Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Pernyataan Suka Marco


__ADS_3

Aku dan yang lain segera keluar dari dalam kelas. Tapi Marco memintaku untuk menunggunya di depan kelas karena ada yang ingin dia katakan.


"Ayo balik Ras!" ajak Dewi.


"Duluan, si Marco ada perlu sama gue! ntar kalau lihat kakak gue di depan, bilang sama dia tunggu bentar ya!" ucap ku pada ketiga teman ku yang menghampiri ku sebelum mereka pulang.


"Oh ya udah, kita duluan ya. Bye Rasti!" seru Yusita.


"Sampai ketemu besok Ras!" seru Nina.


Dan aku masih tetap berdiri di depan pintu menunggu Marco membereskan kertas-kertas yang tadi ditinggalkan oleh Bu Davina. Juga merapikan lemari juga menguncinya. Karena Marco lah yang memegang kunci lemari ruang kelas kami karena dia adalah ketua kelas di kelas 11 IPS II.


Sudah hampir 5 menit aku menunggu Marco, dan akhirnya dia keluar juga.


"Lu mau ngomongin apaan sih penting banget ya?" tanya ku yang sebenarnya hanya sedikit penasaran saja.


"Gimana kalau ngobrolnya kita sambil makan somay di depan sekolah?" tanya Marco meminta pendapatku.


Tapi aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat berkali-kali.


"Gak deh, gue kenyang tadi istirahat gua makan banyak di kantin. Udah, buruan lu mau ngomong apa? kalau kelamaan iklan begini ntar Kadir kelamaan juga nungguin gue di depan gerbang!" seru ku yang mulai bosan menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Marco.


Sebenarnya dia mau bicara apa sih, sebenarnya aku tidak tertarik sama sekali hanya saja aku menghargainya.


"Bisa gak kalau lu tukeran peran sama Yusita? kalau lu mau nanti gue yang bakalan bilang sama Bu Davina!" seru Marco


Aku langsung terkesiap bahkan aku sepertinya sedang menautkan kedua alisku.


"Idih, menu pantes gue jadi Juliet. Lu kagak usah ngadi-ngadi deh! udah paling benar tuh yang jadi curhat si Yusita, dia itu cantik terus sikapnya itu lembut nggak urak-urakan kayak gua, terus dia itu pinter apa adanya, bodinya juga bagus pasti pas banget dia nanti pakai gaun ala ala Juliet begitu!" jelaskan panjang lebar aku berusaha membuat mereka mengerti bahwa memang Yusita lebih pantas mendapatkan peran itu dari pada siapapun yang berada di kelas 11 IPS II.


Marco terdiam lalu dia menggenggam pergelangan tanganku dan menariknya ke depan wajahnya.

__ADS_1


Aku terkejut bukan main aku sampai melotot melihat ke arahnya.


"Eh, lu kenapa?" tanyaku heran.


Aku memang tahu kalau marah kok sepertinya sedikit menaruh rasa pada aku tapi aku yakin itu hanya sedikit saja. Lagipula selama ini aku juga selalu menolaknya, lalu sikapnya kali ini sebenarnya ada apa dengan dirinya.


"Gue nggak bakalan dapat cemistry kalau yang jadi Juliet yaitu Yusita! dan yang jelas gue nggak mau lu pasangan sama David, apalagi jadi pasangan suami istri....!"


Aku semakin terkejut dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Marco dari mulutnya itu. Ini kan hanya pementasan untuk drama musikal yang akan kami pertunjukan pada saat pesta perpisahan untuk anak kelas 12 yang akan lulus. Kenapa mereka seolah-olah menganggap semua ini seperti realita.


"Marco, lu gak perlu serius kayak gini. Ini tuh cuma pertunjukkan loh, sandiwara! kenapa juga muka lu serius gini?" tanyaku pada Marco aku sungguh sudah mulai jengah berada di hadapannya apalagi dia masih tetap saja menggenggam pergelangan tanganku dengan kencang.


