
Setelah begitu terkesiap kaget mendengar apa yang dikatakan oleh kak Yoga tentang foto yang sejak tadi dia bingung untuk mengatakan nya. Sedetik kemudian aku terkekeh begitu puasnya.
"Ha ha ha, Kak Yoga bilang apa barusan? foto minimalis? mana ada! ha ha ha!" ucapku begitu puas tertawa.
Dan sebaliknya aku melihat lagi ke arah Kak Yoga dan dia memasang raut wajah serius dihadapanku.
"Rasti, kenapa malah bercanda seperti itu? masalahnya adalah jika ada foto seperti itu di ponsel mu itu akan sangat berbahaya, bisa saja ada oknum yang akan merusak nama baik dengan menyebarkan foto mu itu dengan caption yang tidak baik dan tidak benar!" jelaskan Yoga membuatku berhenti tertawa.
Karena setelah aku pikir lagi apa yang dikatakan oleh kak Yoga itu memang benar bahkan sangat benar. Bisa saja kan kalau ada foto yang seperti itu mereka membuat iklan yang tidak tidak. Tapi Untung saja aku tidak pernah punya foto yang seperti itu.
Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat berkali-kali di hadapan Kak Yoga.
"Tidak ada kak, yang paling seksi ih tidak ada!" ucapku membuat Kak Yoga mengernyitkan dahinya salat tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Walau beberapa?" tanyanya lagi memastikan bahwa apa yang aku katakan itu memang benar.
"Aku serius, coba kakak lihat tubuhku ini!" ujarku sambil membenarkan posisiku menjadi duduk tegak seperti siku-siku.
"Badan kurus kering kerempeng seperti ini apanya yang terlihat seksi?" tanyaku pada Kak Yoga.
Tapi saat aku mengatakan itu dan kak Yoga mengikuti ucapanku untuk melihat ke arahku dari ujung kepala sampai ke pinggang ku. Pandangan nya kurasa malah berbeda kepadaku.
"Ekhem... baiklah kalau memang tidak ada. Itu bagus!" ucapnya tapi aku lihat telinganya memerah.
'Dia tidak sedang mengagumi ku kan? itu tidak mungkin!' batin ku yakin.
Kak Yoga lantas pamit keluar dari dalam ruangan dengan alasan mencari minuman dingin.
Aku berpikir apakah cuacanya sangat panas sampai dia harus mencari minuman dingin. Di dalam ruangan klinik ini ada pendingin ruangan nya, tapi sudahlah biarkan saja.
__ADS_1
Tak lama kemudian, aku mendengar suara seseorang yang sangat aku kenal bertanya kepada salah seorang perawat apakah ada seorang wanita dan seorang pria yang wanita memakai baju seragam dan yang pria terlihat seperti seorang guru.
Aku terkekeh pelan, ketika mendengar orang itu bertanya kepada perawat dengan pertanyaan seperti itu. Tapi sayangnya suara itu sangat familiar di telinga aku.
"Maksudnya bagaimana?" tanya perawat di luar ruangan tapi masih bisa aku dengar dari dalam ruangan ini.
"Seorang gadis berseragam SMA dia pingsan dibawa oleh seseorang yang profesinya adalah guru di SMA itu. Katanya pria itu membawa gadis itu kemari di klinik ini!" jelas kak Tirta pada perawat itu.
Ya benar, suara itu adalah suara milik kak Tirta. Dia terdengar begitu panik hingga bicaranya terdengar tidak jelas dan sepertinya banyak kata-kata yang bolak-balik.
"Pasien yang pingsan, berseragam SMA?" tanya perawat itu memastikan dengan kalimat sederhana tapi menurutku itu lebih jelas.
Aku tidak tahu apa ekspresi Kak Tirta selanjutnya tapi tak lama kemudian perawat itu bicara lagi.
"Di ruangan ini...!"
Belum juga perawat itu menyelesaikan kalimatnya suara pintu terbuka membuat ku melihat kearah pintu yang terbuka tersebut.
