Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Dua Hal Itu Lagi


__ADS_3

Karena sangat penasaran, aku mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan bahwa kak Yoga baik-baik saja.


"Kak Yoga, kak Yoga kenapa? apa kak Yoga terluka?" tanya ku penasaran.


Ceklek


Kak Yoga keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya.


"Rasti, maaf telah membuatmu khawatir. Aku mandi dulu tadi, sepertinya cuacanya sedikit panas, jadi aku merasa sedikit gerah!" jelas kak Yoga dengan wajah yang sedikit aneh menurutku ekspresinya sedikit datar tapi seperti orang yang sedikit gugup juga.


"Aku tidak merasa seperti itu, langit mendung. Panas darimana?" tanya ku sambil menuju ke arah jendela yang tidaknya terbuka. Dan kami bisa melihat dengan jelas bahwa langit memang sedang mendung.


"Sudahlah, aku hanya ingin mandi saja bisa tolong keluar sekarang aku ingin berganti baju!" ucap kak Yoga padaku.


"Jangan lama-lama ya, aku lapar!" aku bicara dengan nada suara sedikit merengek. Karena aku memang benar-benar sudah lapar.


Aku kemudian keluar dari kamar Kak Yoga dan menutup pintunya. Aku kembali duduk di kursi dan meminum es soda yang aku buat tadi.


"Kak Yoga!" panggil ku lagi.


Ceklek


Pintu kamar kayu ke terbuka dan menampilkan dirinya yang sudah memakai pakaian santai dengan celana pendek dan juga kaos berkerah seperti biasanya dia terlihat sangat keren.


"Maaf sudah membuat mu menunggu" ucapnya sambil berjalan ke arah ku dan mencium pucuk kepala dan membelai rambut ku dengan lembut.


Dia lalu duduk dan mulai minum es soda yang aku buat.


"Sebenarnya apa yang kak Yoga lakukan di kamar mandi sih? itu lama sekali loh!" tanya ku lagi.


"Uhukk uhukk!" kak Yoga bahkan tersedak saat aku selesai mengatakan kalimat ku.


"Bisakah kalau tidak membahas hal itu Rasti, maaf tapi aku pria normal dan saat kami menyentuhnya tadi...!"


"Iya iya aku tahu, sudah tidak usah di bahas lagi!" ucap ku menyela perkataan dari Kak Yoga karena aku mengerti maksudnya.


Aku yakin kalau saat ini wajahku sedang merona karena perkataan Kak Yoga barusan. Lagipula kenapa aku tidak sampai kepikiran ke arah situ ya tadi. Lemotnya otak mungilku ini memang kebangetan.

__ADS_1


Kami pun mulai menyantap makanan yang ada di atas meja makan. Aku bahkan menghabiskan 2 porsi burger double chesse. Rasanya sangat enak. Apalagi di temani es soda, sungguh perpaduan makanan dan minuman yang sempurna.


Kak Yoga hanya tersenyum saat melihat aku makan begitu banyak.


"Mungkin nanti kalau kamu sudah punya anak kamu akan bisa gemuk ya?" tanya kak Yoga.


"Uhukk uhukk!" kali ini aku yang tersedak saliva ku sendiri.


"Anak?" tanya ku terkejut.


Kak Yoga mengangguk kan kepala nya dengan cepat sambil tersenyum.


Apa-apaan itu, apa maksudnya dia menyinggung masalah anak denganku. Hei, aku ini masih kelas sebelas SMA. Masalah anak masih jauh di Belanda sana. Yang benar saja.


Mungkin menjalin hubungan dengan pria yang dewasa memang sepertinya akan seperti ini terus ya, kalau tidak masalah pernikahan yang dibicarakan maka muncullah masalah seperti ini. Tapi aku tidak habis pikir aku ini kan masih anak-anak bagaimana mungkin membicarakan tentang anak.


"Kak Yoga, itu masih kejauhan!" protes ku dengan raut wajah yang aku yakin sangat jelek kali ini.


"Apanya yang masih kejauhan?" balas Kak Yoga bertanya kepadaku.


Aku sama sekali tidak berbohong aku memang sedang merinding saat ini karena membayangkannya saja aku sudah ngeri.


