Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Alasan Sebenarnya


__ADS_3

'Huh, tuh kan dia duluan. Udah deh, gak ada harapan gue bakal satu kelompok bareng Yusita!' aku membatin.


Kenyataannya memang akan seperti itu, Marco tidak pernah membiarkan aku, Dewi, Yusita dan Nina berada dalam satu kelompok. Jika dia yang membagikan kelompok dalam kelas ini, dia pasti akan mencerai beraikan kami, entah apa tujuannya tapi itu memang selalu dia lakukan.


'Semoga aja dia salah jawab!' batin ku lagi sambil terkikik geli.


Karena yang aku batin itu tak mungkin terjadi, dia kan salah satu Tri Murti kelas ini. Dia pasti tak akan menjawab pertanyaan dari guru kalau dia tidak yakin, bisa turun kan pamor nya.


"Empat jenis Proposal, satu proposal penelitian, dua proposal kegiatan, tiga proposal bisnis dan yang keempat proposal proyek, sekian dan terimakasih Bu!" ucap Marco begitu yakin dan di akhiri dengan kata yang menurut ku sangat narsis.


Aku mendecakkan lidahku dan menyandarkan punggung ku di sandaran kursi.


'Ah, sudahlah!' batin ku lagi


"Jawaban yang bagus Marco, singkat, padat, dan jelas. Baiklah silahkan tentukan kelompok untuk teman-teman kamu. Satu kelompok terdiri atas dua orang, dan kamu juga bisa menentukan proposal apa yang akan mereka buat dari keempat jenis proposal yang ada!" seru Bu Tari masih sambil memegang mistar kayu panjang di tangannya.


Aku menoleh ke belakang, ke arah Yusita. Dan dia hanya mengangkat alisnya sambil berkata dengan suara pelan.


"Sudah, terima nasib saja!"


Aku langsung berbalik lagi ke depan, aku melihat ke arah Dewi yang masih sibuk berdoa dan melipat kedua tangannya di depan dada sambil memejamkan mata. Aku sampai terkekeh di buatnya.


Ketua kelas kami yang tampan dan pintar juga rupawan itu sedang membagi kelompok, yang tidak aku inginkan hanya satu kelompok dengan David atau dengan dirinya. Dia itu sukanya hanya memerintah, mentang-mentang aku tidak mengerti, dia sering mengerjai ku dan aku tidak mau itu terjadi lagi.


"Dewi dengan Dodo, proposal Penelitian!" serunya.


Aku sampai terkejut mendengar itu, aku menoleh ke arah Dewi dan dia tampak membuka matanya dan tersenyum senang.


"Yes, terimakasih ya Tuhan!" ujar Dewi girang.


Wah, apa iya jika berdoa akan mendapatkan kemudahan seperti Dewi? dia satu kelompok dengan Dodo itu seperti mendapatkan door prize saja.


"Dan yang terakhir, saya dengan Rasti, proposal bisnis!" seru Marco.


"What?" pekik ku refleks.


Dewi langsung menyenggol bahu ku membuatku tersadar kalau Bu Tari sedang menatap tajam ke arah ku.

__ADS_1


"Ada apa Rasti, ada masalah?" tanya Bu Tari.


Aku langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan cepat.


"Tidak Bu, tidak ada!" jawab ku gugup.


"Baiklah, sekarang kalian buka dulu halaman 107, disana ada pengertian masing-masing proposal yang akan kalian buat, ibu akan memberikan kalian waktu dua hari. Sampai pertemuan kita selanjutnya. Dan ingat, untuk belajar lebih giat lagi, untuk ujian kenaikan kelas kalian hari Senin depan ya, ini sudah hari Rabu. Kalian tidak boleh lengah, jaga kesehatan...!"


Bu Tari melanjutkan pelajaran dan kami menyimaknya. Tugas proposal dalam dua hari dengan Marco, ini benar-benar ujian.


Pelajaran pertama dan kedua selesai, bel istirahat berbunyi. Aku mengeluarkan kotak bekal yang aku bawa dari rumah.


