Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Mengakui Sebagai Pacar.


__ADS_3

Deg... deg... deg...


Jantung ku berdegup sangat kencang, mata pak Yoga tak beralih dariku. Membuat ku memeriksa pakaian ku dari leher sampai lutut.


'Tidak ada yang aneh!' batin ku.


Aku melihat tangan kanan pak Yoga yang terangkat dari tempatnya semula di samping tubuhnya dan mengarah ke wajah ku. Benar, tangan nya mengarah ke wajah ku. Menyentuh pipi ku dengan lembut.


Deg... deg... deg...


Jantung ku makin kencang lagi berdetak.


"Kamu cantik!" ucap nya lembut sambil tersenyum.


Aku membulatkan mataku, apalagi ketika dia maju dua langkah, dan membuatnya berada sangat dekat dengan ku. Nyaris tidak ada jarak, mungkin hanya 5 centimeter saja jaraknya dengan ku. Tangannya masih belum beralih dari pipiku, dia membelai nya dengan lembut. Tangan pak Yoga terasa hangat dan lembut.


Cup!


Aku membulatkan mataku dengan sempurna, kedua tangan ku ku angkat menutup mulut ku yang menganga.


Pak Yoga mencium kening ku.


'Oh Tuhan, beritahu aku ini hanya mimpi. Ini pasti hanya mimpi!' teriak ku dalam hati.


Pertama kalinya ada pria yang mencium kening ku selain ayah, ini kali pertama ada lelaki yang menyentuh pipi ku selain ayah.


"Pak Yoga!" lirih ku.


Dia malah seperti tersentak, lalu menarik tangan nya dengan cepat. Dia terlihat menyesali apa yang baru saja dia lakukan.


"Rasti, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud kurang ajar sama kamu, saya..."


Dia menghentikan ucapannya ketika melihat ku mulai berkaca-kaca.


"Saya mau pulang!" ucap ku merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Aku sudah tak mampu membendung tangis ku lagi, aku menangis karena sekarang aku yakin kalau aku benar-benar menyukai nya, aku menyukai pak Yoga. Aku menyukai seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi suami orang.


Aku berjalan dengan cepat meraih ransel ku dan hendak keluar. Tapi pak Yoga menahan ku, dia menggenggam pergelangan tangan ku.


"Rasti, di luar masih hujan. Saya mohon kamu jangan keluar rumah dalam keadaan seperti ini. Saya minta maaf Rasti, saya terbawa suasana, saya..."


Aku memeluk pak Yoga, membuatnya tak bisa meneruskan apa yang ingin dia katakan.


"Kenapa pak? kenapa kita baru bertemu sekarang?" tanya ku sambil terisak.


Aku menumpahkannya semua perasaan ku di pelukan pak yoga. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, tapi aku benar-benar dalam keadaan yang bingung sekarang. Aku merasa aku benar-benar menyukai pria yang sekarang sedang memeluk ku saat ini.


Yoga Adrian POV


Aku membaringkan tubuh Rasti di atas tempat tidur ku. Aku telah melakukan sesuatu yang salah pada Rasti, pada murid ku ini. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaan ku tadi. Aku yakin kalau aku benar-benar menyukai nya.


Aku tidak mengerti kenapa dia malah memelukku dan menangis. Aku mengira dia akan menampar ku dan marah. Dan yang lebih membuatku terkejut lagi, dia mengatakan kalimat itu.


"Kenapa pak? kenapa kita baru bertemu sekarang?" itu yang dia katakan tadi.


Aku makin merasa jika Rasti ini sebenarnya hatinya sangat rapuh dan pernah terluka. Dia mengatakan kalau dia tidak punya pacar, bahkan tidak pernah punya pacar. Aku merasa dia mungkin takut untuk menjalin sebuah hubungan, lalu bagaimana aku harus mengatakan perasaan ku padanya.


