi full ya, atau lu baru isi bensin full tadi pagi?" tanya Nina makin membuat ku terkekeh.


"Ck... udah ah! yuk kantin!" sela Dewi langsung berjalan duluan meninggalkan kami bertiga yang masih menatapnya dari arah belakang.

__ADS_1


"Heh, pada nyadar nggak sih kayaknya ada yang berubah deh dari itu anak?" tanya Yusita memasang wajah serius, jadi kami bertiga memang hanya Yusita yang mempunyai perasaan lebih peka.


Aku juga jadi ikut memperhatikan Dewi dari tampak belakangnya karena dia berjalan membelakangi kami menuju kantin.


"Apa ya, kayaknya cuma rambutnya deh yang agak lebih panjang, terus kayaknya apalagi ya?" aku malah bingung sendiri apa yang berbeda dari penampilan Dewi.


"Iya, kayaknya sih cuma rambutnya memang lebih panjang ya dari yang kemarin-kemarin, tapi mukanya masih gitu-gitu aja tuh, galak kayak mamang mamang jaga parkiran!" lanjut Nina.


Dan setelah mendengar jawabanku dan juga jawaban dari Nina, akhirnya Yusita menghembuskan nafasnya lelah.


"Kalian tuh, masa gak peka sih?" tanya Yusita yang mulai kesal.


"Emang apaan sih?" tanya ku bingung.


"Gaes... Dewi pakai cat kuku warna peach, lu semua gak sadar kalau dia juga pakai lipsglos, terus kalian juga gak nyadar apa tuh jalannya, gak ngengkang lagi kayak preman, tuh lihat deh lebih feminim gitu!" jelas Yusita panjang lebar dan membuat ku dan Nina saling melihat selama beberapa kali, lalu melihat ke arah Dewi dan saling memandang lagi.


"Baru nyadar gue, kenapa tuh anak? salah makan obat kali ya?" ucap Nina.


Aku juga memikirkan hal yang sama, seperti nya dia memang terlihat lebih seperti wanita sekarang padahal beberapa hari yang lalu, dia masih tomboi. Tapi aku pikir lagi, itu cukup bagus karena memang seharusnya seorang wanita itu bersikap dan bertutur kata seperti Yusita.


Aku tidak mungkin menjadikan diriku contoh bukan. Karena akan jadi contoh yang buruk.


"Kayaknya dia lagi jatuh cinta deh!" seru Yusita tiba-tiba dan berhasil membuat ku dan Nina membelalakkan mata kami ke arah Yusita secara bersamaan.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2