Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Yoseph Menjemput Sofie


__ADS_3

Yoga benar-benar tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Dan sama sekali tidak berniat untuk mengambilkan minuman untuk Sofie yang dari tadi terus menangis ataupun pemberian tisu untuk menyeka air matanya.


Setelah apa yang dikatakan oleh Sofie kepadanya, kalau sebenarnya dia mengalami kesulitan saat Yoga kuliah di luar negeri. Yoga sebenarnya merasa cukup simpati, tapi dia benar-benar tidak mau membuat wanita yang sedang menangis di atas lantai itu menjadi salah paham. Jika dia memberikan tips untuk menyeka air matanya mungkin saja kakak iparnya itu akan berpikiran berbeda, mungkin kakak iparnya itu akan merasa kalau Yoga memberikan perhatian, dan Yoga sudah memaafkannya. Maka dia akan semakin berharap kalau dia bisa menjalin hubungan lebih baik dengan Yoga. Dan Yoga sendiri tidak mau kalau sampai itu semua terjadi.


Sebenarnya atas dasar kemanusiaan Yoga bisa saja memberikan dia minum. Tapi atas dasar rasa kemanusiaan dari Yoga mungkin akan disalahartikan oleh Sofie. Jadi jika orang yang tidak tahu masalah apa yang terjadi kepada mereka mungkin akan menganggap Yoga sangat kejam.


Karena membiarkan seorang wanita tak berdaya sedang menangis bahkan duduk diatas lantai dan Yoga hanya memalingkan wajahnya dari wanita itu dan tetap berdiri ditempat sambil memainkan ponselnya.


Beberapa menit sudah berlalu, Sofie masih terus aja bicara, wanita itu berusaha menjelaskan kepada pria yang tengah berdiri dan memalingkan wajah darinya itu kalau dia hanyalah korban.


"Ayah dan kakak ku masuk penjara Yoga, lalu apa yang aku harus lakukan?" tanya Sofie dengan suara lirih.


"Aku selalu menanyakan padamu bagaimana kabarmu bagaimana kabar kedua orang tuamu bagaimana kabar kakakmu, tapi saat aku bertanya seperti itu jawaban mu selalu sama. Mereka semua baik!" jawab Yoga.


"Aku mengatakan semua itu karena kamu adalah seorang guru memangnya apa yang dimiliki oleh seorang guru hingga bisa membebaskan 2 orang dari penjara atas tuntutan sebesar belasan miliar, Yoga!" Sofie benar-benar sudah kehabisan tenaga, suaranya semakin serak dan melemah.


Tentu saja itu terjadi, karena sebelum menangis sampai berapa menit di rumah Yoga dia bahkan bertengkar dengan suaminya juga ibu mertuanya dan menangis di dalam mobil. Matanya bahkan sudah bengkak dan hidungnya merah wajahnya pun pucat. Sungguh saat ini Sofie begitu terlihat menyedihkan.


"Kamu benar, memang tidak ada yang bisa aku lakukan. Dan itu juga berlaku untuk sekarang!" tegas Yoga membuat Sofie kembali mengepalkan tangannya.


"Yoga, bagaimana caranya aku menjelaskan kepadamu bahwa semua tidak seperti yang kamu pikirkan... aku bahkan saat ini masih sangat mencintai mu, tidak ada yang berubah, aku masih sangat mencintai mu seperti dulu!" ucap Sofie lagi.

__ADS_1


Yoga sama sekali tidak terpengaruh, dia malah sibuk melihat foto-foto lucu yang di kirimkan oleh Rasti padanya. Menurut Yoga hal itu lebih menarik daripada mendengarkan apa yang Sofie katakan.


"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, atau kak Yoseph akan salah paham. Karena selamanya gadis yang akan aku cintai hanya Rasti. Dan aku peringatkan untuk terakhir kalinya pada mu agar jangan pernah lagi mengusik Rasti juga keluarga nya!" seru Yoga dengan wajah serius.


Setelah juga mengatakan kalimat itu terdengar suara mobil yang mengerem mendadak di depan rumah Yoga. Dari suaranya, juga bisa tahu kalau mobil itu awalnya pasti bergerak dengan cepat lalu berhenti mendadak. Benar saja tak lama setelah suara mobil yang berhenti mendadak itu terlihat sosok Yoseph Adrian di depan pintu yang berlari tergopoh-gopoh.