"Lu bawa bekal? mau makan disini apa di kantin?" tanya Nina yang sudah berdiri di depan ku bersama Yusita dan Dewi.


"Kalian bertiga aja yang ke kantin, gue mau makan di taman belakang. Mau nyari pencerahan gue!" jawab ku asal.


Dan ketiga teman ku itu langsung terkekeh.


"Pencerahan karena lu satu kelompok sama Marco?" tanya Dewi.


"Huh, bisa di jajah lagi kan gue!" keluh ku dan mereka malah terkekeh lagi.


"Ya udah, kita ke kantin dulu ya!" ucap Dewi dan mereka bertiga pun pergi ke kantin.


Aku membawa kotak bekal ku dan berjalan menuju taman belakang, aku mau makan sambil memberi makan ikan mas koki milik istrinya pak Anteng.


Ketika aku sampai di taman belakang, lagi-lagi rumah pak Anteng tertutup. Biasanya sih tidak, dan dari pagi aku juga tidak lihat pak Anteng di depan gerbang.


Aku langsung duduk di bangku panjang di dekat kolam, aku menyobek roti isi di dalam kotak bekal ku dan memotong sobekan kecil itu menjadi remahan lalu ku taburkan ke dalam kolam.


Ikan-ikan mas koki itu langsung bergerumul dan menghampiri remahan roti yang aku tabur ke dalam kolam. Sambil melihat mereka makan aku pun ikut makan.


Aku mengunyah roti yang ada di dalam mulut ku, rasanya berbeda dari buatan bibi yang biasanya.


"Ini kenapa rasanya beda ya?" gumam ku.


Aku memperhatikan bentuk dan juga isi di dalamnya yang sepertinya sama dengan biasa nya.

__ADS_1


"Tapi ini enak!" gumam ku lagi lalu kembali memakan roti isi di dalam kotak bekal sampai habis.


"Ini, minumlah!" ucap seseorang sambil menyodorkan sebuah botol air mineral di depan ku.


Aku melihat ke arah botol itu lalu ke arah orang yang memberikannya padaku.


"Pak Yoga!"


"Minumlah, kamu makan tanpa minum. Itu tidak baik!" ucap nya lalu tanpa meminta ijin dia malah duduk di sampingku.


Aku meraih botol yang dia berikan, karena memang ada roti yang tersangkut di tenggorokan ku. Aku membuka botol minuman itu dan meminumnya sampai setengah.


"Terimakasih!" ucap ku dan segera berdiri.


Namun ketika aku akan melangkah,


"Bisa bicara sebentar Rasti, hanya sebentar!" ucap nya membuat aku menghentikan langkah ku.


Aku hanya diam, mematung di tempat ku berdiri.


"Apa saya boleh tahu, kenapa kamu menjauhi saya?" tanya pak Yoga padaku dan aku sungguh tidak bisa mengeluarkan apa yang sudah ada di ujung tenggorokan ku meski kata-kata itu sudah tersusun begitu rapi.


"Kamu terus menghindari saya, dan kamu meminta saya menjauhi kamu. Saya sudah berusaha, dan itu sangat sulit!" jelas nya lagi.


Rasanya aku ingin percaya kalau dia memang benar-benar menyukai ku kalau saja dia tidak akan segera menikah. Hatiku yang awalnya senang berada disini jadi ingin secepatnya berlari dari sini.


"Setidaknya beri saya alasan, kenapa kamu ingin saya menjauh dari kamu. Saya hanya ingin mendengar itu Rasti!" ucap nya lagi.


Aku berbalik menghadap ke arah pak Yoga yang saat ini menunjukkan wajah seriusnya padaku.


"Bapak benar tidak merasa telah melakukan sebuah kesalahan?" tanya ku dalam.


Pak Yoga berdiri dan menghampiri ku.


"Aku tahu, aku sudah minta maaf padamu atas hal itu, aku tidak bisa mengendalikan perasaan ku!" jawab nya.


"Bukan itu pak! tidak kah bapak merasa bersalah pada calon istri bapak?" tanya ku padanya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2