
Aku sudah berada di kelas ku, ini terlalu pagi. Dan yang ada di dalam sini hanya beberapa teman ku yang sedang melaksanakan tugas piket kelas. Aku meletakkan ransel ku di atas meja, dan memutuskan untuk keluar dari ruang kelas. Aku melangkah ke belakang sekolah, disana ada taman kecil dan ada bangkunya juga. Juga ada rumah pak Anteng, penjaga sekolah.
Biasanya setiap pagi begini, istri pak Anteng itu selalu membersihkan taman belakang itu. Dan aku memang sering membantunya. Pak Anteng dan istrinya hanya tinggal berdua menjaga sekolah dan tinggal di belakang sekolah. Anaknya sudah berkeluarga dan tinggal jauh darinya. Istri pak Anteng yang menceritakan semua itu padaku. Mereka hanya pulang ke rumah pak Anteng saat lebaran atau ada acara keluarga.
Tapi setelah aku sampai di taman belakang, aku malah tidak menemukan istri pak Anteng disana. Aku sedikit penasaran, sebenarnya istrinya pak Anteng itu kemana? Tapi sebelum aku melangkah lebih jauh, tangan ku di tarik dari belakang oleh seseorang membuatku menubruk orang itu dengan cukup keras.
Brukk
"Augh!" pekik ku terkejut.
Dan mataku terbelalak ketika melihat siapa pelakunya.
"Pak Yoga!" lirih ku menatap mata pak Yoga yang juga sedang menatap ku.
Deg deg deg
Dan entah kenapa perasaan ini masih sama, jantung ku pun masih berdetak sangat kencang untuknya. Tapi aku sadar, perasaan ini salah. Aku tidak boleh menyukainya dan menunjukkan kalau aku menyukai nya. Dia akan menikah, dan itu hanya akan membuatku semakin terluka nantinya.
"Lepas pak!" seru ku menatapnya dengan tatapan kesal.
"Rasti, kita harus bicara. Saya tahu saya salah, dan saya minta maaf karena saya tidak bisa mengendalikan perasaan saya terhadap kamu. Tapi saya juga ingin mengatakan kalau sebenarnya saya...!"
"Stop! stop pak! saya tidak mau dengar apa-apa lagi dari bapak. Saya cuma minta bapak jauhi saya, atau saya tidak akan mau lagi bicara dengan bapak!" ketus ku.
Dan ketika aku mengakhiri kalimat ku itu, pak Yoga perlahan melepaskan genggaman nya dari pergelangan tangan ku.
"Kamu benar-benar ingin saya menjauh dari kamu?" tanya nya dan aku melihat matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Dan entah kenapa, saat melihat dia bersedih seperti itu. Hatiku yang malah terasa sakit. Rasanya aku juga ingin menangis saat melihatnya sedih seperti itu. Aku sudah bisa memastikan kalau aku benar-benar menyukai nya. Dan jika ini ku teruskan maka yang akan sakit hati dan di abaikan adalah aku.
"Bapak ini pintar kan? seharusnya bapak mengerti dong kata-kata saya. Kemarin saya bilang saya benci sekali sama bapak dan bapak harus menjauh sejauh-jauhnya dari saya. Dan sekarang pun sama, saya ingin bapak menjauh dari saya!" seru ku langsung berlari meninggalkan pak Yoga.
Tapi aku tidak kembali ke kelas, aku pergi ke toilet. Karena tangis ku sudah pecah.
"Kenapa sih, cinta pertama gue harus kayak gini? kenapa sih pak Yoga baru dateng di hidup gue sekarang?" gumam ku mengeluh. Aku sungguh frustasi. Bagaimana selanjutnya aku akan berhadapan dengan nya.
Cukup lama aku berada di toilet, karena bel masuk sudah berbunyi maka aku segera mencuci wajah ku dan menyekanya dengan tissue yang ada di sebelah wastafel.
Aku melihat ke arah cermin yang ukurannya lumayan besar yang ada di toilet, meski tak sebesar cermin yang ada di toilet hotel dan Mall, tapi ini cukup lebar juga.
