Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Perubahan Sikap Yoga


__ADS_3

Setelah berdebat masalah warna apa yang akan kami pakai untuk kliping kami, akhirnya warna biru lah yang menjadi jalan tengahnya. Karena waktu yang kami miliki sudah tidak banyak sebelum bel masuk berbunyi maka kami memutuskan untuk menghentikan perdebatan dan mulai menyelesaikan apa yang menjadi tujuan kami ke tempat ini.


"Kalian ngapain, belum masuk kelas?" tanya Pak Tatang. OB yang sepertinya akan membersihkan ruangan ini.


"Lagi bikin kliping pak, belom pak kan bel masuk juga belum bunyi pak!" jawab Marco dengan cepat, padahal aku juga tadi hampir membuka mulut ku untuk menjawab pertanyaan pak Tatang.


Marco ini memang cepat tanggap sekali, wajar saja tiap ada lomba cepat tepat, dia, Yusita dan Dodo selalu jadi kandidat yang akan mewakili kelas kami.


"Sudah bunyi bel nya, beberapa menit yang lalu!" jelas Pak Tatang.


"Yang benar pak?" tanya ku tak percaya sampai-sampai aku menjatuhkan gunting besar di hadapan ku.


"Augh!" pekik ku karena gunting itu malah jatuh di kaki ku.


Marco langsung menghentikan apa yang dia kerjakan dan melihat kaki ku.


"Gak papa Ras?" tanya Marco yang menurut penglihatan ku seperti nya dia panik.


Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku.


"Gak papa! buruan ini dah kelar kan!" ucap ku sambil membereskan peralatan yang tadi kami gunakan.


"Makasih pak Tatang, permisi!" ucap Marco sebelum menarik ku keluar dari ruang fotocopy.


"Ih, gak usah tarik-tarik tangan gue!" protes ku sambil menghentakkan tangan ku dengan kuat agar terlepas dari genggaman Marco.


"Sorry, sorry abisnya lu lama!" elaknya beralasan.


"Akal bulus lu, buruan ayo!" ketus ku sambil berlari mendahului Marco.


Jam pelajaran pertama hari ini adalah pelajaran PPKN, dan pak Yoga sudah berada di dalam kelas saat aku akan masuk ke dalam kelas.


'Untung pak Yoga, dia gak bakal hukum gue karena gue telat kan?' tanya ku dalam hati.


Aku sih yakin gak bakalan kena hukum, dia kan pacar ku, dia sangat menyayangiku, dia pasti tidak akan tega memberikan hukuman padaku.


Aku mengetuk pintu kelas dan menghampiri pak Yoga perlahan.


"Maaf pak saya telat, tadi itu saya ke perpustakaan dan gak denger bel masuk ternyata sudah berbu...!"


"Duduk, setelah jam pelajaran saya dan pelajaran kedua, kamu ke ruangan guru. Salin satu bab, pelajaran saya!" tegas pak Yoga membuat ku melebarkan mataku.


"Sa... satu bab pak?" tanya ku memastikan.


'Ini kenapa pak Yoga malah ngasih hukuman nyalon satu bab begini, dia kesel apa giman sih?' tanya ku tak percaya kalau pak Yoga malah menghukum ku.

__ADS_1


"Iya kalau kamu protes maka akan jadi dua bab!" tegasnya.


Aku langsung mengangguk cepat.


"Baik pak!" ucap ku lalu segera berjalan dengan cepat menuju ke kursi ku.


"Eh, emang lu darimana? perasaan waktu gue turun dari angkot, gue lihat lu udah dateng dari pagi sama kak Tirta!" tanya Dewi padaku.


Aku masih malas untuk menjawab tapi Nina tiba-tiba menoleh ke belakang.


"Elah, Wi. Kan tadi gue udah bilang dia mojok tuh sama Marco!" celetuk Nina.


"Seriusan, lu beneran jadian sama Marco?" tanya Dewi penasaran.


Aku memelototkan mataku pada Nina.


"Gak usah gosip lu ya! gak ada, gak bener tuh!" tegas ku.


"Elah, bo'ong dia!" ucap Nina lagi.


"Itu yang di belakang kalau masih mau ngobrol, silahkan keluar!" bentak pak Yoga.


Aku sampai terkesiap, sebenarnya apa yang telah terjadi sampai pak Yoga sepertinya begitu marah padaku.