Aku pergi ke dapur ketika Rasti tengah terlelap tidur. Aku akan menyiapkan makan siang untuk nya, atau mungkin lebih tepatnya makan sore. Karena sekarang sudah jam tiga sore, dan aku tidak tahu kapan dia kan bangun. Aku Memasak saus pasta instan, aku tinggal menambah kan bawang Bombay dan irisan sosis lebih banyak ke dalamnya. Setelah itu, aku mengeringkan baju seragam milik Rasti, aku tidak berani menyentuh yang lain, benar-benar hanya baju seragamnya saja, kemeja putih lengan pendek dan rok berwarna abu-abu.


Aku kembali ke dalam kamar, sekarang sudah jam 4 lebih tiga puluh menit. Aku duduk di tepi tempat tidur, memandang wajah Rasti yang masih terlelap. Hidung nya terlihat merah, karena dia tadi menangis cukup lama.


Beberapa lama aku menemani Rasti, ponsel ku berdering dan aku beranjak keluar menerima panggilan dari Yoseph, kakak ku.


"Iya kak!" sapa ku.


"Yoga, kamu sudah pulang mengajar kan? aku minta tolong padamu, bisakah kamu jemput Sofi di sebuah kafe dekat rumah mu, dia tidak bawa mobil. Dan dia bilang sedang hujan, aku berada di kantor dan...!"


"Kakak maaf, tapi aku sedang bersama gadis ku di rumah. Dia sedang tidur, aku tidak bisa meninggalkan nya!" ucap ku menyela ucapan kakak ku.


Aku tahu, Sofi sengaja melakukan ini. Wanita serakah itu benar-benar tidak tulus mencintai kakak ku. Tapi dengan mengatakan jika aku sedang menemani pacar ku di rumah, aku harap kakak ku tidak memaksaku menuruti keinginan calon istrinya yang juga adalah mantan kekasih ku itu.

__ADS_1


"Gadis mu?" tanya nya begitu takjub.


"Iya, jadi maafkan aku. Sebaiknya kamu suruh saja calon istri mu itu memesan taksi online!" ucap ku memberi saran pada kakak ku.


"Kamu jangan beralasan Yoga, ayolah bantu aku. Kamu tahu kan kalau aku tidak menuruti keinginan Sofi, dia kan marah dan merajuk. Aku akan sedih jika itu terjadi!" seru kakak ku yang mengira jika aku sedang berbohong.


"Oke, tunggu sebentar!" ucap ku.


Aku mengganti panggilan telepon dengan panggilan video. Aku masuk ke dalam kamar dan menunjukkan Rasti yang sedang tertidur lelap pada Yoseph.


"Lihat kak! apa kamu sudah percaya?" tanya ku pada Yoseph.


Dia malah terlihat sangat senang.


"Akhirnya Yoga, akhirnya kamu punya pacar. Siapa namanya, dia memakai pakaian mu ya, apa kalian sudah melakukan itu, kamu harus mengenalkannya padaku...!"


"Kakak stop! namanya Rasti. Hanya itu yang bisa ku katakan untuk sekarang, dia masih sekolah, dia tidak ingin ada yang tahu tentang hubungan kami. Aku harap kakak mengerti!" jelas ku pada Yoseph.


Aku melihat dia tertawa senang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Yes man, aku paham. Aku akan menjaga rahasia ini antara kita saja. Bolehkah aku beritahu pada Sofi?" tanya nya.


"Tidak kak, tapi boleh pada ibu!" seru ku menjawab pertanyaan nya dengan tegas.


"Baiklah, aku tutup dulu. Aku akan menghubungi Sofi dan mengatakan kamu sedang tidak di rumah!" seru Yoseph lalu memutuskan panggilan telepon.


Setelah meletakkan ponsel ku di atas meja. Aku kembali memandang Rasti. Aku mengelus kepala nya perlahan.


"Maafkan aku karena telah lancang mengakui mu sebagai pacar ku!" gumam ku pelan.


Yoga Adrian POV end


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2