
Keesokan harinya, aku sengaja bangun sangat pagi. Aku sengaja menyetel alarm di ponsel ku pukul 05.00 pagi. Kurasa, si gerandong nyasar itu belum bangun.
"Yes, tuh banteng komplek belum bangun. Ih males banget gue bonceng motor dia. Sampai banjir Jakarta gak ada lagi juga ogah gue bonceng motor dia!" gumam ku sambil menggidikkan bahu ku.
Aku berjalan mengendap-endap, padahal ini di rumah ku sendiri tapi aku tampak seperti maling. Aku terkekeh geli sendiri dengan apa yang sedang aku lakukan sekarang.
Aku pergi ke belakang, tepatnya ke kamar bibi. Aku rasa pasti dia sudah bangun.
Dan benar saja ketika aku menghampiri ke belakang, bibi sedang menjemur pakaian.
"Wah, bibi sudah mencuci baju sepagi ini?" tanya ku padanya.
Dan jujur saja aku jadi merasa sangat perduli pada bibi. Usianya sudah tak muda lagi, lebih tua lah dari Rita Sugianto itu, tapi dia harus bangun subuh dan mengerjakan semua pekerjaan ini.
"Supaya cepat kering non! tumben sekali non Rasti sudah bangun, sudah pakai seragam lengkap pula. Bibi belum bikin sarapan, sebentar ya bibi buatkan sarapan!" seru bibi dan meninggalkan pekerjaan yang dia kerjakan sebelumnya.
Aku mengikuti langkah bibi menuju dapur, dengan cekatan bibi mengambil roti tawar dan mengolesinya dengan mentega, dia lalu menyalakan panggangan roti. Bibi memanggang dua lembar roti yang sudah di olesi mentega tadi. Lalu dengan gesit meraih gelas dan menuangkan susu coklat kesukaan ku. Bibi memang sudah lama bekerja di rumah ini, seingat ku saat aku berusia lima tahun, bibi memang sudah bekerja disini. Bahkan kata ayah, sebelum dia menikah dengan ibu ku, bibi memang sudah bekerja disini. Sayangnya dia tak pernah mau menjawab kalau aku tanya perihal ibuku.
"Silahkan non!" seru bibi sambil meletakkan segelas susu coklat yang sudah jadi di depan ku.
Aku segera menenggak habis susu itu, aku meminta bibi membungkus dengan kertas roti untuk roti panggang nya. Karena aku akan memakannya nanti di angkutan umum saja.
"Bi, Rasti berangkat ya. Kunci pintunya dulu yuk!" seru ku pada bibi.
Bibi pun mengikuti ku, masalahnya ini masih jam enam, bahkan masih belum terang. Aku takut disalahkan kalau sampai aku keluar tanpa sepengetahuan bibi dengan pintu yang tidak terkunci pula saat suasana sepi.
Meskipun daerah komplek perumahan ini aman, tapi tidak ada salahnya juga kan berjaga-jaga.
Aku sudah berjalan meninggalkan rumah, rasanya senang sekali bisa lolos dari gerandong nyasar itu. Aku menghentikan langkah ku di depan halte. Sudah ramai disini, banyak ibu-ibu yang sepertinya mau ke pasar dan beberapa orang yang berpakaian seragam OB. Tapi tidak ada yang berseragam sekolah selain aku. Tentu saja, siapa yang akan berangkat sepagi ini ke sekolah, aku yakin gerbang sekolah juga belum di buka.
Aku menaiki sebuah angkutan umum yang tidak terlalu ramai. Beberapa menit kemudian aku sampai di depan gerbang sekolah. Dan gerbangnya sudah di buka.
__ADS_1
Aku segera masuk kesana, ternyata dugaan ku salah. Mungkin karena aku tidak pernah berangkat pagi sebelumnya. Ternyata sudah banyak siswa yang datang, dan kebanyakan adalah siswa yang piket. Aku saja kalau piket datang tetap siang, aku jadi merasa bersalah sekarang. Pantas saja, Indri suka ngomel kalau aku datang telat.