Tok tok tok


"Darimana kamu?" tanya pak Yoga dengan tegas.


"Dari toilet pak!" jawab Marco


"Ya sudah, duduk! lain kali jangan terlambat lagi!" ucap pak Yoga santai.


Dia lalu kembali menerangkan pelajaran nya. Nina kembali berbalik.


"Tuh kan kalian sama-sama telat, abis mojok dimana pagi-pagi gini?" tanya Nina dengan raut wajah mengejek ku.


"Gue tampol lu ya, kagak ada gue mojok!" bantah ku.


"Rasti!" panggil pak Yoga.


"Kamu bisa tenang tidak, kalau kamu masih mau bicara. Silahkan kamu yang berdiri di depan dan menjelaskan, saya yang akan diam dan mendengarkan dari tempat duduk kamu itu!" seru pak Yoga.


Dan karena apa yang telah di katakan oleh pak Yoga itu, semua mata siswa-siswi yang ada di dalam kelas ini semuanya melihat ke arahku, semua mata tertuju padaku.


"Ma... maaf pak. Saya akan diam!" ucap ku gugup sambil menundukkan kepala ku.

__ADS_1


Setelah aku mengatakan itu, pak Yoga kembali menerangkan pelajaran.


'Ini kenapa sih? gak biasa nya kak Yoga katakan gitu!' batin ku gelisah.


Beberapa jam kemudian, pelajaran pertama selesai. Setelah memberi salam pak Yoga sama sekali tidak menoleh ke arah ku, padahal biasanya dia selalu tersenyum padaku sebelum keluar dari dalam kelas. Tapi ini sama sekali tidak. Dan juga selama pelajaran berlangsung tadi, dia sama sekali tidak berjalan ke arah mejaku, padahal biasanya dia akan memastikan apakah aku bisa menerima pelajaran, materi pelajaran nya dengan baik, mengerti atau belum. Dia pasti bertanya, dan tadi juga ada sesi tanya jawab. Meski aku tak pernah menjawab dengan benar, biasanya dia juga selalu menanyakan pendapat ku.Tapi tadi dia benar-benar seperti tak ingin bicara padaku.


Prok prok prok


Lamunan ku terhenti karena suara tepukan tangan seseorang. Dan itu adalah suara tepukan tangan dari David. Aku dan semua orang di dalam kelas ini lalu melihat ke arahnya yang tengah berdiri di depan kelas.


"Weh, kita musti minta peje jadian nih! traktir kita semua di kantin nih, ada yang baru jadian loh teman-teman!" ujarnya.


Aku ikut mendengarkan, aku juga penasaran siapa di kelas ini yah sudah jadian.


Aku juga mendengar beberapa siswa lain berbicara satu sama lain, sepertinya sama penasaran nya dengan ku.


"Eh, siapa yang jadian?" tanya Yusita yang sudah berdiri dan memegang bahuku dari samping.


Aku hanya menggeleng kan kepala ku, karena aku tidak tahu.


"Siapa yang jadian?" tanya Dodo terlihat penasaran.


"Siapa lagi, ketua kelas kita bro, Marco udah jadian sama Rasti!" seru David.


Aku langsung melongo, ketika teman-teman yang lain menatap ke arah ku dan memberikan selamat.


"Eh, kalian salah paham! gak ada...!" aku masih berusaha menjelaskan ketika semua orang malah bicara sembarangan.


Ada yang memberi selamat, ada yang begitu senang. Dan ada juga yang minta di traktir makan di kantin.


"Bentar kalian tuh salah, ni pasti dari Nina kan?" tanya ku pada David.


"Siapa bilang, orang Marco yang bilang ke gue. Semalem dia ngapel kan ke rumah lu?" tanya David padaku.


Aku langsung menatap tajam ke arah Marco. Tapi saat aku akan menghampiri nya, Bu Risky guru matematika sudah masuk ke dalam kelas.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa nya.


"Selamat pagi Bu!" ucap kami serempak.


Aku masih melihat ke arah Marco yang juga melihat ku sekilas.


'Apa maksud Marco sebenarnya?' tanya ku dalam hati.


Apakah karena ini, sikap pak Yoga berubah padaku. Apa yang ada di pikiran Marco? kenapa dia menyebarkan berita tidak benar seperti itu? Ada apa sebenarnya dengan Marco?

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2