
"Kenapa pak Yoga lagi?" tanya Marco dengan nada suara kesal dan juga ekspresi wajah tidak senang.
Aku mengangkat alisku tinggi dan menjauhkan diriku sedikit lagi darinya.
"Ih, ngapa lu? ya iyalah sama pak Yoga. Kan yang nganter Panji ke rumah sakit juga pak Yoga!" jawab ku.
Marco malah tidak langsung beraksi cepat seperti yang sudah-sudah. Dia terdiam sejenak dan terlihat seperti akan mengatakan sesuatu tapi masih ragu mau bilang atau tidak.
"Bisa gak sih Ras, kalau lu tuh ngejauh sedikit dari pak Yoga?" tanya nya dengan suara yang pelan. Tapi karena suaranya dengan nada rendah itu aku malah jadi merinding saat mendengar nya.
'Lah, gimana coba gue ngejauhin pacar gue sendiri!" gumam ku dalam hati.
"Ih lu ngomong apaan sih, kenapa juga gue harus ngejauhin pak Yoga, emang pak Yoga kuman? bakteri? atau virus?" tanya ku pada Marco.
"Nah tumben lu pinter, mana pelajaran anak IPA semua tuh yang lu sebut!" sahutnya cepat.
"Elah, omongan begini mah gue banyak denger di iklan televisi dudul!" sahut ku lagi.
"Yah, gue kira otak lu dah mendingan. Tapi ya Ras, lu boleh percaya boleh enggak. Tapi kalau menurut gue lu harus percaya deh sama gue Gue tuh ngerasa kalau tatapan mata pak Yoga ke elu tuh beda tahu!" jelasnya panjang lebar.
Aku mulai gugup, karena apa yang dikatakan Marco ini benar. Aku mulai curiga apakah Marco tahu hubungan ku dengan pak Yoga. Tapi bagaimana cara mencari tahu tentang hal itu.
"Ngomong apaan sih lu, ya iyalah cara dia lihat gue beda sama lihat lu. Lu duduk di depan, gue di belakang. Dia harus lebih lebarin matanya kalau mau lihat gue!" ucap ku beralasan.
"Ngeyel amat sih, ya udahlah. Gue temenin lu ke rumah Panji sama pak Yoga deh!" ucap nya menarik pergelangan tangan ku dan melangkah maju.
Tapi aku menghentakkan tangan ku dengan kuat agar genggaman tangan Marco terlepas.
"Ih apaan sih, ngomong tuh ngomong aja gak usah pakai pegang-pegang, bukan muhrim tahu!" ceplos ku membuat Marco menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Iya sorry, abisnya lu tuh kayak ada magnetnya, mau nya nempel aja gue!" ucapnya sambil cengengesan.
Aku mengernyitkan dahi ku lagi.
"Dudul lu!" seru meninggalkan nya.
Tapi ketika aku berjalan menuju mobil pak Yoga yang terparkir di depan pintu gerbang sekolah, Marco benar-benar mengikuti ku.
Dan ketika aku membuka pintu bagian depan, baru akan menyentuh handel pintu mobil. Dia malah terlebih dahulu membuka pintu itu dan menyerobot begitu saja masuk ke dalam mobil pak Yoga.
"Marco!" seru pak Yoga terlihat bingung kenapa Marco masuk ke dalam mobilnya.
Aku juga menunjukkan ekspresi yang sama seperti pak Yoga. Aku juga bingung.
"Saya ikut ke rumah Panji ya pak, abis itu saya nebeng bapak ke gereja di sebelah rumah sakit di mana Panji di rawat. Boleh kan pak?" tanya Marco dengan wajah polos pada pak Yoga.
Pak Yoga melihat ke arah ku sekilas lalu melihat ke arah Marco lagi.
"Baiklah!" jawab pak Yoga singkat.
Dia lalu kembali menoleh ke arah ku.
"Rasti, ayo masuk ke dalam, kamu duduk di belakang ya!" seru pak Yoga.
Dan aku langsung membuka pintu mobil pak yoga bagian penumpang di belakang. Saat aku duduk di dalam, pak Yoga melirik ku dari spion depan. Aku hanya bisa mengangkat bahu ku sekilas sebagai pertanda aku juga tidak tahu apa yang sedang ingin dilakukan Marco.
Pak Yoga segera melajukan mobilnya dan kami pun meninggalkan area sekolah.
"Pak, bapak udah punya calon istri kan?" tanya Marco membuka obrolan karena sekitar lima belas menit perjalanan setelah meninggal kan sekolah kami lebih banyak diam dan hanya melirik satu sama lain.
"Iya, memang nya kenapa?" jawab pak Yoga dan segera bertanya pada Marco kenapa dia mengajukan pertanyaan semacam itu.
