
Aku terkejut mendengar pertanyaan pak Yoga, tadinya aku yang begitu malu ketika akan menoleh kearah nya mau tak mau akhirnya menoleh juga dengan kernyitan di dahi ku.
"Saya dengan Marco pacaran?" tanya ku balik pada pak Yoga.
Aku menelengkan kepala ku.
"Kenapa bapak bisa mikir gitu?" tanya ku lagi meskipun pak Yoga belum menjawab pertanyaan ku yang sebelumnya.
"Kalian terlihat sangat akrab, bahkan kamu tak ragu menyentuhnya!" jawab pak Yoga yang terus terang saja masih terasa ambigu.
"Menyentuh bagaimana?" tanya ku lagi.
Aku langsung mengingat kejadian tadi di sekolah.
"Oh, maksud bapak pas saya geplak lengan Marco, begini ya?"
Plak!
Aku mempraktekkan apa yang tadi aku lakukan pada Marco di sekolah, aku memukul lengan pak Yoga. Ketika pria tampan itu menoleh ke arah ku, aku langsung menutup mulut ku lalu melipat kedua telapak tanganku di depan wajah ku.
"Aduh pak, maaf pak. Saya tidak sengaja!" ucap ku panik meminta maaf atas apa yang aku lakukan tadi.
Aku benar-benar merutuki kebodohan ku ini. Masa' iya, aku mempraktekkan nya pada guru ku.
"Iya, memang seperti itu. Panas juga ternyata tangan kamu!" ucap nya datar dan biasa-biasa saja.
Aku menurunkan tangan ku dan menghadapkan tubuh ku ke arah pak Yoga.
"Bapak tidak marah?" tanya ku dan dia hanya menjawab pertanyaan ku dengan menggeleng.
Aku mengelus dada ku dan menghela nafas lega.
"Huh, sukur deh. Kalau kayak gitu sih udah biasa pak. Saya sama Panji bahkan lebih parah kalau bercandaan, bisa jambak-jambakkan bisa lempar sepatu..."
__ADS_1
"Panji?" tanya pak Yoga dan membuat ku menghentikan kalimat panjang lebar ku.
Aku mengangguk kan kepala ku dengan cepat.
"Iya, Panji anak IPS. Tapi dia kelas dua belas beda satu tahun dengan saya, dia juga tetangga saya!" jelas ku pada pak Yoga.
"Teman lelaki kamu banyak juga ya? apa pacar kamu tidak cemburu?" tanya pak Yoga.
Dan pertanyaan pak Yoga itu membuat ku menyemburkan tawa.
"Ha ha ha ha!" tawa ku pecah.
"Aduh maaf pak, ih bapak mah nanyanya ada-ada saja. Lihat saya, mana ada yang menarik dari cewek kurus, petakilan macam saya, apalagi mereka tahu saya ini pelupa dan agak dudul, ha ha ha. Bapak ada-ada aja!" ucap ku terus terang.
"Kamu tidak seperti itu!" ucap pak Yoga.
Aku sampai langsung menghentikan kekehan ku mendengar apa yang pak Yoga katakan.
'Haduh, baper lagi nih gue!' batin ku kemudian.
"Rasti kamu masuk saja, seharusnya kamu tadi tidak perlu turun. Cepat masuk ke teras!" serunya.
Pak Yoga membuka pintu gerbang dan memarkirkan mobilnya di garasi miliknya. Dia terlihat basah kuyup, dan ketika aku melihat ke arah tubuhku sendiri. Aku juga sama seperti dia, basah kuyup. Bahkan tank top berwarna kuning yang ku gunakan untuk melapisi baju seragam ku sekarang bisa tembus terlihat karena seragam ku basah. Aku jadi semakin salah tingkah saja, ketika pak Yoga malah terus menatap ku dan tak kunjung membukakan pintu.