Aku masuk ke kelasku, dan melihat Marco sudah ada di sana.
"Pagi ko! ngapain lu?" tanya ku sambil menyapanya.
Aku melihat dia sedang membaca buku catatan.
"Wah, serius banget belajarnya?" tanya ku lagi sambil duduk di depannya.
"Pagi Rasti, tumben lu dateng subuh gini. Mimpi apa lu semalem?" tanyanya tanpa menoleh ke arah ku.
"Lu kan gak lihat gue ya, kok lu tahu ini gue?" tanya ku lagi. Dan aku memang sengaja ingin menganggu nya belajar. Terkesan jahil memang, tapi Marco ini salah satu dari sepuluh besar di kelas ini. Dan terus terang saja, aku iri padanya.
"Lu sengaja ya gangguin gue?" kali ini dia bertanya sambil menatap ku tanpa menutup bukunya.
Aku hanya nyengir.
Dia malah meletakkan punggung tangan nya di dahi ku.
"Wah kayak nya salah makan deh lu Ras! makan apa lu semalem?" tanya nya padaku.
Aku segera menepis tangannya.
"Ih, orang serius. Ya udah lah, gue belajar sendiri!" sahut ku kesal lalu beralih ke meja ku dan Marco masih menatap tak percaya ke arah ku, sebelum akhirnya dia kembali menatap buku catatan nya.
Aku duduk di kursi dan meletakkan tas ku di atas meja. Aku meraih buku catatan ku dan juga roti panggang buatan bibi. Aku tak sempat makan di angkot karena banyak orang yang ternyata memperhatikan.
Sambil mengunyah, aku terus membaca dan mengingat penjelasan pak Yoga. Tak terasa roti panggang ku habis dan teman-teman ku juga sudah masuk kelas.
"Rasti, mimpi apa gue? kok lu dateng duluan sebelum gue?" tanya Yusita lalu duduk di kursinya.
__ADS_1
"Lu nginep di kelas ya Ras?" tanya Dodo teman sekelas ku juga.
"Elah, heboh banget sih. Besok gue dateng pas istirahat pertama deh!" sahut ku jengah.
"Sssttt pada diem dulu ya, gue mau belajar!" seru ku pada yang lain membuat mereka menatap dengan raut wajah aneh dan tak percaya padaku.
Mereka pun diam, mereka ini sebenarnya sangat baik. Bel masuk pun berbunyi, dan pelajaran pertama adalah pelajaran yang di ajarkan oleh pak Yoga. Aku sudah sangat siap untuk ujian.
Seperti biasa Marco menyiapkan kami untuk memberi salam setelah itu tanpa berlama-lama pak Yoga segera membagikan kertas ujian. Tapi saat tiba giliran ku, dia meraih kertas yang berada pada tumpukan paling bawah.
Meski sikapnya biasa dan datar, tapi aku membelalakkan mataku ketika melihat kertas itu. Di lembar soal ku, di bawahnya aku melihat tulisan 'Semangat Rasti, kamu pasti bisa!'
Aku langsung menoleh ke arah pak Yoga yang masih membagikan lembar soal ujian.
'Wah, gak bener nih. Bisa-bisa gue baper beneran kan kalau begini! mana dia dah mau nikah lagi. Oh Tuhan, kenapa tak kau kirimkan dia saat dia masih jomblo!' batin ku.
Tangan ku jadi gemetaran, aku yang awalnya yakin malah jadi gugup melihat lembar soal yang ada di tangan ku. Tapi aku diam sebentar dan berfikir.
'Jangan-jangan emang semua soalnya ada note nya begini!' batin ku.
"Wi, lihat soal lu bentar?" tanya ku pada Dewi.
"Kenapa?" tanya Dewi.
"Bentar doang!" ucap ku lalu meraih soal Dewi.
Dan ternyata tidak ada tulisan seperti yang ada di lembar soal ku.
'Tuh kan, baper beneran ini gue!' batin ku lagi.
***
__ADS_1
Bersambung...