"Rasti, come on. Kamu pasti bisa, kamu harus move on!" gumam ku menyemangati diriku sendiri.
Aku berjalan malas ke arah kelas ku, dan mata ku kembali harus terbelalak karena melihat di gerandong nyebelin itu ada di depan ruang guru.
Tapi ketika aku ingin mendekat kesana, lagi-lagi tangan ku di tarik oleh seseorang.
"Eh, kelas kita tuh arahnya kesana, bukan kesitu!" seru Dewi sambil menunjuk ke arah yang akan aku tuju.
"Wi, itu..!"
"Udah bel dari tadi Rasti, buruan!" serunya dan malah menarik ku ke arah kelas kami.
Aku hanya bisa memandang ke arah ruang guru sambil berjalan tergopoh-gopoh karena Dewi menarik ku dengan cepat. Aku benar-benar penasaran apa sebenarnya yang dilakukan gerandong nyebelin itu di ruang guru.
Pelajaran pertama dimulai, dan ternyata saat aku dan Dewi masuk ke dalam kelas tadi. Bu Tari guru Bahasa Indonesia kami belum masuk ke dalam kelas. Jadi kamu tidak di hukum atau semacamnya.
__ADS_1
Dan seperti biasa juga, aku kurang bisa menangkap dengan baik pelajaran ini.
'Sepertinya aku memang butuh les tambahan, tapi bukan dengan pak Yoga!' batinku di tengah pusing nya kepala ku menangkap pelajaran yang ada.
Tanpa terasa jam pelajaran pertama selesai, dan akan di lanjutkan dengan pelajaran Sejarah oleh Pak Sabar.
"Selamat siang anak-anak!" sapa pak Sabar ketika baru membuka pintu kelas.
Beliau memang seperti itu, tidak perlu menunggu Marco menyiapkan kami. Dia selalu lebih dulu memberi salam dan menyapa kami.
"Selamat siang, pak Sabar!" jawab kami serempak.
Guru yang sudah bermata empat ini, maksud ku dia memakai kaca mata yang cukup tebal ini meletakkan tas nya di atas meja lalu membuka buku pelajaran sejarah yang dia tenteng tadi.
"Baiklah, anak-anak bapak harap kalian hari ini dalam keadaan sehat dan baik ya. Karena kalau kita dalam keadaan sehat dan juga pikiran yang sehat pula, baru kita akan bisa mengerti sejarah. Bung Karno pernah menyerukan 'Jangan pernah melupakan sejarah' ada yang tahu kenapa beliau menyerukan hal itu?" tanya pak Sabar melihat ke arah kami.
Dan aku harusnya sudah bisa menebak bukan siapa yang akan mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan mereka. Kalau tidak Yusita, Marco ya pastinya Dodo.
Dan benar saja Yusita langsung mengangkat tangannya, membuat pak Sabar tersenyum tapi membuat Dodo dan Marco menghela nafas berat karena mereka kalah cepat dengan Yusita.
"Sejarah adalah identitas bangsa kita pak, identitas kita juga, jadi bagaimana bisa kita melupakan identitas kita sendiri. Dan apa yang terjadi di masa lalu adalah dasar yang terjadi di masa depan, hal itu sama dengan sejarah adalah segala sesuatu yang akan merubah masa depan, seperti hal nya saat ini, masa depan negara kita merdeka, itu karena sejarah yang lalu para pahlawan telah mati-matian memperjuangkan kemerdekaan untuk kita sehingga kita pun ikut menikmati kemerdekaan seperti sekarang ini. Sekian pak, terimakasih!" jelas Yusita panjang lebar.
Aku hanya bisa ternganga saat pak Sabar memberikan tepuk tangan sebagai tanda kalau jawaban Yusita ini adalah jawaban yang bagus.
'Kapan ya gue bisa sepinter Yusita gini?' tanya ku dalam hati.
***
__ADS_1
Bersambung...