"Yoga!" panggil Yoseph dengan terburu-buru.


Yoga melihat kearah Yoseph dan matanya langsung melihat ke arah Sofie yang masih duduk di atas lantai, membuat pandangan Yoseph juga tertuju ke arah yang sama dengan yang dilihat oleh adiknya.


"Astaga!" gumam Yoseph lalu mengusap kepalanya gusar.


"Kenapa lagi ini Sofie? tidak puas kah kamu membuat keributan di rumah. Dan kamu masih membuat keributan di rumah Yoga?" tanya Yoseph yang terlihat jelas bahwa dirinya sudah mulai jengah dengan kelakuan istri yang baru dinikahinya beberapa waktu yang lalu.


"Astaga!" keluh Yoseph lagi.


"Yoga, tolong aku tolong bukakan pintu mobil ku. Aku akan membawa kakak ipar mu pulang!" ucap Yoseph yang lalu menggendong istrinya itu dan berjalan keluar.


Yoga juga sudah berlari mengikutinya kemudian terlebih dahulu keluar dari gerbang dan membukakan pintu mobil merek Yoseph. Setelah membaringkan tubuh Sofie di jok bagian belakang, Yoseph menutup pintu mobilnya lalu menepuk bahu adiknya itu beberapa kali.


"Aku minta maaf atas apa yang dilakukan oleh kakak iparmu, Ibu tadi juga menghubungiku katanya dia berkata kasar pada ibu sebelum pergi, aku lama-lama jadi pusing kenapa dia jadi begini. Dulu sebelum kami menikah dia tidak seperti ini, sikapnya lembut dan penurut tapi sekarang dia menjadi kasar dan juga pembangkang. Huh, rasanya lelah sekali, sudah pusing di perusahaan sampai di rumah ibu selalu mengadu yang tidak-tidak tentang kelakuannya, aku sampai tidak tahu harus bagaimana?" tanya Yoseph mengeluh panjang lebar tentang ibu dan juga istrinya yang setelah masalah Rasti itu berakhir mereka malah bermusuhan.

__ADS_1


Dan setelah kakaknya mengutarakan keluh kesah nya, Yoga juga menepuk pundak kakaknya itu beberapa kali.


"Kakak yang sabar ya!" ucap Yoga.


Yoseph malah mendengus lelah.


"Rasanya aku ingin keluar saja dari rumah itu untuk beberapa waktu, tapi masalah di perusahaan begitu banyak saat ini. Aku juga tidak mau meninggalkan Ayah untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan itu sendirian!" ucap Yoseph lagi.


Yoga tidak tahu harus menjawab dan menanggapi bagaimana ucapan kakaknya itu. Karena dia memang tidak tahu sama sekali kalau masalah bisnis dan perusahaan, dia tidak kuliah mengenai bisnis dan tidak mempelajari tentang hal itu.


"Oh ya, apa saja yang sudah dia katakan tadi?" tanya Yoseph sambil melirik ke arah kaca mobil bagian belakang sekilas.


"Tidak banyak, dia hanya mengeluh sedang bertengkar dengan mu dan juga Ibu. Dia bilang, dia hanya mencoba untuk mencari teman dan mengatakan semua isi hatinya dan beban di dalam hatinya. Ck... dan aku mengatakan kalau dia pergi ke tempat yang salah, dia malah makin menangis dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, karena itu aku segera menghubungi kakak!" jelas Yoga.


Memang tidak semua yang dikatakan oleh Yoga itu benar, tapi dia tidak mungkin jujur pada Yoseph kan.


Yoseph yang mendengarkan jawaban dari adiknya itu langsung memijat kepalanya yang terasa berdenyut.


"Astaga! aku tidak habis pikir. Apa sebenarnya yang ada di otak perempuan ini, bagaimana dia berpikir kalau dia bisa curhat pada adik iparnya dan mengadu tentang suaminya sendiri dan ibunya yang jelas-jelas adalah saudara kandungmu, juga ibu kandung mu. Aku benar-benar tidak mengerti!" ucap Yoseph sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Author POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2