
Keesokan paginya, aku sudah tidak menyetel alarm di jam 5 pagi. Aku rasa karena dua hari menyetel alarm di jam segitu, aku jadi kurang tidur. Akibatnya aku malah ketiduran saat les tambahan dengan pak Yoga di rumah kemarin.
Aku jadi merasa sangat tidak enak, untung saja saat itu air liur ku bersahabat dan tidak mau menunjukkan dirinya karena ada pak Yoga. Jika dia keluar dan menunjukkan dirinya, aku pasti sangat malu dan tak sanggup lagi menunjukkan wajah ku pada guru tampan itu.
Aku melihat ke arah jam yang terpasang di dinding kamar ku. Jam menunjukkan pukul 06.15 menit. Dan aku baru beranjak dari atas tempat tidur setelah meregangkan otot-otot tangan dan bagian tubuh ku yang lain.
"Ah, mandi dulu!" gumam ku sambil menarik handuk dari tempatnya.
Tok tok tok
Langkah ku menuju kamar mandi terhenti ketika seseorang mengetuk pintu kamar ku dengan gaduh. Aku berbalik dan berjalan mendekati pintu kamar, lalu membuka kuncinya dan...
Ceklek
Dan sesosok pria yang sudah berpakaian rapi berada di depan ku. Pandangan tajam, bahkan aku yakin jika pandangan senjata nya Naruto, aku pasti sudah terkoyak oleh nya.
"Apa sih, pagi-pagi gedor pintu kamar orang, pake acara melotot segala?" tanya ku sebagai bentuk protes atas apa yang baru saja Tirta lakukan.
"Baru mau mandi? Rasti ini jam berapa coba?" tanya nya lagi padaku. Dia bicara dengan nada panik sepertinya.
Aku hanya menanggapinya dengan santai.
"Santai aja napa? masih jam 6 lewat lima belas menit ini!" sahut ku apa adanya.
Tirta hanya mendecakkan lidahnya lalu dia mengeluarkan ponselnya dari saku cardigan yang dia pakai.
"Nih, jam tujuh lewat lima. Jam lu mati tuh pasti!" ucap nya dengan nada kesal.
"Hah, telat gue!!!" aku memekik lalu menutup pintu kamar ku dengan cepat. Aku berlari ke kamar mandi.
Apapun yang terjadi Rasti Azzura tidak boleh berangkat sekolah tanpa mandi. Aku bergerak dengan cepat melakukan pekerjaan dengan cepat. Aku bahkan menyikat gigi dan menyampo rambut ku di saat yang bersamaan.
Aku keluar dengan cepat, menyalakan hairdryer dan menyisir rambut. Dan apapun yang terjadi rambut ku tidak boleh terlihat kusut apalagi lepek.
__ADS_1
"Rasti buruan, jam tujuh lewat dua puluh nih!" teriak Tirta dari luar pintu kamar ku.
Dan jujur saja, teriakan Tirta itu malah makin membuat aku panik. Aku sudah panik tapi kalau di uber-uber waktu begini malah jadi tambah panik.
"Bentar!!" teriak ku dari dalam.
Aku segera meraih ransel ku setelah selesai memakai sepatu. Untung saja semalam aku sempat menata jadwal dan buku yang harus aku bawa hari ini setelah makan malam dengan gerandong nyebelin itu bersama.
Hanya makan malam saja, tidak lebih ya. Aku masih malas bicara dengan manusia sejenis gerandong-gerandongan itu.
Ceklek
Aku segera membuka pintu kamar ku, lalu menguncinya lagi dari luar.
"Emang ada apa sih di kamar lu? ada harta Karun nya?" tanya Tirta saat melihat ku mengunci pintu.
"Kamar gue keramat! lu gak lihat tuh tulisannya. Yang tidak bernama Rasti Azzura dilarang masuk!" jawab ku dan berjalan melewati nya.
Aku menuruni anak tangga dengan cepat, begitu pula dengan Tirta. Aku lihat dia juga bawa ransel, apa dia juga kuliah. Ih, sejak kapan aku perduli hal itu..
