Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
First Kiss


__ADS_3

Pak Yoga menghentikan mobilnya di depan rumah ku, tadinya aku meminta nya berhenti di depan gang saja. Tapi dia bilang ini sudah petang, dan dia tidak tega melihat ku jalan sendirian dari gang ke rumah ku. Terkadang menyenangkan juga punya pacar, ada yang begitu perhatian membuat ku seperti sangat di hargai dan di sayang.


Aku melepaskan sabuk pengaman ku, tapi baru akan membuka nya, tangan pak Yoga menyentuh tangan ku.


"Aku bantu!" ucapnya.


Aku lantas melepaskan tangan ku dari sabuk pengaman, dan membiarkan pak Yoga membantu ku untuk membukanya.


Sabuk pengaman sudah terbuka, tapi pak Yoga tidak beralih dari posisinya yang sangat dekat dengan ku.


Deg deg deg


"Rasti!" panggil pak Yoga sangat lembut.


Aku memundurkan punggung ku sampai menyentuh sandaran kursi, aku menatap pak Yoga yang juga sedang menatap ku.


"Bolehkah aku mencium mu?" tanya pak Yoga dengan lembut, jaraknya dengan ku begitu dekat hingga nafasnya bisa kurasakan di wajahku.


Deg deg deg


Aku tidak tahu harus menjawab apa, aku masih terdiam ketika tangan pak Yoga menyentuh wajahku, menarik dagu ku dan mendekatkan wajahnya perlahan. Kami masih saling memandang dan...


Cup


Sebuah kecupan lembut, membuatku seperti tersengat listrik yang membuatku refleks memejamkan mataku. Rasanya lembut, manis tapi ada sensasi geli yang menggelitik perut ku.


Mataku terbuka ketika pak Yoga menjauhkan bibirnya dari bibirku. Aku mengatur kembali nafas ku yang tidak beraturan. Ini adalah ciuman pertama ku. Jantungku juga berdetak sangat kencang.


Tatapan pak Yoga belum beralih dari ku, dan aku juga sama. Meskipun singkat tapi ku rasa aku tidak akan pernah melupakan pengalaman ini. Aku kira ini sudah selesai, tapi aku salah.


Tangan pak Yoga beralih dari dagu ku ke belakang kepala ku. Aku tidak mengerti dia mau apa. Tapi ketika dia kembali mendekatkan wajahnya aku mengerti dia belum selesai.


Pak Yoga kembali mengecup bibir ku, tapi bukan hanya sebuah kecupan, aku merasa pria dewasa ini sedang menunjukkan padaku bagaimana caranya berciuman. Dia membuat tangan ku yang awalnya hanya diam di atas pangkuan ku, bergerak naik memeluk nya, apa yang pak Yoga lakukan ini membuat ku sulit bernafas. Aku membuka mulutku untuk mengambil nafas tapi kurasa aku salah, apa yang aku lakukan itu justru membuat pak Yoga makin bersemangat lagi, aku terbawa suasana ini, aku hanya mengikuti apa yang di inginkan oleh pacar dewasa ku ini.


Satu menit, dua menit, tiga menit...

__ADS_1


Aku merasa sangat tidak nyaman, karena sangat gemas aku menggigil bibir bawah pak Yoga.


"Sshh!" dia mendesis pelan membuat ku menyadari kalau aku telah menyakiti nya. Aku menjauhkan diriku, membuat apa yang kami lakukan terhenti.


"Ma... maaf pak! aku...!" ucap ku terbata-bata karena nafas kami juga masih saling tersengal-sengal.


Pak Yoga segera menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Tidak Rasti, kamu jangan minta maaf. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku menyayangimu Rasti!" ucap pak Yoga yang langsung menarik ku ke dalam dekapannya.


Kami masih sama-sama mengatur nafas kami. Aku meraih tissue di dashboard mobil pak Yoga dan mengusap bibir dan di sekitar bibir ku yang basah karena ulah kami tadi.


"Untung saja di mobil, jika tidak maka...!"


"Maka apa?" tanya ku menyela ucapan pak Yoga.