"Gak, saya penasaran aja sih. Kayak gimana sih calon istri bapak itu?" tanya nya lagi.
"Kepo lu!" sahut ku dari arah belakang.
__ADS_1
Aku tahu pak Yoga tidak suka dengan pertanyaan yang diajukan Marco, karena itu aku berusaha mengalihkan perhatian Marco.
"Diem bentar ngapa Ras, ini kan obrolan pria dengan pria. Bocil jangan ikutan!" ucapnya membalas ucapan ku.
Saat Marco menyebut ku bocil rasanya ingin ku jitak saja kepalanya itu.
"Siapa yang bocil? resek lu!" ucap ku kesal sambil menendang bagian belakang jok yang di duduki Marco.
Duk
"Eh, Rasti. Ini mobil pak Yoga! main tendang-tendang aja! mobil mahal nih!" ucap nya seolah akulah pembuat masalah yang sebenarnya, padahal kan dia biang kerok nya.
"Sudah... sudah! jangan bertengkar. Kita sudah sampai di depan gang, yang mana rumah Panji, Rasti?" tanya pak Yoga.
"Loh, kok bapak tahu gang rumah Rasti?" tanya Marco dengan tatapan curiga padaku. Dia melihat ke arah ku dan melihat ke arah pak Yoga secara bergantian. Seperti sedang menginterogasi tertuduh atau semacamnya.
Aku terkesiap kaget.
'Nah iya bener, aduh jawab apa gue?' tanya ku panik dalam hati.
Aku hanya diam, sambil menelan saliva ku dengan susah payah.
Tapi disaat aku sedang panik dan tidak tahu mau menjawab apa, pak Yoga malah tersenyum pada Marco.
"Ya iyalah saya tahu, kemarin saat Rasti mengantarkan saya ke klinik. Kan saya yang antar dia pulang!" jawab pak Yoga dengan santai.
'Ah iya bener, kenapa gue lupa sama kejadian itu ya. Haduh, emang gini nih nasibnya otak kita, loading nya lama pula!' keluh ku dalam hati.
Aku bahkan melupakan hal itu, padahal kan kejadian itu baru terjadi kemarin. Gimana kejadian bertahun-tahun lalu coba. Bisa gak inget sama sekali gue.
Aku melihat ke arah Marco yang manggut-manggut seperti burung pelatuk.
"Oh iya, saya lupa. Ya udah, yang mana rumah Panji Ras?" tanya Marco kemudian.
"Oh jadi dia anak Pak RT?" tanya Marco lagi.
Pak Yoga mengemudikan mobilnya lagi sampai kami berhenti di depan rumah Panji. Kami keluar dari dalam mobil dan mulai masuk ke pekarangan rumah Panji.
Tok tok tok
"Assalamualaikum!" suara pak Yoga mengetuk dan memberi salam.
Pak Yoga tetap mengetik pintu meskipun pintu rumah Panji sebenarnya sudah terbuka. Tak lama kemudian aku melihat Bi Icih, asisten rumah tangga di rumah Panji keluar.
"Wa'alaikumsalam!" sapa nya dan langsung melihat ke arah ku. Mungkin karena aku lah yang dia kenal dari tiga orang yang berdiri di depannya ini.
"Neng Rasti, aya naon iye teh?" tanya bi Icih yang artinya ada apa ini.
"Bu RT ada bi?" tanya ku pada Bu Icih.
"Punten neng, bapak dan ibu teh sudah pergi dari pagi-pagi tadi! kata bapak sama ibu kalau ada perlu bisa di tulis di memo, sebelah sana!" ucap Bu Icih sambil menunjukkan sebuah meja kecil yang terdapat sebuah buku besar dan juga pulpen meja atau stand pen yang ada di sebelah buku besar itu.
"Begini bi!" pak Yoga maju selangkah dan mencoba bicara pada Bu Icih.
"Panji sekarang ada di rumah sakit karena cidera...!"
"Aduh Gusti, Naha kumaha den Panji bisa masuk rumah sakit? cidera naon? kumaha kondisi den Panji?" tanya bi Icih bertubi-tubi dan dengan panik.
Aku lalu merangkul dan menenangkan bi Icih, aku mengusap lengannya beberapa kali.
"Neng, den Panji neng...!" bahkan bi Icih sudah menangis saat ini.
Aku cukup terharu melihat reaksi yang di tunjukkan bi Icih pada apa yang terjadi pada Panji. Aku tahu Panji sangat menghormati dan juga menyayangi bi Icih, saat ayah dan ibunya sibuk. Memang bi Icih lah yang selalu menemani Panji. Aku tahu bi Icih juga sangat menyayangi Panji, hingga saat mendengar Panji masuk rumah sakit dia sangat terkejut dan sedih.