Yoga Adrian POV
Aku keluar dari dalam mobil ketika telah memarkirkan nya di garasi. Baju ku basah semua, dan aku melihat Rasti yang sedang berdiri di pintu dan membelakangi ku juga basah kuyup.
Aku tidak mengerti dengan gadis itu, jika gadis lain maka dia akan tetap diam di dalam mobil karena pasti tidak senang jika terkena guyuran hujan hanya untuk membuka gerbang. Tapi gadis ini berbeda. Dia bahkan mengambil inisiatif itu, dan berniat mendorong pagar rumah ku.
Dia berbalik, membuat ku terkesiap karena pakaian seragamnya basah kuyup membuat sesuatu terlihat dari balik seragam nya itu. Aku tak tahu, sungguh tak tahu apa yang menarik dari gadis di depan ku ini. Tapi mata ku sungguh tak bisa menolak keindahan yang ada di depan ku ini.
"Pak Yoga! pak!" panggil nya dan seketika aku langsung tersadar dari lamunan ku.
__ADS_1
Aku langsung membuka kunci pintu, lalu membuka pintu lebar-lebar. Hanya ada kami berdua, dan aku tidak ingin membuat orang lain salah paham jika menutup pintu. Meskipun di daerah ini tetangga satu dengan tetangga yang lain tidak pernah ikut campur atau perduli dengan urusan masing-masing. Karena itulah aku cukup nyaman tinggal di komplek ini.
Aku langsung beralih ke kamar mandi tamu, dan mengambilkan handuk untuk Rasti.
"Ini, kamu pakai kamar mandi tamu. Saya pakai yang di kamar. Saya akan ambilkan baju saya, agar kamu tidak masuk angin!" ucap ku dan segera masuk ke kamar ku.
Aku segera menuju ke lemari, badan Rasti itu kurus sekali, kurasa tidak akan ada celana pendek yang muat untuknya.
Aku mengusal rambut ku bingung, tapi aku mendapatkan celana olahraga ku.
"Ini ngaret, mungkin bisa dia pakai!" gumam ku.
Aku mengambil celana olahraga pendek dan juga kaos berkerah untuk Rasti, karena kebanyakan kaos ku memang berkerah. Aku lalu pergi keluar, dan mengetuk kamar mandi tamu.
Tok tok tok...
"Rasti, saya bawa pakaian ganti untuk kamu!" seru ku di depan pintu kamar mandi tamu.
Ceklek...
Pintu terbuka, tapi hanya sedikit. Rasti hanya menjulurkan satu tangannya yang basah dan membuat pikiran ku traveling dalam sekejap. Aku langsung menggelengkan kepalaku berkali-kali dengan cepat. Mengusir semua pikiran aneh di kepala ku. Aku menyerahkan pakaian pada Rasti, dan segera pergi ke kamar ku untuk berganti baju juga.
Di dalam kamar mandi kamar ku, aku mengguyur kepala ku dengan shower, kepala ku akan pusing jika setelah terkena air hujan tidak mengguyur nya begini. Tapi di tengah aktivitas ku, aku kembali teringat dengan apa yang kulihat di depan pintu rumah tadi dan tangan Rasti yang basah terulur dari kamar mandi. Tanpa sadar aku merasakan jantung ku berdetak sangat kencang.
"Mungkinkah aku menyukainya?" gumam ku.
Yoga Adrian POV end
Aku sudah membilas rambut ku dan berganti pakaian. Baju pak Yoga sungguh besar, tapi celana nya cukup karena ketat tapi ngaret. Aku cengar-cengir sendiri melihat penampilan ku di depan cermin di dalam kamar mandi tamu milik pak Yoga. Setelah menyisir rambut, aku keluar dari dalam kamar mandi dan berpapasan dengan pak Yoga yang baru keluar dari dalam kamar nya.
Lagi-lagi tatapan itu lagi, tatapan yang tak ku mengerti tapi membuat hatiku jadi tidak tenang.
***
__ADS_1
Bersambung...