Pak Yoga malah tersenyum dan mengecup keningku dengan lembut.


"Tidak apa-apa, aku tidak mau kamu keluar dari dalam mobil. Aku tidak ingin berpisah dengan mu!" ucap pak Yoga seperti sedang merengek padaku, karena sambil mengatakan itu pak Yoga memeluk ku makin erat.


"Kak, kita besok juga masih bisa ketemu di sekolah! aku harus turun. Aku masih harus mengepak kacang telur!" ucap ku dengan suara pelan.


"Ekhem, kak jangan di bahas lagi ya. Aku.. aku malu!"


Pak Yoga tersenyum lagi dan melepaskan pelukannya.


"Baiklah, besok akan ada yang antarkan pakaian dari butik untuk mu. Malamnya aku jemput ya. Kita akan datang ke pernikahan kak Yoseph!" ucapnya mengingatkan aku.


Aku langsung mengangguk dan langsung memegang handel pintu mobil, tapi lagi-lagi pak Yoga menahan tangan ku.


Aku berbalik melihat ke arahnya.


"Aku harus turun!" ucap ku.


Dia malah terkekeh pelan.

__ADS_1


"Baiklah, sampai ketemu besok!" ucapnya yang sepertinya tidak rela aku turun dari dalam mobilnya.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum lalu dengan cepat membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil pak Yoga, tak lupa dengan semua belanjaan ku yang sebanyak tiga kantung besar. Aku menutup kembali pintu mobil pak Yoga dengan agak susah, tapi dia juga membantuku menariknya dari dalam dan dia kembali membuka kaca mobilnya sebelum berlalu. Dia melambaikan tangannya dan tersenyum.


Setelah mobil pak Yoga menjauh, aku membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam. Saat aku membuka pintu, aku melihat Tirta sudah berdiri di dekat jendela.


'Gyaaaah, jangan-jangan dia memperhatikan aku dan pak Yoga sejak tadi dari jendela itu?' tanya ku dalam hati.


"Aku pulang!" ucap ku canggung.


Tirta melihat ke arah tangan ku yang membawa banyak sekali kantong belanjaan.


"Darimana lu? dari rumah sakit tidak mungkin bawa barang sebanyak itu kan?" tanya nya seperti sedang menginterogasi saja.


"Gue dari mini market, beli kacang telur. Nah yang ini camilan di beliin sama pak Yoga!" jawab ku jujur.


Tirta terlihat mengernyitkan dahi nya.


"Di beliin pak Yoga?" tanya mengulang apa yang aku katakan.


"Iya, bukan gue aja. Tadi kan sebelum kerumah sakit tuh gue ke minimarket, jadi pak Yoga traktir gue sama Panji makanan. Lu mau, nih ambil!" tawar ku pada Tirta.


Tapi sepertinya Tirta tidak tertarik sama sekali dengan makanan yang aku tawarkan, dari luar saja dia sudah tahu, kalau yang aku bawa ini kebanyakan adalah permen dan Snack, sesuatu yang sangat tidak disukai oleh Tirta. Karena seingat ku dia dulu punya riwayat sakit gigi yang parah.


"Gak usah, buat lu aja. Biar gemukan dikit tuh badan!" ucapnya lagi.


"Ya udah, kalau gak mau!" sahut ku menarik kembali tanganku yang terulur di depannya.


"Tapi sini, tinggalin kacang telurnya. Gue udah siapin plastik sama labelnya. Lu buruan ganti baju, terus ke ruang tengah. Gue bantuin lu ngepak nih kacang telur buat tugas lu!" ucap Tirta yang mengambil bungkusan kacang telur dan membawanya ke arah ruang tengah.


Aku masih berdiri mematung di tempat ku, aku merasa Tirta begitu baik padaku sampai dia menyiapkan label dan plastik untuk membantu menyelesaikan tugas sekolah ku.


Karena aku belum juga beranjak, dia berbalik dan berkata.


"Rasti, ngapain masih disitu, buruan!" ucap nya dan aku langsung berlari menaiki anak tangga menuju ke kamar ku untuk berganti pakaian sebelum Tirta berubah pikiran.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2