Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Pesona Panji


__ADS_3

Saat ini kami sudah berada di kantin sekolah, suasananya sedikit sepi. Karena sepertinya siswa-siswi lain lebih tertarik untuk menonton pertandingan basket di lapangan, bukan pertandingan sungguhan tapi ini hanya pertandingan anak-anak yang menghabiskan waktu istirahat mereka dengan bermain basket saja.


Mungkin karena ujian sekolah memang tinggal 2 hari lagi, hari ini dan besok. Mungkin karena itu mereka melepaskan penat pikiran mereka dengan bermain basket. Dan yang menarik perhatian adalah anak-anak basket di SMA ini, semuanya mayoritas adalah pemuda pemuda tampan yang juga berbadan atletis.


Dan ketuanya adalah Panji, dia memang tampan badannya bagus tinggi pokoknya ideal banget deh. Tidak heran kalau Panji sudah bermain basket maka puluhan siswa dari kelas sepuluh, sebelas dan dua belas rela panas-panasan hanya untuk menyaksikan Panji dan kawan-kawan nya bermain basket di lapangan.


Di sekolah kami memang belum ada pemandu soraknya, tapi bahkan tanpa pemandu sorak suara di lapangan sudah sangat ramai dengan sorak-sorai siswi-siswi penggemar berat Panji dan kawan-kawan. Tidak heran juga kan kenapa mantan pacar Panji sampai 99 orang. Itu karena memang dia mempunyai fisik dan wajah yang sangat rupawan dan memadai.


Tinggalkan soal Panji dan kawan-kawannya, kami sedang membicarakan keadaan kantin yang begitu sepi.


"Lagian kenapa mereka main basketnya pas jam istirahat sih, kenapa nggak nanti pas pulang aja!" keluh Nina yang baru saja mengantri memesan makanan lalu duduk di samping Yusita.


"Emang kenapa?" tanya ku heran, sambil mencomot satu buah manisan jambu yang Nina beli barusan.


"Ck... kalau sepi begini kan makanan yang ada di meja gue tuh kelihatan jelas, apalagi yang nemenin kalian bertiga... eh kok tinggal kalian berdua, mana Dewi?" tanya Nina yang baru menyadari kalau yang ada di meja ini hanya aku dan Yusita.


"Oh, si Dewi ke toilet katanya!" jawab ku cepat sambil menawarkan manisan jambu yang sudah aku buka pada Yusita.


Yusita lalu mengambil satu potong, dan memakannya. Kami cukup lama berada di kantin, karena istirahat berlangsung empat puluh lima menit. Baru setelah lima menit lagi harus masuk kelas. Kami baru berdiri dari kursi, tapi selama lebih dari 15 menit kami berada di kantin, Dewi benar-benar belum kembali dari toilet. Nina jadi cemas.


"Ini si Dewi kemana sih? dia buang air apa buang sial? lama bener!" keluh Nina.


Aku mengangkat bahu ku sekilas.


"Ya sudahlah, siapa tahu toiletnya rame atau mungkin memang dia sedang tidak enak perut!" jelas Yusita dan aku hanya menganggukan kepalaku pertanda kalau aku setuju dengan pendapat dari Yusita.


Kami lalu berpisah di koridor menuju ke kelasku, aku berjalan ke arah kelas dan berpapasan dengan Kak Yoga di koridor yang cukup sepi.


"Kak Yoga!" panggil ku karena memang aku yang lebih dulu melihatnya.

__ADS_1


Tapi ternyata kak Yoga tidak sendirian, ada Bu Tari di sebelahnya, Bu tari bahkan tersenyum saat melihatku dan menyapa aku.


"Rasti, kamu belum masuk kelas?" tanya Bu tari ramah.


Aku yang awalnya sangat terkejut dengan cepat langsung dengan cepat mengubah ekspresi wajahku menjadi biasa saja.


"Ini juga mau ke kelas Bu, kelas nya kan di sana!" jawab kepada Bu Tari sambil menunjuk ke arah kelas yang berada di ujung sana di belakang Bu Tari.