"Rasti!" panggilkan Tirta sambil menghembuskan nafasnya lega.
Dia langsung berjalan dengan cepat menghampiriku, dia memelukku dengan erat.
"Syukur lah lu tidak apa-apa! lu tahu nggak sumpah gue panik banget pas denger lu pingsan dari Pak Yoga!" ucapnya dan kurasa dia masih menunjukkan ekspresi itu.
"Gue gak papa kak, cuma pingsan gara-gara gua ketakutan ngeliatin orang digebukin babak belur!" jawab ku.
Kak Tirta menarik sebuah kursi yang ada di depan meja seorang dokter lalu duduk di sebelahku.
"Coba ceritain, apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Karena aku juga ngerasa aneh banget tadi, gue lihat ada anak seragamnya persis kayak seragam yang lu pakai, cowok. Dia lari nyebrang jalan gitu, tapi bolak-balik gua ketemu anak itu terus. Kayaknya dia nyebrang, terus dia ngebut pakai motornya. Terus jangan nyebrang lagi dan ngebut lagi pakai motornya lagi! nah bingung kan gue!" jelas kak Tirta.
__ADS_1
Tapi cerita yang dijelaskan oleh kak Tirta itu malah membuat aku jadi tambah bingung.
"Maksudnya tuh orang bolak-balik nyebrang jalan tapi ngebut lagi gitu, apa ada yang dibuang di jalan, ranjau paku misalnya?" tanya ku yang mulai paham pada rencana Friska dan teman-temannya.
Kurasa kepergian Gugun yang tiba-tiba, padahal waktu ujian belum selesai itu adalah untuk menghalangi Tirta sampai ke sekolahan.
"Nah iya bener, abis tuh anak nyebrang bolak-balik depan gue tiga kali, ban motor gue bocor!" jelas kak Tirta.
Aku bahkan begitu terkejut karena ternyata tebakanku ini benar. Wah, apakah aku sekarang sudah bisa jadi asistennya Sherlock home, atau sudah bisa menjadi asisten nya duo pria tampan yang ada di novel sebelah tapi masih di APK ini itu, yang satunya berwajah imut dan yang satunya berwajah tenang dan berkarisma.
"Ck... gua rasa temen lu yang lu laporin pas lagi nyontek itu otaknya bener-bener kriminal. Mungkin dia kebanyakan nonton film dan baca cerita mafia deh, anak SMA udah punya pikiran nyulik, ngejebak orang biar pada bocor, nyewa preman, parah!" kak Tirta mengoceh sambil terus menggelengkan kepalanya.
Sepertinya dia terlalu tidak percaya bahwa ada anak SMA yang mampu memikirkan semua itu.
"Tapi gue rasa dia bakalan kapok abis ini, karena tadi pas gua sampai di sekolahan elu banyak polisi di samping gang sekolah itu. Artinya kalau urusan ini sampai ke polisi pasti itu anak kebawa kan?" tanya kak Tirta.
"Sayangnya tidak Tirta...!" seru kak Yoga menyahuti perkataan Tirta saat baru masuk ke dalam ruangan rawat ku.
Aku dan Kak Tirta langsung melihat ke arah Kak Yoga secara bersamaan.
"Kenapa?" tanya kak Tirta penasaran.
"Rasti tidak mau menjadi saksi, jadi masalah ini kita anggap selesai. Tapi aku bisa pastikan kalau Rasti tidak akan mengalami hal ini lagi!" tegas kak Yoga.
Aku senang mendengarnya, aku tidak tahu apakah yang aku duga ini benar atau tidak. Tapi firasat ku mengatakan kalau para preman yang berbadan kurus yang waktu itu membantuku itu ada hubungannya dengan Kak Yoga. Sekilas saat aku pingsan para preman itu mengatakan kalau mereka sama sekali tidak boleh menyentuh 'gadisnya' dan kata itu membuat aku yakin, kalau orang yang dimaksud adalah Kak Yoga. Karena aku adalah gadisnya kak Yoga.
***
Bersambung...
__ADS_1