Aku meraih kotak bekal itu dan langsung keluar.
"Bibi, Rasti berangkat ya!" teriakku pada Bibi yang sepertinya berada di belakang.
"Ya non!" jawab bibi dengan berteriak juga.
Aku segera menutup pintu rumah, dan menghampiri Tirta yang sudah ada di atas motornya. Dia memberikan helm padaku dan aku memakai nya, lalu langsung naik ke jok belakang motor nya.
"Gue ngebut ya, gue ada kuliah pagi!" serunya dan belum sempat aku menjawab. Dia sudah memacu motornya hingga membuat aku tersentak, untung saja aku tidak terjungkal ke belakang karena aku langsung berpegangan pada nya.
Dan benar saja, selama perjalanan ke sekolah ku dia mengebut sangat kencang. Wah aku sampai menutup mataku dan tidak berani membuka nya.
"Pegangan yang kuat, gue kakak lu! gak usah takut!" serunya.
__ADS_1
Deg
Entah kenapa saat mendengar perkataan dari Tirta itu aku merasa seperti sangat aman. Aku membuka mataku dan memegang pundaknya dengan kuat. Dan aneh nya setelah itu, aku benar-benar tidak takut lagi, meskipun dia mengebut.
Tirta POV
Aku melajukan motor besar ku dengan kecepatan tinggi, masalahnya adik tengil ku ini bangun kesiangan hari ini. Sedangkan setengah jam lagi aku harus kuliah. Dan aku harus memastikan dia juga tidak terlambat untuk sekolah.
Aku melihat dari kaca spion, Rasti memejamkan mata nya. Aku rasa dia sedang ketakutan.
"Pegangan yang kuat, gue kakak lu! gak usah takut!" ucap ku dengan suara keras agar Rasti bisa mendengarnya di tengah suara gaduh kendaraan lain.
Dan beberapa saat setelah aku mengatakan itu, aku merasakan bahuku di pegang sangat kuat. Aku tersenyum dan melihat ke arah spion, Rasti sudah membuka matanya.
Sebenarnya aku sangat menyayangi gadis ini, sejak pertama kali ibu membawa ku ke rumah ayah Rudi, saat itu Rasti kecil terlihat begitu lucu dan menggemaskan. Aku memang sudah menyayanginya sejak saat itu. Aku bahkan sudah menganggapnya adik kandung ku sendiri.
Aku senang, sejak semalam kami mulai mengurangi perdebatan yang biasanya selalu terjadi sepanjang waktu. Mungkin dia memang sebenarnya tidak terlalu tengil kalau aku bersikap lembut padanya.
Dia bahkan tidak tahu kalau yang membuatkan nya kotak bekal bukanlah bibi, tapi aku. Ketika selesai sarapan, Rasti belum juga turun dari kamarnya. Karena itu aku yakin dia pasti akan terlambat sarapan, aku meminta bibi mengambil kotak bekal di dapur dan membuatkan roti isi untuknya. Aku sengaja meletakkan nya di atas meja makan di dekat gelas susunya agar dia mengira itu buatan bibi. Karena jika dia tahu itu buatan ku, kemungkinan besar dia akan gengsi untuk membawanya.
Beberapa menit kemudian aku menghentikan laju motor ku tepat di depan pintu gerbang, Rasti segera turun tanpa di komando dan segera menyodorkan helm nya padaku.
"Nih!" serunya.
"Gak bilang makasih?" tanya ku sambil mengusap kepalanya lembut.
"Ih, apaan sih. Jangan rusak rambut gue. Buruan sana katanya mau kuliah!" serunya sambil merapikan rambutnya.
"Nanti pulang sendiri ya, gue mau ekskul!" seru ku pada Rasti dan dia malah berlalu sambil menjulurkan lidahnya meledek ku.
Aku tersenyum di balik helm full face ku. Rasanya menyenangkan bisa akrab begini pada adik ku.
Tirta POV end
__ADS_1
***
Bersambung...