Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Di Hukum Gara-gara David


__ADS_3

Seperti biasanya juga, aku sedang mengerjakan soal ujian kali ini mata pelajarannya adalah Sejarah. Dari semua soal yang aku kerjakan sebenarnya aku tidak yakin 100% tapi setidaknya aku lebih merasa percaya diri setelah mendapatkan contoh-contoh soal yang diberikan oleh kak Yoga.


Selama satu minggu penuh dia selalu memberikan ku contoh soal dan mengirimkannya lewat kak Tirta. Sehingga Kak Tirta yang awalnya sedikit tidak menyukai Kak Yoga karena masalah dengan ibunya dan Sofie waktu itu sekarang sedikit demi sedikit mulai respek kepada pacarku uang dewasa itu.


Karena bukan hanya baik tapi kayak gue juga mau membantuku untuk mencuri murid yang lebih baik lagi setidaknya bukan peringkat nomor 2 paling akhir lagi.


Kondisi ruang kelas juga sangat kondusif karena setelah dihukum waktu itu, kelompok Friska dan teman-temannya tidak lagi melakukan perbuatan yang dilarang seperti mencontek membuat keributan dan semacamnya.


Aku juga bisa bernafas lega beberapa hari ini karena mereka sudah tak lagi menggangguku, biasanya mereka akan berdiri di depan pintu kemudian menghadangku saat aku ingin masuk ke dalam kelas. Tapi hari ini tidak seperti itu mereka bahkan berpura-pura tidak melihatku, dan menurutku itu sangat bagus.


Hanya saja yang masih mengganggu pikiranku adalah sikap Marco tadi. Padahal kemarin dia masih baik-baik saja dan ketika aku menolaknya dia bahkan meninggalkanku sambil tersenyum, tapi kenapa pagi ini mendadak berubah seperti itu ya, aku masih penasaran dan aku memutuskan untuk mencari tahu nya tapi nanti setelah aku selesai ujian.


Tanpa terasa waktu sudah 90 menit berlalu. Dan guru pengawas pun meminta kami untuk keluar dari kelas dan meninggalkan lembar soal serta lembaran jawaban kami diatas meja seperti biasanya.


Aku juga langsung meraih tasku dari depan kelas, dan berjalan keluar.


"Hai istriku!" seru seseorang yang suaranya sangat aku kenal suara itu milik David.


Aku langsung menoleh dan mengerjakan dahiku ketika dia tersenyum senyum sendiri sambil melihat ke arahku.


"Lu sehat?" tanyaku heran. Masalahnya dia terlihat seperti orang yang tidak waras karena senyum-senyum sendiri dan senyumnya itu aneh.


"Sehat dong, lihat ni!" dia menjawab sambil menunjukkan otot lengannya yang sebelumnya dia sudah menggunung bajunya tapi memperlihatkannya kepada aku.


"Iyuh, lu kenapa? salah makan sarapan. Makanya kalau beli nasi goreng itu yang dimakan nasinya jangan karet gelangnya!" ucapku membuat sebuah perumpamaan pada kondisi David saat ini.


"Jiah, masih waras sekali gue masih iya gua makan karet gelang nya. Yang ada gua makan kertas nasinya ha ha ha!" dia malah berkelakar.

__ADS_1


"Terus ngapain lu cengar-cengir?" tanyaku jujur saja aku merasa aneh dan merasa tidak nyaman kalau David tiba-tiba cengar-cengir seperti itu di depanku.


"Loh, emangnya kenapa wajar dong gue cengar-cengir depan istri gue sendiri!" jawabnya dan aku nyaris membelalakan mataku sampai hampir copot mendengar apa yang dikatakan.


"Ngomong apa lu, ngomong sama tembok!" ucapku kesal sungguh aku sangat kesal setengah mati mendengar dia memanggilku seperti itu.


"Emang benar kan, kita kan jadi suami istri di drama musikal, ada yang salah?" tandanya seolah-olah dia ini anak SD yang tidak tahu apa-apa.


Aku sampai menepuk jidatku sendiri karena ulahnya ini.