Setelah selesai dengan makan siang dan juga membereskan meja makan, aku dengan Kak Yoga duduk bersama di atas karpet di ruang tamu. Kak Yoga berikan aku contoh soal Ujian terakhir, karena besok memang adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas.


"Jadi bagaimana? apa kamu berasa kalau beberapa ujian yang kamu kerjakan ada peningkatan?" tanya Kak Yoga yang aku tahu dia memastikan apakah pengajarannya kepadaku berhasil atau tidak.


Aku langsung menganggukkan kepalaku dengan cepat.


"Iya, banyak sekali peningkatan aku rasa. Dulu kalau biasanya soal pilihan ganda itu aku cuman jawab A dari soal 1 sampai soal 30. Sekarang aku hanya menjawab A mungkin sekitar 5 atau 6 soal. Paling banyak 10 soal saja!" jawabku menjelaskan panjang lebar kepada ka Yoga.


Dan reaksi yang ditunjukkan oleh kak Yoga sungguh membuatku mengerucutkan bibirku cemberut.


Dia terkekeh, atau mungkin malah bisa dibilang dia sedang tertawa terbahak-bahak.


"Ih, kok ketawa?" tanya ku kesal.


"Habisnya kamu, soal pilihan ganda 30 soal dan kamu jawab asal 10 soal. Itu sama saja nilai kamu hanya meningkat 30%, kamu mengerti tidak kalau sebelumnya nilai kamu 3 maka sekarang nila kamu hanya 6!" jelas kak Yoga dengan panjang kali lebar kali tinggi kali luas. Benar-benar seperti saat ia menjelaskan di depan kelas tentang materi PPKN nya.

__ADS_1


"Tapi itu sudah lumayan bagus sih, aku harap kamu bisa mendapatkan nilai yang cukup untuk bisa naik kelas!" ucapnya lagi seperti sedang berdoa.


Aku juga menganggukkan kepalaku dengan cepat berkali-kali.


"Lalu kamu lulus sekolah dan kita menikah!" ucapnya lagi.


Aku kembali menggembungkan kedua pipinya karena kesal dengan perkataan yang diutarakan oleh kak Yoga. Kenapa dia selalu membahas dua hal itu, kalau sudah lulus maka menikah. Aku ini masih berusia 17 tahun, dan aku baru saja mendapat KTP kok beberapa hari yang lalu. Sayang sekali kalau KTP itu hanya digunakan untuk di fotocopy dan mengisi syarat-syarat untuk melaksanakan pernikahan di kantor urusan Agama bukan.


Alangkah baiknya kalau KTP itu digunakan untuk membuat SIM terlebih dahulu, atau untuk mendaftar saat masuk ke perguruan negeri, atau bisa juga digunakan untuk mendaftar saat aku sudah lulus kuliah dan mencari pekerjaan, nanti bisa digunakan lagi untuk membuat NPWP. Itu sudah ada dalam angan anganku.


"Kak Yoga, jangan bicarakan tentang pernikahan dan anak lagi. Aku sama sekali tidak nyaman mendengarnya!" protes ku lagi pada kak Yoga. Tapi aku mengadakan hal itu dengan jujur.


"Baiklah, sekarang kita akan bahas apa?" tanya kak Yoga.


"Apa kak Yoga tahu, kalau kelasku terpilih menjadi penampilan drama musikal pada acara perpisahan kelas 12 nanti?" tanyaku pada Kak Yoga.


Dan kak Yoga menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Drama musikal apa?" tanya kak Yoga.


"Romeo dan Juliet!" jawabku sambil tersenyum. Aku sudah tidak sabar ingin latihan dan menampilkan pertunjukan itu.


"Siapa Romeo nya?" tanya Kak Yoga sambil mengangkat satu alisnya. Aku tahu betul bahwa ekspresi itu adalah ekspresi ketidaksukaannya.


"Marco!" jawabku singkat padat dan jelas.


"Jangan bilang padaku yang akan menjadi julietnya adalah kamu?" tanyanya dengan raut wajah yang sudah memancarkan kecemburuan.


"Bukan! tapi Yusita!" jawab ku lagi dan aku melihat Kak Yoga menghela nafas lega.


"Aku jadi ibu tirinya Juliet, jadi istrinya David!" jelas ku.


"Apa?" pekik kak Yoga membuatku mengerjapkan mataku berkali-kali karena terkejut.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2