Bu Tari pun segera melihat kearah jari telunjukku.


"Oh iya, ibu lupa kan kalian di mix ya!" serunya.


'Di mix, emang adonan di mix?' tanya ku dalam hati. Aku merasa kalau penggunaan bahasa yang dipakai oleh Bu Tari ini terdengar sangat aneh di telingaku.


"Iya, ya sudah. Rasti duluan, permisi pak Yoga, Bu Tari!" ucap ku lalu dengan cepat berlari menuju kelas.


Aku kembali ke dalam kelas, meraih kotak pensil dari dalam tas, lalu meletakkan tasku di depan kelas seperti biasanya. Setelah itu aku pun kembali duduk di bangku ku. Guru pengawas sudah masuk ke dalam kelas karena bel telah berbunyi, dan kami pun mulai ujian selanjutnya.


Beberapa waktu berlalu, tidak seperti ujian yang pertama tadi yang dengan mudah aku bisa mengerjakan ya. Ujian kali ini sulit, dan aku memang lemah pada pelajaran Agama. Mungkin karena selama ini aku lebih banyak nakalnya daripada nurutnya.


Tanpa terasa waktu sembilan puluh menit telah berlalu, padahal perasaanku seperti baru setengah jam, tapi ya sudahlah. Kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti, itulah yang ada di pikiran ku.


Saat David akan keluar dari kelas aku ingat harus memberitahukannya tentang sesuatu.


"David!" panggil ku dan pemuda itu pun langsung berhenti lalu berbalik menoleh ke arahku.


"Kenapa Ras, mau pulang bareng. Kita kan beda arah, mana jauh banget lagi!" ucapnya sudah menduga-duga apa yang akan aku katakan.


"Bukan, kita disuruh kumpul di kelas kita sama Bu Davina. Ada yang mau beli aku umumin ke kita semua!" jelas kepada David yang kurasa penjelasanku itu cukup singkat padat dan jelas.

__ADS_1


David mengernyitkan dahi nya.


"Apaan?" tanya David.


Aku mengangkat bahu ku sekilas.


"Gue juga belum tahu, mendingan kita ke kelas aja yuk!" ajak ku pada David.


Kami berdua aku dan David akhirnya berjalan melewati koridor menuju ke kelas kami kelas 11 IPS II, dan ternyata anak-anak kelas 11 IPS II memang sudah banyak yang berkerumun di depan kelas. Karena guru pengawas lain sedang merapikan lembar soal dan lembar jawaban ujian di kelas itu.


Kami menunggu diluar, aku segera menghampiri Dewi, Yusita dan Nina yang juga sudah berdiri di depan pintu.


"Eh, udah pada disini?" tanya ku pada ketiga teman ku itu.


"Iya, eh Rasti. Lu tadi dicariin sama Pak Yoga!" kata Dewi.


"Kenapa?" tanyaku bingung.


"Lu bilang hape lu ilang kan, nah tadi kata Pak Yoga dia tuh nemuin Hape lu, dia tadi nyuruh kita semua kalau ketemu sama lu suruh bilangin ke lu kalau lu harus ke ruangan Pak Yoga sekarang, tapi gua bilang Bu Davina mau ngasih pengumuman makanya dia ngumpulin kita semua disini, jadi dia bilang setelah dengerin apa pengumuman yang bakalan disampein sama Bu Davina...!" jelas Nina yang aku rasa malah sangat tidak jelas.


"Lu ngomong apaan sih Nin?" tanya Dewi menyela ucapan Nina yang kurasa juga memang terlalu panjang lebar, tapi tidak bisa ku mengerti.


"Intinya, selesai urusan di sini lu disuruh nyamperin Pak yoga di ruangan nya buat ngambil Hape lu yang udah dia temuin!" jelas Yusita dan aku langsung menganggukan kepalaku paham.


Memang berbeda ya, walaupun sebenarnya tujuannya ke arah yang sama naik taksi dan berjalan kaki memang berbeda, itu istilah untuk mengibaratkan, tentang cara penyampaian Nina dan juga cara penyampaian Yusita.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2