"Hello, David. Itu sih di drama musikal bukan di kehidupan nyata. Lu bisa bedain enggak dunia halu-halu sama dunia real alias dunia nyata dunia yang lu tapak, dunia yang kalau lu cubit tangan lu itu rasanya sakit!" aku menjelaskan kepada David.


Tapi bukannya mengerti dia malah menggaruk-garuk kepalanya yang aku rasa tidak gatal.


"Elah Ras! kan biar chemistry-nya dapat gitu makanya gua praktekin sekarang sama lu. Biar nanti di drama musikal gitu kita kesannya real banget gitu loh kita tuh penjiwaan yang bisa dapat banget sampai-sampai penonton yang nonton kita itu bisa terhanyut dan gerak itu pasangan yang saling mencintai, suami istri beneran gitu! biar sukses nih drama musikal!" ucapnya yang hanya dua kali mengambil nafas padahal apa yang dikatakannya itu cukup panjang dan lebar.


"Pretttt! dah ah gue mau ke kantin. Butuh yang seger-seger gue abis ngomong bertele-tele kagak karuan sama lu!" gumam ku lalu berjalan meninggalkan kan David.


"Eh istriku, gue ikut dong!" ucapnya lalu mengikuti langkah ku.


Aku segera berbalik ketika mendengarkan David bicara seperti itu lagi. Aku mengangkat satu tanganku ke atas dan tepat didepan wajahnya aku mengepalkan tanganku yang aku angkat itu.


"Gue bogem lu ya, panggil gue istri lagi!" ucapku menggertak David.


Tapi pemuda di hadapanku itu bukannya mengeluarkan ekspresi takut atau semacamnya dia malah terkekeh.


"Bogem aja istriku, jangankan bogeman tendangan, cakaran akan suamimu ini terima dengan senang hati dan lapang dada karena suamimu ini tahu lu ngelakuin itu semua dengan cinta!" ucapnya dengan diplomatis.

__ADS_1


Aku makin geram, aku sampai hampir saja benar-benar mendaratkan bogeman dari tanganku ke arah wajahnya. Tapi aku memilih untuk tidak melakukannya dengan berlari dengan cepat meninggalkan orang yang sudah mendadak tidak waras itu.


Aku berlari sambil sesekali berbalik ke belakang aku sih berharap kalau dia sudah tidak ada lagi di belakang. Tapi tiba-tiba..


Brukk


Karena aku fokus berlari sambil menoleh kebelakang akhirnya aku menabrak sesuatu lebih tepatnya seseorang.


"Aduh, maaf maaf ya... Pak sabar!" gumam ku lirih.


Habislah aku ternyata yang aku tabrak itu adalah guru kimia yaitu pak sabar. Yang kami semua satu sekolah sudah tahu kalau memang dia itu tidak seperti namanya, namanya memang pak Sabar tapi dia tidak sabar sama sekali dia itu termasuk salah satu guru yang mempunyai sifat temperamen yang tinggi apalagi kalau ada murid yang membuat kesalahan, dan sepertinya aku telah melakukan kesalahan besar karena sudah menabraknya tanpa sengaja.


Aku segera bangun karena tadi aku juga terjatuh di lantai begitu juga dengan Pak sabar. Aku langsung membungkukkan badanku membentuk siku dan meminta maaf kepada Pak sabar.


"Maaf pak, maaf saya benar-benar tidak sengaja saya mohon maaf Pak!" ucapku dengan wajah memelas dan suara yang sangat pelan.


Aku yakin aku tidak akan selamat dari hukuman tapi meskipun begitu memang akulah yang salah, jadi sudah sewajarnya kalau aku memang harus minta maaf.


"Bagus ya! kamu pikirin di lapangan. Kamu pikir sekarang sedang pelajaran olahraga makanya kamu lari-lari. Ini sekolah Rasti! punya aturan...." pak Sabar sudah mulai menceramahiku.


Aku hanya diam saja karena aku sadar kalau aku memang salah.


"Kamu suka lari-lari kan, kamu suka olahraga? baiklah, bapak akan membantumu supaya kamu bisa olahraga. Sekarang bersihkan toilet, setengah jam lagi bapak cek, kalau tidak bersih hukuman bapak tambah. Mengerti!" ucap pak Sabar dan membuatku menghela nafas berat


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2