Aku berusaha untuk melepaskan pergelangan tanganku dari genggamannya tapi sepertinya dia memegangi sangat kencang sehingga aku sedikit kesulitan dalam melakukannya.


"Marco, lepasin tangan gue nggak?" tanya ku pada Marco dengan wajah yang ku buat sangat serius.


Marco tidak langsung menuruti apa yang aku pinta, dia tidak langsung melepaskan tanganku. Tapi dia malah menatapku dengan tajam, membuatku sedikit bergidik melihatnya.


Karena sungguh aku tidak suka melihat Marco yang berwajah serius seperti itu.


"Lepasin tangan gue!" seru ku lagi.


Tapi aku terkejut, ketika Marco malah menarik ku ke dalam kelas.


"Eh, apaan sih?" tanyaku yang juga berusaha untuk memberontak.


Tapi karena tenaga yang digunakan oleh Marco terlalu kuat jadi aku hanya bisa memperlambat langkahnya saja, pada akhirnya dia berhasil menarikku kedalam kelas. Dia menyandarkan aku ke dinding dan mengurungku dengan kedua tangannya.


Mataku terbelalak sangat lebar, aku bisa merasakan hembusan nafas Marco yang sepertinya sangat tidak beraturan.


"Marco lu tuh apa-apaan sih?" tanya ku ya sudah mulai geram pada tindakan pemuda ini.

__ADS_1


"Gimana kalau kita backstreet aja?" tanya nya dengan mata yang sepertinya aku pernah melihat pandangan mata seperti ini.


Aku juga memperhatikan apa yang tadi dia ucapkan, dia ingin kami backstreet? itu adalah sebuah hal yang sangat mustahil. Aku tidak pernah menyukainya lebih dari menganggapnya sebagai seorang teman saja.


Sedangkan backstreet itu baru bisa terjadi kalau kedua pihak sama-sama saling suka tapi tidak ingin diketahui oleh pihak lain. Sedangkan pada kasus aku dan Marco, aku sama sekali tidak menyukainya.


"Marco, kayaknya memang ada hal yang perlu gue lurusin ya!" ucapku sambil meletakkan kedua tanganku di dada Marco untuk menahan nya agar tidak terlalu dekat denganku.


"Pertama, gue beneran nggak ada perasaan apapun sama lu kecuali nganggap lu sebagai teman gue!" jelas gue berusaha bicara setenang mungkin dan tidak terlihat panik.


Padahal saat ini aku sungguh merasa sangat panik, bagaimanapun hanya tinggal kami berdua di dalam kelas ini. Dan apapun bisa terjadi, tapi aku akan berusaha agar tidak ada hal buruk yang terjadi.


Saat aku selesai mengatakan kalimat itu pandangan mata Marco sepertinya bertambah kesal.


"Kedua, kita gak mungkin bisa backstreet. Karena kita nggak punya hubungan apa-apa jadi buat apa kita backstreet?" tanyaku pada Marco yang sepertinya semakin emosional.


Marco belum menurunkan kedua tangannya dan masih tetap mengurungku diantara kedua tangannya itu yang disandarkan lurus ke dinding kelas.


"Gue suka sama lu, gue nggak bisa konsentrasi cuman gara-gara gue pengen bilang ini sama lu. Seenggaknya lu kasih satu alasan buat gue kenapa kita enggak bisa...!"


"Gue bener-bener cuman nganggap lu sebagai temen nggak bisa lebih!" jelas ku lagi.


"Tapi kenapa Ras, apa kurangnya gue?" tanya nya lagi membuat ku menelan saliva aku dengan sangat susah payah.


Aku berpikir sejenak aku tidak mau sampai aku salah berucap.


"Gak ada kurangnya, lu pinter, baik, ganteng! tapi nggak ada yang bisa maksain perasaan seseorang, dan cuman itu masalahnya. Gue juga nggak bisa maksain buat suka sama lu. Please, Marco...!"


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2