
Kak Tirta sudah datang menjemput ku, sementara Yusita supirnya belum datang.
"Gak papa, duluan aja Rasti, kak Tirta. Bentar lagi pak Supir juga pasti bakalan dateng!" ucap Yusita.
Tapi kak Tirta malah melepas helmnya dan turun dari motornya.
"Gimana kalau tunggu sampai supirnya Yusita datang Ras?" tanya Kak Tirta padaku.
Aku langsung mengangguk kan kepala ku dengan cepat. Tentu saja aku setuju. Tadinya juga aku mau bilang begitu, hanya tidak enak saja pada kak Tirta, dia sudah menjemput ku dari rumah dan masih aku minta untuk menunggu lagi. Tapi karena dia sudah bicara seperti itu maka aku juga bisa tenang berada disini menunggu supir dari Yusita datang menjemputnya.
Saat aku sedang mengobrol bersama dengan Yusita, tiba-tiba saja ponselku berdering. Dan saat aku melihat ke layar ponsel ternyata nama pemanggil yang tertera di sana adalah 'Someone' aku meminta izin kepada kakak cerita untuk menjauh dari mereka sedikit untuk menerima telepon.
"Kak, bentar ya. Mau angkat telepon!" ucapku sambil memberikan isyarat mata kepada Kak Tirta. Agar dia tahu kalau aku tidak bisa mengatakan siapa tuh manggilnya karena di sini ada Yusita.
Kak Tirta pun mengangguk, aku berjalan menjauh dari mereka kira-kira di dekat halte bus. Kak Tirta juga kelihatan mendekati Yusita dan sepertinya ingin mengobrol dengannya.
"Halo!" ucap ku mengawali perbincangan ku dengan Kak Yoga di telepon.
"Halo Rasti, bagaimana latihan dramanya apakah semuanya lancar?" tanya kak Yoga terdengar begitu peduli pada latihan drama musikal ku.
"Semua berjalan lancar kak, aku dan Davi sudah sama-sama menemukan dan mendapatkan chemistry kami. Tadi Bu Davina bahkan memuji akting kami, meski baru pertama kali latihan tapi kami tidak salah satu katapun dalam mengucapkan naskah kami!" ucap ku menceritakan apa yang terjadi di ruang kesenian tadi.
Aku sebenarnya sedikit berharap mendapatkan pujian dari pacaran dewasa aku itu.
"Oh begitu, baguslah. Aku juga jadi tidak sabar untuk menyaksikan pementasan mu nanti!" ucap kak Yoga.
"Tapi kak, sebenarnya ada sedikit masalah!"
"Ada apa?" tanya kak Yoga sebelum aku bisa menyelesaikan apa yang ingin aku katakan.
__ADS_1
Dia terdengar cemas, bukannya tidak senang sih merasa dikawatirkan seperti ini tetapi kalau khawatir yang berlebihan kan juga tidak enak.
"Woho bukan hal besar kak, aku ceritakan dulu ya. Tadi pas latihan peran itu Yusita dengan Marco berulang kali melakukan kesalahan dalam membaca naskah, ternyata mereka memang sama-sama tidak srek dengan peran yang mereka perankan. Dan Yusita meminta untuk bertukar peran denganku!" ucap ku meski aku mengatakan kalimat yang panjang dan lebar aku mengatakannya dengan pelan dan tidak terburu-buru.
"Begitu ya, tapi bukankah kamu dengan David sudah menemukan chemistry kalian. Lalu jika kamu bertukar peran dengan Yusita apakah tidak merepotkan?" tanya kak Yoga.
Aku bahkan berfikir tadinya kak Yoga akan langsung menolaknya. Tapi ternyata dia bertanya seperti itu. Terdengar dia memang menghargai apapun keputusan ku.
"Jika kak Yoga mengijinkan maka aku akan membantu Yusita, dia benar-benar tidak seperti biasanya. Sepertinya ada beban berat di bahunya saat memerankan peran itu Kak!" jelas ku lagi pada kak Yoga.
"Baiklah, kalau menurutmu memang itu yang terbaik aku hanya bisa mendukungmu. Ingat, kalau itu hanyalah peran ya!" ucapnya seolah mengingatkan aku agar tidak terbawa peran itu ke dunia nyata.