"Panji cuma cidera ringan kok bi, kepalanya kehantam bola saat main bola basket. Tapi dia masih belum sadar, dan mau di periksa lebih lanjut. Bi Icih tolong telepon Bu RT ya, kasih tahu kalau Panji di rawat di rumah sakit Permata Kasih!" jelas ku panjang lebar dengan suara yang pelan agar bi Icih tidak bertambah panik.
__ADS_1
"Nuhun neng, bibi telepon bapak sama ibu sekarang!" ucapnya sambil menyeka air mata nya dengan lengan baju panjangnya.
"Eh iya bi, ini tas Panji. Saya sambil pamit ya bi, mau ke rumah sakit!" ucap ku dan bi Icih segera meraih tas yang ada di tanganku dan langsung memeluknya.
"Permisi bi!" ucap Pak Yoga sopan.
Dan Marco pun ikut mengucapkan kalimat yang sama. Kami bertiga kembali ke dalam mobil dan pak Yoga pun kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Kasihan banget si bibi, dia sedih banget tuh! kayaknya dia sayang banget ya sama si Panji!" seru Marco yang kembali memecah keheningan perjalanan kami.
"Bibi gue juga kayak gitu, dia sayang banget sama gue!" sahut ku.
Karena apa yang aku katakan memang benar, bibi itu sangat menyayangi ku. Dia bahkan sangat memperhatikan jam makan dan istirahat ku.
"Gak nanya gue!" celetuk Marco.
Aku memicingkan mataku melihat ke arah Marco yang sedang menoleh ke belakang.
"Intinya adalah, kalau kita tulus menyayangi orang lain, orang itu pasti akan tulus menyayangi kita!" ucap pak Yoga tiba-tiba sambil melihat ke arah ku dari spion depan.
Aku tersipu, aku langsung memalingkan wajah ku karena merasa apa yang dia katakan itu di tujukan padaku.
"Gak juga pak!" bantah Marco yang membuat pandangan pak Yoga jadi beralih dariku.
"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya pak Yoga sedikit penasaran.
"Iya, buktinya saya sayang sama Rasti, eh dianya enggak!" ucap Marco membuat pak Yoga menekan pedal rem nya secara mendadak.
Cittt
"Aduh!" pekik Marco yang sepertinya terkejut dan kepalanya terbentur jendela mobil.
"Maaf maaf, kamu tidak apa-apa Marco? Rasti?" tanya pan Yoga panik dan langsung menoleh kebelakang.
Aku menggeleng dengan cepat, dan langsung memukul kepala Marco dari belakang.
"Aduh!" pekik Marco lagi.
"Rasti, ngapain di tambahin lagi sih? nih yang depan udah benjol, masa' yang belakang mau dikasih benjol juga. Ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga pula!" keluhnya kesal dan terus mengomel.
"Saya terkejut, kamu bilang apa tadi?" tanya pak Yoga pada Marco yang masih sibuk mengusap-usap kepala nya dengan tangannya sendiri.
"Iya pak, saya tuh suka sama Rasti tapi Rasti gak peka peka!" keluhnya lagi.
Pak Yoga langsung menoleh ke belakang lagi, dia terlihat bingung, atau apalah aku tidak mengerti dengan ekspresi yang sedang dia tunjukkan padaku.
"Jangan ngomong sembarangan, kita tuh masih bocil. Gak pantes ngomong begituan!" ucapku mencoba meyakinkan pak Yoga bahwa ini bukan sebuah masalah besar bagi hubungan kami.
Aku yakin Marco hanya iseng saja, dia hanya sekedar suka yang besok juga setelah melihat gadis yang lebih baik maka dengan mudah akan berpaling. Cinta monyet atau semacamnya, bukan cinta yang seperti pak Yoga.
"Rasti, gue tuh beneran...!"
"Diem gak lu, gak usah hoax lagi ya. Gue aduin lu sama Tirta, biar jadi rempeyek lu!" ucap ku menggertak Marco.
"Ye, mainnya aduan!" keluhnya.
Aku langsung memiringkan kepala ku pada pak Yoga, aku mau katakan 'lihat, dia bilang suka padaku, tapi begitu aku menyebut akan mengadukannya pada Tirta dia merasa takut dan mundur, itu bukan cinta'
Aku melihat pak Yoga tersenyum, sepertinya dia mengerti bahasa isyarat ku. Aku rasa kami memang semakin dekat dan mengerti satu sama lain.
Pak Yoga kembali menyalakan mesin mobilnya dan kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju ke rumah sakit.
***
Bersambung...
__ADS_1