Sebenarnya tanpa harus mengatakan kalimat seperti itu, aku juga masih bisa membedakan mana peran dan mana realita yang ada. Lagipula di zaman sekarang ini seperti ini, mana mungkin masih ada kisah tentang Romeo dan Juliet.
Memang kesan saat sepasang laki-laki dan perempuan memutuskan untuk berpacaran maka mereka berkomitmen untuk rela mengorbankan apapun bahkan nama mereka sendiri. Tapi pada kenyataannya tidak seperti itu, cinta kepada orang yang mungkin saja akan menjadi mantan kalau sesuatu yang buruk terjadi di tentu saja tidak lebih berharga daripada nyawa sendiri bukan.
"Sekarang kamu dimana? sudah pulang atau belum? mau aku jemput?" tanya kak Yoga kemudian.
"Tidak usah kak, aku di jemput oleh kak Tirta. Sebenarnya dia sudah ada di sini dan kami harusnya sudah bisa pulang tetapi supir Yusita belum datang, kak Tirta dan aku sedang menemani Yusita menunggu supir nya datang menjemput Yusita!" jawab ku panjang lebar.
"Baiklah, kamu hati-hati ya. Sepertinya aku kedatangan tamu...!"
"Iya kak, suara ketukan pintunya sampai terdengar!" ucapku yang juga merasa heran siapa yang datang bertamu di rumah Kak Yoga kenapa dia mengetuk pintu dengan kuat seperti itu sampai aku yang berada di seberang pun bisa mendengarkan suara ketukan pintu itu.
"Sampai jumpa besok sayang!"
"Sampai jumpa besok? kan besok hari Minggu Kak aku tidak akan ke sekolah!" ucap ku.
"Oh iya, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?" tanya kak Yoga.
__ADS_1
Tapi sebelum aku menjawab pertanyaan dari kayu-kayu itu suara ketukan yang berulang dan sangat kencang membuat telinga ku juga terganggu.
"Iya, nanti Kak Yoga bisa menelpon ku lagi. Sepertinya tamu mu itu tak sabar bicara padamu kak!" ucap ku.
"Baiklah, sampai jumpa Rasti, i love u!" ucap kak Yoga.
Dan setelah mendengarkan apa yang diucapkan itu sebenarnya aku merasa pipiku memanas dan aku yakin sekarang pipiku sudah memerah.
"Em, iya aku juga. Tapi aku tidak bisa mengatakannya karena di sini ada Yusita! bye..!" dan aku langsung memutuskan panggilan telepon dari Kak Yoga nggak ada menyimpan kembali ponselku di dalam tas.
Sebelum berjalan mendekati kak Tirta dan Yusita aku menghela nafasku terlebih dahulu dan memastikan kalau mukaku sudah tidak merah lagi.
Aku perlahan mendekati kak Tirta dan juga Yusita yang sepertinya sedang membicarakan sebuah hal yang cukup lucu. Karena Yusita yang jarang tertawa dengan teman-teman lain selain aku, Nina dan Dewi begitu tertawa lepas saat bicara dengan kak Tirta.
Aku sengaja memperlambat langkahku dan membiarkan mereka lebih lama lagi mengobrol berdua. Tapi sayang, Meskipun aku memperlambat langkah ternyata sopir yang mengemudikan mobil milik Yusita sudah datang dan berhenti tepat di depan Yusita dan Kak Tirta.
"Em kak Tirta, Rasti terimakasih banyak ya sudah menemaniku sampai supirnya datang!" ucapnya.
Aku mengangguk dan kak Tirta pun sama, dia juga menganggukkan kepalanya dan kami melambaikan tangan bersama ke arah Yusita sampai mobilnya melaju meninggalkan area sekolah ini.
"Ayo kita juga pulang!" ajak kak Tirta dan memberikan helm volkadot padaku.
Aku meraih alam itu kemudian memakainya dan langsung naik ke boncengan motor Kak Tirta.
"Let's go!" seruku.
Dan kami pun, meninggalkan area sekolah menuju ke rumah.
***
__ADS_1
Bersambung...